Bungkas News

Hasil Pencarian untuk: "inovasi"

Ditemukan 6 berita.

Terkini

Lamhot Sinaga: Untirta Punya Peran Strategis Menyiapkan SDM Unggul dari Banten untuk Indonesia

Jakarta, Bungkasnews.com — Ketua Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta) yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyampaikan ucapan selamat atas peringatan Dies Natalis ke-45 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).Lamhot berharap momentum 45 tahun perjalanan Untirta tidak hanya menjadi perayaan atas capaian yang telah diraih, tetapi juga menjadi titik tolak untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat, pembangunan Banten, dan kemajuan Indonesia."Selamat Dies Natalis ke-45 untuk Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh civitas akademika Untirta yang selama ini telah menjaga dan mengembangkan tradisi akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi," kata Lamhot dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).Menurut Lamhot, usia 45 tahun merupakan perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa Untirta telah menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan tinggi di Banten.Karena itu, ia berharap Untirta tidak berhenti pada pencapaian institusional, tetapi terus memperluas kontribusinya sehingga keberadaan kampus benar-benar dirasakan oleh masyarakat."Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi ruang untuk menghasilkan lulusan. Kampus harus menjadi pusat pengetahuan, pusat inovasi, sekaligus mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan," ujar Lamhot.Ia mengatakan, posisi Untirta menjadi semakin penting karena Banten merupakan salah satu provinsi dengan dinamika ekonomi yang sangat besar. Perkembangan industri, perdagangan, jasa, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga transformasi digital membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus kemampuan beradaptasi.Dalam konteks tersebut, menurut Lamhot, Untirta memiliki peluang besar untuk menjadi garda terdepan pendidikan tinggi di Banten yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional."Untirta harus menjadi salah satu lokomotif utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di Banten. Kampus ini harus mampu membaca perubahan zaman dan menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap masuk dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.Lamhot menilai hubungan antara pendidikan tinggi dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Kualitas pendidikan akan menentukan kualitas tenaga kerja, sementara kualitas tenaga kerja akan memengaruhi produktivitas dan daya saing ekonomi suatu daerah.Karena itu, ia berharap pengembangan Untirta ke depan semakin diarahkan pada penguatan riset, inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan kolaborasi dengan dunia industri."Kalau kita ingin ekonomi tumbuh secara berkelanjutan, maka fondasinya adalah manusia. Kita membutuhkan manusia yang terdidik, memiliki keterampilan, mampu berinovasi, dan mempunyai keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru," ujar Lamhot.Ia juga mendorong agar hasil penelitian dan inovasi yang lahir dari lingkungan Untirta tidak berhenti di ruang-ruang akademik. Pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi, kata dia, perlu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat digunakan masyarakat dan dunia usaha.Menurut Lamhot, kampus memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan industri."Riset harus memiliki kebermanfaatan. Inovasi harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Dan pendidikan harus memiliki keterhubungan dengan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat," katanya.Dalam pandangannya, tantangan perguruan tinggi ke depan juga semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan artifisial, otomasi, ekonomi digital, perubahan struktur industri, serta kebutuhan terhadap pekerjaan berbasis pengetahuan akan mengubah peta kompetensi tenaga kerja.Karena itu, Untirta perlu terus memperkuat ekosistem pembelajaran yang adaptif agar mahasiswa memiliki kemampuan akademik sekaligus keterampilan yang relevan dengan perubahan dunia kerja."Mahasiswa Untirta harus dipersiapkan bukan hanya untuk menghadapi dunia hari ini, tetapi juga dunia sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, teknologi, kewirausahaan, dan karakter harus berjalan bersama," ujar Lamhot.Lamhot juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara Untirta dan para alumninya. Menurut dia, alumni merupakan bagian dari ekosistem perguruan tinggi yang dapat memberikan kontribusi melalui pengalaman profesional, jejaring, mentoring, kerja sama, maupun dukungan terhadap pengembangan kampus.Sebagai Ketua IKA Untirta, Lamhot mengatakan bahwa organisasi alumni memiliki tanggung jawab untuk ikut memperkuat hubungan antara kampus dan dunia profesional."IKA Untirta harus menjadi jembatan yang mempertemukan potensi kampus dengan pengalaman para alumni. Kita ingin alumni tidak hanya datang ketika ada acara seremonial, tetapi juga hadir dalam pengembangan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, jejaring industri, dan pengabdian kepada masyarakat," katanya.Ia berharap sinergi antara civitas akademika, alumni, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat semakin diperkuat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar perguruan tinggi tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan pembangunan.Lamhot mengatakan, pembangunan pendidikan pada akhirnya bukan hanya mengenai pembangunan gedung, peningkatan jumlah mahasiswa, atau bertambahnya program studi. Lebih dari itu, pembangunan pendidikan harus tercermin dari kemampuan sebuah perguruan tinggi menghasilkan manusia dan pengetahuan yang memberikan dampak nyata."Ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya seberapa besar institusinya berkembang, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap masyarakat dan bangsa," ujar dia.Dalam konteks Banten, Lamhot berharap Untirta dapat menjadi pusat pengembangan gagasan dan inovasi yang mampu memperkuat daya saing daerah. Kampus diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap berbagai sektor strategis, mulai dari industri, ekonomi kreatif,UMKM, teknologi, lingkungan, hingga pengembangan masyarakat.Ia juga berharap lulusan Untirta dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi baru di Banten dan berdampak secara nasional. Tidak seluruh lulusan harus berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga didorong menjadi pencipta lapangan kerja melalui kewirausahaan dan inovasi."Kalau setiap tahun lahir generasi muda yang memiliki kemampuan menciptakan usaha, mengembangkan teknologi, dan membangun inovasi, maka kampus secara tidak langsung ikut menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi baru," kata Lamhot.Menurut dia, kontribusi tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak bagi Banten. Perguruan tinggi daerah yang mampu menghasilkan SDM berkualitas akan ikut memperkuat struktur sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.Lamhot berharap perjalanan 45 tahun Untirta menjadi fondasi untuk memasuki fase baru yang lebih kuat. Ia mendorong seluruh civitas akademika menjaga budaya akademik sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan."Selamat ulang tahun ke-45 untuk Untirta. Semoga semakin maju, semakin kuat, semakin terbuka terhadap inovasi, dan semakin besar kontribusinya bagi Banten dan Indonesia," ujar Lamhot.Ia menambahkan, IKA Untirta akan terus mendukung kemajuan almamater melalui berbagai bentuk kolaborasi yang memungkinkan. Menurut dia, kemajuan Untirta merupakan kepentingan bersama seluruh keluarga besar alumni."Sebagai alumni, tentu kami ingin melihat Untirta tumbuh menjadi perguruan tinggi yang semakin diperhitungkan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kemajuan itu memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat," kata Lamhot.Lamhot yang dikenal sebagai mantan aktivist kampus dan kepemudaan di level nasional ini pun mengajak seluruh civitas akademika Untirta menjadikan Dies Natalis ke-45 sebagai momentum untuk memperkuat optimisme dan semangat pengabdian."Empat puluh lima tahun adalah perjalanan yang panjang, tetapi masa depan masih jauh lebih panjang. Mari kita jadikan momentum ini untuk membangun Untirta yang semakin unggul, inovatif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan bangsa," ujar dia.

26 Sep 2026
Opini

Hidup Bukan Sekadar Menerima, Tapi Berani Bertanya

Bertanya Menghasilkan Inovasi, Kreativitas, dan Menciptakan SesuatuUBAY BAROKAH MRP | MahasiswaPernahkah kita bertanya, “Mengapa harus seperti ini?”, “Apakah ada cara yang lebih baik?”, atau bahkan “Bagaimana jika kita mencoba sesuatu yang berbeda?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sering kali menjadi awal dari sebuah perubahan besar.Bertanya bukan sekadar mencari jawaban. Bertanya adalah cara manusia membuka ruang berpikir. Ketika seseorang berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, ia sedang membuka kemungkinan untuk menemukan cara baru, gagasan baru, bahkan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada.Banyak inovasi lahir bukan karena seseorang sudah mengetahui semua jawabannya, tetapi karena ia berani mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum diketahui. Dari rasa ingin tahu itulah kreativitas tumbuh.Misalnya, ketika seseorang bertanya, “Mengapa pekerjaan ini harus dilakukan secara manual?”, pertanyaan tersebut dapat mendorong lahirnya teknologi yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Ketika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar masalah ini bisa diselesaikan?”, dari sana bisa muncul sebuah ide, produk, metode, atau gerakan sosial.Artinya, pertanyaan memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu yang awalnya dianggap biasa menjadi sesuatu yang lebih baik.Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, bertanya terkadang justru dianggap sebagai tanda tidak tahu atau kurang memahami. Padahal, tidak semua orang yang banyak bertanya adalah orang yang tidak tahu. Justru orang yang terus bertanya sering kali sedang berusaha memahami sesuatu secara lebih mendalam.Kita perlu membangun budaya yang tidak takut pada pertanyaan. Di ruang kelas, organisasi, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat, pertanyaan seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, pertanyaan harus menjadi pintu masuk bagi diskusi, evaluasi, inovasi, dan perubahan.Sebab, jika kita hanya menerima apa yang sudah ada tanpa pernah bertanya, kita mungkin hanya akan menjadi pengikut keadaan. Tetapi ketika kita berani bertanya, kita mulai memiliki kesempatan untuk menjadi pencipta perubahan.Pertanyaan adalah awal dari kreativitas. Kreativitas melahirkan gagasan. Gagasan melahirkan inovasi. Dan inovasi dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.Karena itu, jangan takut bertanya. Bisa jadi, pertanyaan sederhana yang hari ini muncul di dalam pikiran kita justru menjadi awal dari sesuatu yang besar di masa depan.

04 Sep 2026
Gaya Hidup

China Batasi AI Companion, Khawatir Relasi Tergantikan

BEIJING, BungkasNews — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai teman virtual semakin berkembang di China. Namun, pemerintah mulai memperketat penggunaan layanan AI companion di China karena khawatir interaksi emosional dengan chatbot dapat membuat pengguna semakin bergantung pada teknologi dan menjauh dari hubungan sosial di dunia nyata.Dilansir dari The Guardian, sejumlah pengguna di China telah membangun hubungan emosional yang kuat dengan karakter AI yang mereka ciptakan melalui aplikasi chatbot. Salah satunya adalah Zhao Wei, mahasiswa hukum berusia 19 tahun yang merasa sangat terpukul setelah fitur AI companion yang digunakannya dihentikan.Zhao mengaku terbiasa berbicara dengan AI setiap hari dan menceritakan berbagai persoalan pribadinya. Ia merasa lebih bebas berbicara kepada chatbot karena tidak khawatir akan dihakimi atau membebani teman-temannya. Namun, perkembangan hubungan emosional manusia dengan AI mulai menimbulkan perhatian pemerintah China. Aturan baru yang berlaku sejak 15 Juli 2026 melarang layanan AI companion untuk anak di bawah umur serta memberikan pembatasan terhadap layanan yang dirancang untuk membangun hubungan emosional berkelanjutan dengan pengguna. Pemerintah China menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan AI mendorong ketergantungan emosional dan kecanduan, termasuk layanan yang berpotensi menggantikan interaksi sosial manusia.AI dan Masalah KesepianFenomena AI companion di China muncul ketika negara tersebut juga menghadapi persoalan sosial dan demografis. Kesepian, perubahan pola hubungan sosial, rendahnya angka pernikahan, serta penurunan angka kelahiran menjadi tantangan yang semakin diperhatikan.Menurut laporan The Guardian, sekitar 20 persen rumah tangga di China saat ini terdiri dari orang yang tinggal sendiri. Angka tersebut diperkirakan dapat melampaui 30 persen pada 2030. Sebuah survei yang diterbitkan media pemerintah pada awal 2026 juga menemukan hampir separuh anak muda yang disurvei pernah menggunakan teman virtual ketika merasa kesepian. Kondisi tersebut membuat muncul pertanyaan apakah AI companion dapat menjadi alternatif yang terlalu nyaman bagi sebagian orang dibandingkan membangun hubungan dengan manusia.Nancy Dai, profesor madya di City University of Hong Kong, mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesepian. Menurutnya, di tengah menurunnya angka pernikahan dan kelahiran, ada kekhawatiran bahwa hubungan dengan AI yang relatif murah dan mudah diakses dapat membuat sebagian anak muda semakin tidak tertarik mencari pasangan, menikah, atau membangun keluarga. Meski demikian, belum ada bukti yang dapat memastikan bahwa penggunaan AI companion secara langsung menyebabkan seseorang tidak ingin menikah atau memiliki anak. Hubungan tersebut masih menjadi topik yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.AI Tetap Didorong di Sektor LainMenariknya, pembatasan terhadap AI companion tidak berarti China menghentikan pengembangan teknologi AI secara keseluruhan.Pemerintah China justru terus mendorong pemanfaatan AI di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan. Salah satu contohnya adalah penggunaan aplikasi kesehatan berbasis AI yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan avatar dokter untuk mendapatkan informasi kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya pendekatan yang berbeda terhadap AI. Teknologi tersebut tetap dianggap memiliki manfaat besar bagi masyarakat, tetapi penggunaannya dalam hubungan emosional mendapatkan perhatian khusus.Penelitian yang diterbitkan di Nature Human Behaviour pada Agustus 2026 juga menunjukkan bahwa hubungan dengan AI companion dapat memberikan manfaat emosional bagi sebagian pengguna, tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dapat berbeda tergantung pada pola penggunaan dan kondisi pengguna. Dengan demikian, perdebatan mengenai AI companion di China bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan hubungan sosial manusia. Pemerintah harus mencari keseimbangan antara mendorong inovasi AI dan memastikan teknologi tersebut tidak menciptakan ketergantungan yang merugikan pengguna.Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa AI dapat menjadi alat bantu maupun teman berbicara, tetapi hubungan sosial dengan manusia tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.Sumber: The Guardian

26 Aug 2026
Gaya Hidup

Pengusaha Tunanetra Mesir Ciptakan AI untuk Melihat Dunia

KAIRO, BungkasNews — Kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu contohnya datang dari Mesir, ketika seorang pengusaha yang kehilangan penglihatannya mengembangkan aplikasi berbasis AI untuk membantu dirinya dan pengguna lain mengenali dunia melalui deskripsi suara.Dilansir dari Reuters, Mark Morad kehilangan penglihatannya secara bertahap dalam waktu sekitar tiga tahun. Kondisi tersebut kemudian mendorongnya untuk mencari cara agar teknologi dapat membantu penyandang tunanetra memperoleh informasi visual mengenai lingkungan sekitar.Morad kemudian mengembangkan sebuah aplikasi yang memanfaatkan teknologi AI untuk menggambarkan objek dan situasi yang berada di depan pengguna. Informasi visual tersebut kemudian disampaikan dalam bentuk audio sehingga dapat didengar oleh pengguna.Teknologi tersebut bahkan memberikan pengalaman berbeda bagi adiknya, Karen Morad, seorang siswi berusia 16 tahun yang juga kehilangan penglihatannya sekitar lima tahun lalu.Saat melakukan perjalanan ke Kenya pada Juni 2026, Karen menggunakan aplikasi yang dikembangkan kakaknya. Teknologi tersebut membantunya memperoleh gambaran mengenai suasana safari yang sedang dikunjunginya melalui deskripsi audiovisual.AI Membantu Mengenali LingkunganKonsep aplikasi tersebut pada dasarnya memanfaatkan kamera dan teknologi AI untuk menganalisis lingkungan. Sistem kemudian mengubah informasi visual menjadi deskripsi yang dapat dipahami melalui suara.Bagi penyandang tunanetra, kemampuan tersebut dapat memberikan informasi tambahan mengenai benda, orang, kondisi jalan, maupun berbagai situasi yang berada di sekitar mereka.Pengembangan teknologi ini juga menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi seseorang dapat menjadi dorongan untuk menciptakan inovasi yang memiliki manfaat sosial.Mark Morad tidak hanya mengembangkan teknologi untuk kebutuhan dirinya sendiri. Aplikasi tersebut telah digunakan oleh ribuan pengguna, termasuk adiknya sendiri.Teknologi untuk AksesibilitasPerkembangan AI selama beberapa tahun terakhir telah membuka berbagai kemungkinan dalam membantu kelompok penyandang disabilitas. Teknologi pengenalan gambar, pemrosesan bahasa, dan sintesis suara dapat digabungkan untuk menciptakan alat bantu yang sebelumnya sulit diwujudkan.Namun, teknologi semacam ini tetap memiliki keterbatasan. Sistem AI dapat melakukan kesalahan dalam mengenali objek atau memahami kondisi lingkungan. Karena itu, aplikasi tersebut lebih tepat dipandang sebagai alat bantu tambahan, bukan sebagai pengganti seluruh fungsi pendamping manusia.Kisah Morad juga memperlihatkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus lahir dari perusahaan teknologi raksasa. Kebutuhan yang dialami secara langsung dapat menjadi pemicu munculnya solusi baru yang kemudian memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas.Perjalanan Morad dalam mengembangkan aplikasi tersebut membutuhkan waktu hampir dua tahun setelah ia mulai kehilangan penglihatannya. Reuters melaporkan bahwa proses pengembangan teknologi itu merupakan bagian dari upayanya untuk tetap dapat berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.Dengan semakin berkembangnya kemampuan AI, teknologi seperti ini berpotensi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Penyandang tunanetra dapat memperoleh akses terhadap informasi visual secara lebih mandiri, sementara teknologi terus dikembangkan agar mampu memberikan deskripsi yang semakin akurat dan bermanfaat.Kisah dari Mesir tersebut menjadi salah satu contoh bahwa AI bukan hanya digunakan untuk pekerjaan, bisnis, atau hiburan, tetapi juga dapat diarahkan untuk membantu manusia menghadapi keterbatasan dan meningkatkan akses terhadap informasi.Sumber: Reuters

26 Aug 2026
Nasional

Buka IITS 2026, Pramono Dorong Kolaborasi Atasi Persoalan Transportasi

JAKARTA, BungkasNews — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong penguatan kolaborasi dalam menangani berbagai persoalan transportasi perkotaan. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).Dilansir dari Beritajakarta.id, Pramono menyampaikan bahwa forum IITS 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan.Menurut Pramono, persoalan transportasi tidak hanya menjadi tantangan bagi Jakarta, tetapi juga dihadapi berbagai kota di dunia. Tantangannya mencakup kemacetan, perluasan akses transportasi, hingga upaya mengurangi polusi dan emisi.Jakarta saat ini memiliki sekitar 11,1 juta penduduk, sementara kawasan penyangga dihuni sekitar 41,9 juta jiwa. Tingginya mobilitas masyarakat tersebut memberikan tekanan terhadap sistem transportasi perkotaan.Di sisi lain, layanan transportasi publik di Jakarta telah menjangkau sekitar 92 persen penduduk. Namun, sektor transportasi masih menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Jakarta, dengan kontribusi sekitar 52 persen dari emisi langsung pada 2024.Karena itu, Pramono mendorong masyarakat untuk menjadikan transportasi publik sebagai pilihan utama dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menempatkan transformasi transportasi sebagai bagian dari agenda menuju kota rendah karbon.Pemprov DKI menargetkan Jakarta mencapai Net Zero Emission pada 2050, menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030, serta meningkatkan penggunaan transportasi publik hingga 55 persen pada 2044.Selain memperluas layanan transportasi publik, Pemprov DKI juga mengembangkan kawasan Transit Oriented Development (TOD), menyediakan akses transportasi gratis bagi 15 golongan masyarakat, serta meningkatkan fasilitas bagi pejalan kaki.Dalam upaya elektrifikasi transportasi publik, Jakarta telah mengoperasikan sekitar 500 bus listrik dan menargetkan 10.047 bus listrik pada 2030.Pramono menegaskan bahwa transformasi transportasi membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, inovator teknologi, dan masyarakat.Ia berharap IITS 2026 dapat memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi, serta membuka peluang investasi transportasi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.

21 Aug 2026
Opini

Pressure is Previllage

Pernahkah Anda merasa ingin melempar laptop, keluar dari grup koordinasi organisasi, atau sekadar menghilang saat tumpukan tugas dan ekspektasi mulai mencekik leher? Bagi banyak mahasiswa dan pelajar saat ini, tekanan sering kali dianggap sebagai "musuh" yang harus dihindari demi kesehatan mental. Fenomena “quit-culture” atau kecenderungan untuk menyerah saat situasi mulai memanas menjadi pelarian yang makin umum. Kita sering merasa menjadi korban dari keadaan, padahal di balik rasa sesak itu, ada sebuah pengakuan tersirat dari dunia bahwa Anda adalah sosok yang mampu.​Realitanya, fenomena tekanan mental di kalangan akademisi muda memang meningkat. Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja. Di sisi lain, tren “Quiet Quitting” dan rendahnya resiliensi (daya lenting) menjadi tantangan besar di dunia kerja maupun kampus. Banyak yang salah mengartikan "ketenangan" dengan "ketiadaan beban", padahal sejarah mencatat bahwa inovasi terbesar manusia lahir dari tekanan yang luar biasa mulai dari penemuan vaksin di tengah pandemi hingga lahirnya gerakan reformasi dari tangan mahasiswa yang terhimpit keadaan.​Tekanan sebagai "Surat Kepercayaan"​Kita harus berani membedah ulang makna tekanan. Mengapa seorang dosen memberikan revisi yang tajam pada skripsi Anda? Mengapa sebuah organisasi mempercayakan tanggung jawab besar pada pundak Anda? Jawabannya sederhana: karena mereka melihat potensi yang bisa digali. Dunia tidak akan membuang energi untuk menekan sesuatu yang tidak memiliki nilai. Jika Anda tidak memiliki kapasitas, Anda akan diabaikan. Maka, merasa tertekan sebenarnya adalah indikator bahwa Anda masih relevan, masih diperhitungkan, dan masih memiliki peran penting dalam ekosistem Anda.​Pernahkah Mendengar: Pressure is a Privilege?​Legenda tenis dunia, Billie Jean King, pernah berucap: "Pressure is a privilege." Kalimat ini bukan sekadar kata mutiara, melainkan sebuah perubahan paradigma. King menegaskan bahwa tekanan biasanya datang kepada mereka yang memiliki kesempatan untuk membuat perbedaan. Tekanan adalah hak istimewa yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berada di "lapangan permainan", bukan penonton di tribun yang hanya bisa melihat tanpa beban. Saat Anda merasa tertekan, itu adalah bukti bahwa Anda sedang memegang kendali atas sesuatu yang berharga.​Mengelola, Bukan Menghindari​Menjadikan tekanan sebagai privilese bukan berarti kita harus mengabaikan kesehatan mental. Solusinya adalah dengan Regulasi Emosi dan Manajemen Energi:​Re-framing: Ubah narasi "Aku harus melakukan ini" menjadi "Aku beruntung diberikan kesempatan untuk melakukan ini."​Metode Micro-Steps: Pecah tekanan besar menjadi tugas-tugas kecil yang bisa dikelola agar otak tidak mengalami freeze.​Filter Ekspektasi: Bedakan mana tekanan yang membangun (untuk pertumbuhan diri) dan mana tekanan yang toksik (yang merusak integritas).​Dengan mengubah sudut pandang ini, pembaca terutama rekan-rekan mahasiswa tidak lagi melihat tantangan sebagai beban yang menghancurkan, melainkan sebagai "bahan bakar" untuk naik kelas. Anda akan memiliki daya tahan (grit) yang lebih kuat, mentalitas pemimpin yang tangguh, dan yang terpenting: rasa syukur di tengah kesibukan. Ingatlah, berlian hanya bisa terbentuk di bawah tekanan yang ekstrem. Jika hari ini Anda merasa tertekan, selamatvdunia sedang mempersiapkan Anda untuk menjadi sesuatu yang berkilau.

17 Aug 2026