KAIRO, BungkasNews — Kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu contohnya datang dari Mesir, ketika seorang pengusaha yang kehilangan penglihatannya mengembangkan aplikasi berbasis AI untuk membantu dirinya dan pengguna lain mengenali dunia melalui deskripsi suara.
Dilansir dari Reuters, Mark Morad kehilangan penglihatannya secara bertahap dalam waktu sekitar tiga tahun. Kondisi tersebut kemudian mendorongnya untuk mencari cara agar teknologi dapat membantu penyandang tunanetra memperoleh informasi visual mengenai lingkungan sekitar.
Morad kemudian mengembangkan sebuah aplikasi yang memanfaatkan teknologi AI untuk menggambarkan objek dan situasi yang berada di depan pengguna. Informasi visual tersebut kemudian disampaikan dalam bentuk audio sehingga dapat didengar oleh pengguna.
Teknologi tersebut bahkan memberikan pengalaman berbeda bagi adiknya, Karen Morad, seorang siswi berusia 16 tahun yang juga kehilangan penglihatannya sekitar lima tahun lalu.
Saat melakukan perjalanan ke Kenya pada Juni 2026, Karen menggunakan aplikasi yang dikembangkan kakaknya. Teknologi tersebut membantunya memperoleh gambaran mengenai suasana safari yang sedang dikunjunginya melalui deskripsi audiovisual.
AI Membantu Mengenali Lingkungan
Konsep aplikasi tersebut pada dasarnya memanfaatkan kamera dan teknologi AI untuk menganalisis lingkungan. Sistem kemudian mengubah informasi visual menjadi deskripsi yang dapat dipahami melalui suara.
Bagi penyandang tunanetra, kemampuan tersebut dapat memberikan informasi tambahan mengenai benda, orang, kondisi jalan, maupun berbagai situasi yang berada di sekitar mereka.
Pengembangan teknologi ini juga menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi seseorang dapat menjadi dorongan untuk menciptakan inovasi yang memiliki manfaat sosial.
Mark Morad tidak hanya mengembangkan teknologi untuk kebutuhan dirinya sendiri. Aplikasi tersebut telah digunakan oleh ribuan pengguna, termasuk adiknya sendiri.
Teknologi untuk Aksesibilitas
Perkembangan AI selama beberapa tahun terakhir telah membuka berbagai kemungkinan dalam membantu kelompok penyandang disabilitas. Teknologi pengenalan gambar, pemrosesan bahasa, dan sintesis suara dapat digabungkan untuk menciptakan alat bantu yang sebelumnya sulit diwujudkan.
Namun, teknologi semacam ini tetap memiliki keterbatasan. Sistem AI dapat melakukan kesalahan dalam mengenali objek atau memahami kondisi lingkungan. Karena itu, aplikasi tersebut lebih tepat dipandang sebagai alat bantu tambahan, bukan sebagai pengganti seluruh fungsi pendamping manusia.
Kisah Morad juga memperlihatkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus lahir dari perusahaan teknologi raksasa. Kebutuhan yang dialami secara langsung dapat menjadi pemicu munculnya solusi baru yang kemudian memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas.
Perjalanan Morad dalam mengembangkan aplikasi tersebut membutuhkan waktu hampir dua tahun setelah ia mulai kehilangan penglihatannya. Reuters melaporkan bahwa proses pengembangan teknologi itu merupakan bagian dari upayanya untuk tetap dapat berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Dengan semakin berkembangnya kemampuan AI, teknologi seperti ini berpotensi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Penyandang tunanetra dapat memperoleh akses terhadap informasi visual secara lebih mandiri, sementara teknologi terus dikembangkan agar mampu memberikan deskripsi yang semakin akurat dan bermanfaat.
Kisah dari Mesir tersebut menjadi salah satu contoh bahwa AI bukan hanya digunakan untuk pekerjaan, bisnis, atau hiburan, tetapi juga dapat diarahkan untuk membantu manusia menghadapi keterbatasan dan meningkatkan akses terhadap informasi.
Sumber: Reuters