Bungkas News
Gaya Hidup

Ilmuwan Nepal menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit menyebar.

Oleh: rizky 31 Aug 2026, 11:37 WIB
Ilmuwan Nepal menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit menyebar.
Dr. Naveen Vaidya/Onlinekhabar

KATHMANDU, BungkasNews — Perjalanan Naveen Vaidya dari sebuah desa di Sindhuli, Nepal, hingga menjadi profesor di San Diego State University (SDSU), Amerika Serikat, menjadi kisah tentang ketekunan, pendidikan, dan kontribusi ilmiah dalam memahami bagaimana penyakit menyebar.

Dilansir dari Onlinekhabar English, Naveen Vaidya merupakan ilmuwan yang menggunakan matematika untuk mempelajari dinamika penyakit. Melalui pemodelan matematika, ia meneliti berbagai penyakit dan virus, termasuk HIV, hepatitis, Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, serta lumpy skin disease.

Perjalanan Vaidya menuju dunia penelitian internasional tidak dimulai dari laboratorium dengan fasilitas lengkap. Ia tumbuh di Jhangajholi, Ratmata, Sindhuli, dalam kondisi keluarga yang sederhana.

Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, meninggal ketika Vaidya masih kecil. Setelah itu, ibunya menjadi tumpuan utama keluarga. Sang ibu bekerja di ladang dan melakukan berbagai pekerjaan untuk memastikan anak-anaknya tetap dapat memperoleh pendidikan.

Sejak kecil, Vaidya dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia harus berjalan sekitar satu jam melalui kawasan berbukit untuk mencapai sekolah. Di rumah, ia belajar dengan penerangan lampu minyak tanah yang minim.

Kesulitan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pendidikan justru menjadi jalan yang membawanya keluar dari keterbatasan.

Dari Kathmandu Menuju Amerika Serikat

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Vaidya pindah ke Kathmandu untuk melanjutkan pendidikan. Ia belajar sambil bekerja paruh waktu.

Ia menempuh pendidikan sains di Patan Multiple Campus, kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana di Tri-Chandra College dan meraih gelar magister matematika dari Amrit Science Campus.

Vaidya juga sempat mengajar matematika di sekolah dan perguruan tinggi di Kathmandu. Namun, keinginannya untuk melakukan penelitian lebih jauh membuatnya mencari kesempatan di luar Nepal.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di York University, Kanada. Di sana, Vaidya mempelajari matematika industri dan terapan sebelum melanjutkan pendidikan doktoral.

Penelitian doktoralnya berfokus pada pemodelan matematika mengenai fusi membran antara virus influenza dan sel manusia. Penelitian tersebut kemudian membawanya meraih Susan Mann Dissertation Award dari York University.

Setelah menyelesaikan doktoralnya, Vaidya melanjutkan penelitian di sejumlah lembaga di Amerika Serikat dan Kanada. Ia pernah melakukan penelitian pascadoktoral di Los Alamos National Laboratory dan kemudian bergabung dengan University of Missouri-Kansas City sebagai asisten profesor.

Pada 2017, ia bergabung dengan San Diego State University dan hingga kini menjadi profesor di universitas tersebut. ))

Matematika untuk Memahami Penyakit

Berbeda dari dokter yang menangani pasien secara langsung, Naveen Vaidya menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit berkembang dan menyebar pada populasi maupun di dalam tubuh.

Penelitiannya mencakup berbagai penyakit menular. Ia menggunakan model matematika untuk menganalisis dinamika penyakit dan menghasilkan informasi yang dapat membantu memahami strategi pengendalian penyakit.

Penelitian Vaidya juga tidak terbatas pada penyakit yang terjadi di Amerika Utara. Ia menggunakan data dari Nepal untuk mengembangkan model terkait Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, dan lumpy skin disease.

Menurut laporan Onlinekhabar English, kiprahnya dalam penelitian telah menghasilkan empat hibah dari National Science Foundation, dua hibah Simons Foundation, serta lebih dari 20 hibah penelitian internasional.

Karyanya telah diterbitkan dalam lebih dari 61 jurnal internasional dan ia telah menyampaikan lebih dari 125 presentasi penelitian di berbagai negara, termasuk sebagai pembicara utama.

Tetap Berkontribusi untuk Nepal

Meski membangun karier di Amerika Serikat, Vaidya tetap mempertahankan hubungan kuat dengan Nepal.

Ia terlibat dalam upaya mempertemukan mahasiswa dan peneliti Nepal dengan jaringan ilmiah internasional. Salah satu kegiatannya adalah membantu membangun kerja sama penelitian antara institusi Nepal dan San Diego State University.

Pada 2019, ia turut terlibat dalam CIMPA Summer School in Mathematical Biology di Nepal. Program tersebut menjadi salah satu wadah bagi peneliti dan mahasiswa untuk mempresentasikan penelitian serta membangun kerja sama dengan ilmuwan dari negara lain.

Kerja sama tersebut kemudian membantu memperkuat hubungan antara Tribhuvan University dan San Diego State University.

Sejumlah mahasiswa Nepal juga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral melalui jaringan kerja sama tersebut.

Pada 2023, Vaidya bersama koleganya mendirikan Mathematical Biology Research Centre Nepal. Berbagai program internasional juga terus dilakukan untuk memperkuat komunitas penelitian matematika dan biologi di Nepal.

Vaidya bahkan rutin mengadakan pertemuan daring dengan kelompok penelitinya di Nepal. Pertemuan yang berlangsung setiap pekan tersebut menjadi ruang untuk membahas penelitian, bertukar gagasan, dan merancang proyek ilmiah berikutnya.

Perjalanan Naveen Vaidya menunjukkan bagaimana pendidikan dan penelitian dapat menjadi jembatan dari sebuah desa di Nepal menuju komunitas ilmiah internasional. Di tengah kariernya di Amerika Serikat, ia tetap berupaya membuka kesempatan bagi generasi peneliti berikutnya di Nepal.

Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa penelitian matematika dapat memiliki peran penting dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mempelajari pola penyebaran penyakit dan merancang strategi pengendaliannya.

Sumber: Onlinekhabar English