Bungkas News

Kategori: Gaya Hidup

Menampilkan 3 berita terbaru.

Gaya Hidup

Ilmuwan Nepal menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit menyebar.

KATHMANDU, BungkasNews — Perjalanan Naveen Vaidya dari sebuah desa di Sindhuli, Nepal, hingga menjadi profesor di San Diego State University (SDSU), Amerika Serikat, menjadi kisah tentang ketekunan, pendidikan, dan kontribusi ilmiah dalam memahami bagaimana penyakit menyebar.Dilansir dari Onlinekhabar English, Naveen Vaidya merupakan ilmuwan yang menggunakan matematika untuk mempelajari dinamika penyakit. Melalui pemodelan matematika, ia meneliti berbagai penyakit dan virus, termasuk HIV, hepatitis, Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, serta lumpy skin disease.Perjalanan Vaidya menuju dunia penelitian internasional tidak dimulai dari laboratorium dengan fasilitas lengkap. Ia tumbuh di Jhangajholi, Ratmata, Sindhuli, dalam kondisi keluarga yang sederhana.Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, meninggal ketika Vaidya masih kecil. Setelah itu, ibunya menjadi tumpuan utama keluarga. Sang ibu bekerja di ladang dan melakukan berbagai pekerjaan untuk memastikan anak-anaknya tetap dapat memperoleh pendidikan.Sejak kecil, Vaidya dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia harus berjalan sekitar satu jam melalui kawasan berbukit untuk mencapai sekolah. Di rumah, ia belajar dengan penerangan lampu minyak tanah yang minim.Kesulitan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pendidikan justru menjadi jalan yang membawanya keluar dari keterbatasan.Dari Kathmandu Menuju Amerika SerikatSetelah menyelesaikan pendidikan dasar, Vaidya pindah ke Kathmandu untuk melanjutkan pendidikan. Ia belajar sambil bekerja paruh waktu.Ia menempuh pendidikan sains di Patan Multiple Campus, kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana di Tri-Chandra College dan meraih gelar magister matematika dari Amrit Science Campus.Vaidya juga sempat mengajar matematika di sekolah dan perguruan tinggi di Kathmandu. Namun, keinginannya untuk melakukan penelitian lebih jauh membuatnya mencari kesempatan di luar Nepal.Ia kemudian melanjutkan pendidikan di York University, Kanada. Di sana, Vaidya mempelajari matematika industri dan terapan sebelum melanjutkan pendidikan doktoral.Penelitian doktoralnya berfokus pada pemodelan matematika mengenai fusi membran antara virus influenza dan sel manusia. Penelitian tersebut kemudian membawanya meraih Susan Mann Dissertation Award dari York University.Setelah menyelesaikan doktoralnya, Vaidya melanjutkan penelitian di sejumlah lembaga di Amerika Serikat dan Kanada. Ia pernah melakukan penelitian pascadoktoral di Los Alamos National Laboratory dan kemudian bergabung dengan University of Missouri-Kansas City sebagai asisten profesor.Pada 2017, ia bergabung dengan San Diego State University dan hingga kini menjadi profesor di universitas tersebut. ))Matematika untuk Memahami PenyakitBerbeda dari dokter yang menangani pasien secara langsung, Naveen Vaidya menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit berkembang dan menyebar pada populasi maupun di dalam tubuh.Penelitiannya mencakup berbagai penyakit menular. Ia menggunakan model matematika untuk menganalisis dinamika penyakit dan menghasilkan informasi yang dapat membantu memahami strategi pengendalian penyakit.Penelitian Vaidya juga tidak terbatas pada penyakit yang terjadi di Amerika Utara. Ia menggunakan data dari Nepal untuk mengembangkan model terkait Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, dan lumpy skin disease.Menurut laporan Onlinekhabar English, kiprahnya dalam penelitian telah menghasilkan empat hibah dari National Science Foundation, dua hibah Simons Foundation, serta lebih dari 20 hibah penelitian internasional.Karyanya telah diterbitkan dalam lebih dari 61 jurnal internasional dan ia telah menyampaikan lebih dari 125 presentasi penelitian di berbagai negara, termasuk sebagai pembicara utama.Tetap Berkontribusi untuk NepalMeski membangun karier di Amerika Serikat, Vaidya tetap mempertahankan hubungan kuat dengan Nepal.Ia terlibat dalam upaya mempertemukan mahasiswa dan peneliti Nepal dengan jaringan ilmiah internasional. Salah satu kegiatannya adalah membantu membangun kerja sama penelitian antara institusi Nepal dan San Diego State University.Pada 2019, ia turut terlibat dalam CIMPA Summer School in Mathematical Biology di Nepal. Program tersebut menjadi salah satu wadah bagi peneliti dan mahasiswa untuk mempresentasikan penelitian serta membangun kerja sama dengan ilmuwan dari negara lain.Kerja sama tersebut kemudian membantu memperkuat hubungan antara Tribhuvan University dan San Diego State University.Sejumlah mahasiswa Nepal juga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral melalui jaringan kerja sama tersebut.Pada 2023, Vaidya bersama koleganya mendirikan Mathematical Biology Research Centre Nepal. Berbagai program internasional juga terus dilakukan untuk memperkuat komunitas penelitian matematika dan biologi di Nepal.Vaidya bahkan rutin mengadakan pertemuan daring dengan kelompok penelitinya di Nepal. Pertemuan yang berlangsung setiap pekan tersebut menjadi ruang untuk membahas penelitian, bertukar gagasan, dan merancang proyek ilmiah berikutnya.Perjalanan Naveen Vaidya menunjukkan bagaimana pendidikan dan penelitian dapat menjadi jembatan dari sebuah desa di Nepal menuju komunitas ilmiah internasional. Di tengah kariernya di Amerika Serikat, ia tetap berupaya membuka kesempatan bagi generasi peneliti berikutnya di Nepal.Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa penelitian matematika dapat memiliki peran penting dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mempelajari pola penyebaran penyakit dan merancang strategi pengendaliannya.Sumber: Onlinekhabar English

31 Aug 2026
Gaya Hidup

China Batasi AI Companion, Khawatir Relasi Tergantikan

BEIJING, BungkasNews — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai teman virtual semakin berkembang di China. Namun, pemerintah mulai memperketat penggunaan layanan AI companion di China karena khawatir interaksi emosional dengan chatbot dapat membuat pengguna semakin bergantung pada teknologi dan menjauh dari hubungan sosial di dunia nyata.Dilansir dari The Guardian, sejumlah pengguna di China telah membangun hubungan emosional yang kuat dengan karakter AI yang mereka ciptakan melalui aplikasi chatbot. Salah satunya adalah Zhao Wei, mahasiswa hukum berusia 19 tahun yang merasa sangat terpukul setelah fitur AI companion yang digunakannya dihentikan.Zhao mengaku terbiasa berbicara dengan AI setiap hari dan menceritakan berbagai persoalan pribadinya. Ia merasa lebih bebas berbicara kepada chatbot karena tidak khawatir akan dihakimi atau membebani teman-temannya. Namun, perkembangan hubungan emosional manusia dengan AI mulai menimbulkan perhatian pemerintah China. Aturan baru yang berlaku sejak 15 Juli 2026 melarang layanan AI companion untuk anak di bawah umur serta memberikan pembatasan terhadap layanan yang dirancang untuk membangun hubungan emosional berkelanjutan dengan pengguna. Pemerintah China menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan AI mendorong ketergantungan emosional dan kecanduan, termasuk layanan yang berpotensi menggantikan interaksi sosial manusia.AI dan Masalah KesepianFenomena AI companion di China muncul ketika negara tersebut juga menghadapi persoalan sosial dan demografis. Kesepian, perubahan pola hubungan sosial, rendahnya angka pernikahan, serta penurunan angka kelahiran menjadi tantangan yang semakin diperhatikan.Menurut laporan The Guardian, sekitar 20 persen rumah tangga di China saat ini terdiri dari orang yang tinggal sendiri. Angka tersebut diperkirakan dapat melampaui 30 persen pada 2030. Sebuah survei yang diterbitkan media pemerintah pada awal 2026 juga menemukan hampir separuh anak muda yang disurvei pernah menggunakan teman virtual ketika merasa kesepian. Kondisi tersebut membuat muncul pertanyaan apakah AI companion dapat menjadi alternatif yang terlalu nyaman bagi sebagian orang dibandingkan membangun hubungan dengan manusia.Nancy Dai, profesor madya di City University of Hong Kong, mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesepian. Menurutnya, di tengah menurunnya angka pernikahan dan kelahiran, ada kekhawatiran bahwa hubungan dengan AI yang relatif murah dan mudah diakses dapat membuat sebagian anak muda semakin tidak tertarik mencari pasangan, menikah, atau membangun keluarga. Meski demikian, belum ada bukti yang dapat memastikan bahwa penggunaan AI companion secara langsung menyebabkan seseorang tidak ingin menikah atau memiliki anak. Hubungan tersebut masih menjadi topik yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.AI Tetap Didorong di Sektor LainMenariknya, pembatasan terhadap AI companion tidak berarti China menghentikan pengembangan teknologi AI secara keseluruhan.Pemerintah China justru terus mendorong pemanfaatan AI di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan. Salah satu contohnya adalah penggunaan aplikasi kesehatan berbasis AI yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan avatar dokter untuk mendapatkan informasi kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya pendekatan yang berbeda terhadap AI. Teknologi tersebut tetap dianggap memiliki manfaat besar bagi masyarakat, tetapi penggunaannya dalam hubungan emosional mendapatkan perhatian khusus.Penelitian yang diterbitkan di Nature Human Behaviour pada Agustus 2026 juga menunjukkan bahwa hubungan dengan AI companion dapat memberikan manfaat emosional bagi sebagian pengguna, tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dapat berbeda tergantung pada pola penggunaan dan kondisi pengguna. Dengan demikian, perdebatan mengenai AI companion di China bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan hubungan sosial manusia. Pemerintah harus mencari keseimbangan antara mendorong inovasi AI dan memastikan teknologi tersebut tidak menciptakan ketergantungan yang merugikan pengguna.Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa AI dapat menjadi alat bantu maupun teman berbicara, tetapi hubungan sosial dengan manusia tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.Sumber: The Guardian

26 Aug 2026
Gaya Hidup

Pengusaha Tunanetra Mesir Ciptakan AI untuk Melihat Dunia

KAIRO, BungkasNews — Kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu contohnya datang dari Mesir, ketika seorang pengusaha yang kehilangan penglihatannya mengembangkan aplikasi berbasis AI untuk membantu dirinya dan pengguna lain mengenali dunia melalui deskripsi suara.Dilansir dari Reuters, Mark Morad kehilangan penglihatannya secara bertahap dalam waktu sekitar tiga tahun. Kondisi tersebut kemudian mendorongnya untuk mencari cara agar teknologi dapat membantu penyandang tunanetra memperoleh informasi visual mengenai lingkungan sekitar.Morad kemudian mengembangkan sebuah aplikasi yang memanfaatkan teknologi AI untuk menggambarkan objek dan situasi yang berada di depan pengguna. Informasi visual tersebut kemudian disampaikan dalam bentuk audio sehingga dapat didengar oleh pengguna.Teknologi tersebut bahkan memberikan pengalaman berbeda bagi adiknya, Karen Morad, seorang siswi berusia 16 tahun yang juga kehilangan penglihatannya sekitar lima tahun lalu.Saat melakukan perjalanan ke Kenya pada Juni 2026, Karen menggunakan aplikasi yang dikembangkan kakaknya. Teknologi tersebut membantunya memperoleh gambaran mengenai suasana safari yang sedang dikunjunginya melalui deskripsi audiovisual.AI Membantu Mengenali LingkunganKonsep aplikasi tersebut pada dasarnya memanfaatkan kamera dan teknologi AI untuk menganalisis lingkungan. Sistem kemudian mengubah informasi visual menjadi deskripsi yang dapat dipahami melalui suara.Bagi penyandang tunanetra, kemampuan tersebut dapat memberikan informasi tambahan mengenai benda, orang, kondisi jalan, maupun berbagai situasi yang berada di sekitar mereka.Pengembangan teknologi ini juga menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi seseorang dapat menjadi dorongan untuk menciptakan inovasi yang memiliki manfaat sosial.Mark Morad tidak hanya mengembangkan teknologi untuk kebutuhan dirinya sendiri. Aplikasi tersebut telah digunakan oleh ribuan pengguna, termasuk adiknya sendiri.Teknologi untuk AksesibilitasPerkembangan AI selama beberapa tahun terakhir telah membuka berbagai kemungkinan dalam membantu kelompok penyandang disabilitas. Teknologi pengenalan gambar, pemrosesan bahasa, dan sintesis suara dapat digabungkan untuk menciptakan alat bantu yang sebelumnya sulit diwujudkan.Namun, teknologi semacam ini tetap memiliki keterbatasan. Sistem AI dapat melakukan kesalahan dalam mengenali objek atau memahami kondisi lingkungan. Karena itu, aplikasi tersebut lebih tepat dipandang sebagai alat bantu tambahan, bukan sebagai pengganti seluruh fungsi pendamping manusia.Kisah Morad juga memperlihatkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus lahir dari perusahaan teknologi raksasa. Kebutuhan yang dialami secara langsung dapat menjadi pemicu munculnya solusi baru yang kemudian memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas.Perjalanan Morad dalam mengembangkan aplikasi tersebut membutuhkan waktu hampir dua tahun setelah ia mulai kehilangan penglihatannya. Reuters melaporkan bahwa proses pengembangan teknologi itu merupakan bagian dari upayanya untuk tetap dapat berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.Dengan semakin berkembangnya kemampuan AI, teknologi seperti ini berpotensi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Penyandang tunanetra dapat memperoleh akses terhadap informasi visual secara lebih mandiri, sementara teknologi terus dikembangkan agar mampu memberikan deskripsi yang semakin akurat dan bermanfaat.Kisah dari Mesir tersebut menjadi salah satu contoh bahwa AI bukan hanya digunakan untuk pekerjaan, bisnis, atau hiburan, tetapi juga dapat diarahkan untuk membantu manusia menghadapi keterbatasan dan meningkatkan akses terhadap informasi.Sumber: Reuters

26 Aug 2026