Bungkas News

Hasil Pencarian untuk: "Senja"

Ditemukan 3 berita.

Mahasiswa

Memperkuat Jiwa Kepemimpinan dan Nilai Gontor, Prodi HI UNIDA Gontor Gelar International Relations Leadership Course

Unida Gontor, Bungkasnews.com - Fakultas Humaniora melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HMP HI) Universitas Darussalam Gontor sukses menyelenggarakan kegiatan International Relations Leadership Course. Acara yang berlangsung pada Kamis malam, 17/9/2026, berlokasi di Hall Sirah Nabawiyah, Kampus Siman UNIDA Gontor.Mengusung tema “Building Visionary Leaders: Strengthening Leadership, Organizational Governance and Gontorian Values for Future International Relations Leaders”, agenda ini diwajibkan bagi seluruh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Semester 2 hingga Semester 8. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Kifah Gibraltar Bey Fananie, B.A., M.K.P.Dalam pemaparannya, Kifah Gibraltar Bey Fananie menekankan pentingnya bagi calon sarjana Hubungan Internasional untuk tidak hanya menguasai teori politik dan hubungan luar negeri secara akademis, tetapi juga memiliki ketahanan mental serta etika kepemimpinan yang matang.Beliau menggarisbawahi bahwa dinamika sosial dan politik, baik di tingkat nasional maupun internasional yang memerlukan kedewasaan sikap dan kematangan emosional.Dalam salah satu penyampaiannya, narasumber memberikan pesan mendalam terkait keterlibatan sosial dan politik:"Pada umumnya bersosialisasi dan pada khususnya berpolitik hanya di tenggorokan, jangan dimasukkan ke dalam hati."Pesan ini mengingatkan para mahasiswa agar mampu membedakan dinamika peran dalam berorganisasi atau berpolitik dengan hubungan personal, sehingga tidak mudah terbawa perasaan yang kontraproduktif.Lebih lanjut, pemateri mengajak para mahasiswa untuk memahami realitas dalam perjuangan berorganisasi dan kehidupan bermasyarakat. Menghadapi dinamika keputusan dan perubahan sikap orang lain memerlukan kedewasaan berpikir."Kita tidak pernah tahu alasan apa yang mereka pegang untuk kemudian beralih mengambil langkah-langkah tersebut. Karena di politik, bahkan di hidup kita ini, kita harus selalu menyiapkan dan menyisakan ruang untuk kecewa, tapi kita tidak boleh menyiapkan dan menyisakan ruang untuk menyerah," pungkas beliau di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.Poin inti yang turut menjadi sorotan utama dalam kuliah kepemimpinan ini adalah penanaman nilai ke-Gontor-an. Narasumber menegaskan prinsip dasar lembaga tempat para mahasiswa berteduh dan belajar."Berdiri dan untuk semua golongan itu adalah Gontor sebagai lembaga pendidikan, karena pendidikan harus berdiri di atas dan untuk semua golongan. Namun, bukan berarti sebagai alumni kita tidak aktif dan tidak boleh masuk di lini partai politik atau ormas tertentu. Bergeraklah sebagai alumni," terangnya.Prinsip ini menegaskan bahwa nilai netralitas dan inklusivitas institusi harus dijaga sebagai pondasi pendidikan, namun setelah menjadi alumni, para lulusan diharapkan dapat berperan aktif dan membawa warna positif di berbagai lini kemasyarakatan, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan.Melalui kegiatan ini, Fakultas Humaniora UNIDA Gontor berharap mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional dapat tumbuh menjadi pribadi yang berpandangan jauh ke depan (visioner), tangguh dalam menghadapi dinamika organisasi, serta senantiasa memegang teguh identitas dan nilai-nilai Gontorian.Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata. Antusiasme peserta yang memenuhi Hall Sirah Nabawiyah mencerminkan semangat generasi muda UNIDA Gontor untuk terus belajar dan bersiap menjadi pemimpin di kancah nasional maupun internasional.

20 Sep 2026
Puisi

Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju-Nya

Biarlah riuh dunia menjadi latar yang samar,Aku hanya ingin membiarkan renjana mengalir perlahan.Membaca aksara alam yang damai dan menikmati sepotong kebahagiaan sederhana yang disuguhkan semesta.Dan lentera bahagia itu ??Keindahanmu laksana insan yang tak henti menabur harsa pada semesta, demikian pula pada hredaya ini.  Sekelumit rasa ini adalah bagian dari kisah yang sedang kurangkai dengan sebuah judul "Senyap Bersama Senja" (coming soon in Wattpad) Begitulah kalimat yang dirangkai oleh seseorang dikala jatuh cinta. Dibalik untaian kata-kata tersebut tersimpan sebuah rasa yang tak mampu diungkapkan, kekaguman yang tumbuh secara perlahan membuat hal sederhana yang tak disengaja cukup memberikan arti kebahagiaan.Kodratnya manusia memang diciptakan tuhan berpasangan-pasangan bukan sekedar untuk memiliki melainkan untuk saling menyayangi, melengkapi, dan menuntun dalam kebaikan. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةًArtinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Q.S Ar-Rum ayat 21 )Dari perasaan ini lahirlah sebuah renungan. Apakah selama ini kita memaknai cinta hanya sekedar keinginan untuk memiliki, atau sudah memikirkan bagaimana cinta itu dapat menjadi jalan menuju kebaikan ? Bagiku, cinta yang sesungguhnya bukan tentang seberapa riuh ia diungkapkan, melainkan cinta yang membawa hati menuju ketenangan dan ketentraman jiwa melalui kesadaran akan tanggung jawabnya, hingga mampu menuntun diri menuju kebaikan. Bukan semata-mata tentang seberapa besar perasaan menggebu-gebu yang hadir, hingga perasaan itu menguasai akal dan mengabaikan tanggung jawab bahkan melanggar batasan agama. Maka disitulah tujuan cinta perlu ditanyakan kembali. Bak api menyala. Semakin berkobar, akan semakin mudah pula api melahap apa yang ada dihadapanya. Begitu juga perasaan yang tidak dikendalikan bisa saja membawa dirinya menuju kebinasaan, Naudzubillahimindzalik. Maka bagiku makna cinta bukan siapa yang paling lama menetap melainkan pada bagaimana ia mampu menjaga dan mengarahkan perasaan nya menuju kebaikan tanpa mengabaikan batasan agama. Sebagai landasan pemahaman bahwa bagaimana cinta seharusnya menuntun dalam kebaikan, tercermin dalam hubungan seorang hamba kepada tuhanya. Ada cinta yang tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Ia hadir mencari ridha-nya ditengah sunyinya malam, menenangkan hati melalui lantunan firman nya, menahan nafsu untuk mempertahankan ketakwaan-nya. Dan perjalanan ini membawaku pada kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib bersama Fatimah Az-zahra. Cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan dari dua hati yang tak banyak bicara tentang rasa/pengungkapan, tetapi seolah sama-sama mengetahui kemana bahtera cinta seharusnya berlabuh. Sebab barangkali cinta yang paling indah bukanlah tentang banyak nya kata romantis yang diucapkan tetapi tentang bagaimana dua insan yang saling menjaga sebelum dan setelah takdir menyatukannya dalam ikatan janji suci.Mungkin, tidak ada yang benar-benar mengetahui perjalanan sebuah rasa akan bermuara. Namun, bukankah setiap hati menyimpan harapan tentang cinta yang tidak hanya indah saat bersama tetapi juga sempurna bernilai dihadapan tuhan ?Dan jika suatu hari cinta benar-benar berhasil mengetuk pintu takdir nya, semoga yang datang bukan sekedar berhasil memiliki hatinya, tetapi juga sebuah alasan untuk semakin dekat kepada sang pemilik hati.Keabadian surgawiPenulis: Silfi Aulia Sari

19 Sep 2026
Internasional

Gaza Kehabisan Lahan Pemakaman, Keluarga Mulai Kesulitan Memakamkan Jenazah

GAZA, BungkasNews — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza tidak hanya menyisakan persoalan tempat tinggal dan kebutuhan dasar. Keluarga yang kehilangan anggota keluarganya kini juga menghadapi persoalan lain: semakin terbatasnya lahan untuk memakamkan jenazah.Dilansir dari Al Jazeera, sejumlah keluarga Palestina mulai memindahkan jenazah kerabat mereka dari lokasi pemakaman sementara ke kompleks pemakaman. Namun, keterbatasan lahan membuat proses tersebut semakin sulit.Salah satu kisah datang dari Omar al-Sawhi, 20 tahun, yang berupaya memakamkan ayahnya, Mohammad, 40 tahun. Ketika mendatangi Pemakaman Zeitoun di Gaza City, Omar mendapati makam-makam telah sangat padat.Kondisi pemakaman juga membuat sejumlah makam hanya ditandai dengan batu dan selembar kertas yang mencantumkan nama orang yang meninggal. Keterbatasan ruang dan material membuat makam tidak selalu dapat dibangun secara layak.Karena tidak menemukan ruang untuk makam baru dan biaya pemakaman cukup berat bagi keluarganya, jenazah Mohammad akhirnya dimakamkan di makam kakeknya.Ribuan Jenazah Dimakamkan di Lokasi SementaraSelama perang berlangsung, terganggunya layanan publik dan bahaya serangan membuat banyak jenazah tidak dapat segera dimakamkan di pemakaman resmi. Sebagian jenazah dilaporkan dimakamkan di halaman rumah, tenda, area pengungsian, sekolah hingga rumah sakit.Al Jazeera melaporkan bahwa setelah adanya penurunan relatif kekerasan menyusul gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober 2025, sejumlah keluarga mulai mencari dan memindahkan kembali jenazah anggota keluarga mereka yang sebelumnya dimakamkan sementara.Otoritas Gaza menyebut sedikitnya 529 jenazah Palestina ditemukan dari tujuh kuburan massal di area rumah sakit. Laporan tersebut juga menyebut sedikitnya 1.200 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diumumkan.Lebih dari 40 Pemakaman RusakPersoalan lahan pemakaman semakin berat karena sejumlah lokasi pemakaman mengalami kerusakan selama perang.Menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza yang dikutip Al Jazeera, lebih dari 40 pemakaman telah hancur sejak perang dimulai.Sementara itu, sejumlah kawasan yang sebelumnya diperuntukkan sebagai lokasi pemakaman kini digunakan sebagai tempat berlindung warga yang kehilangan tempat tinggal.Keterbatasan material seperti batu nisan juga membuat biaya pemakaman meningkat. Otoritas Gaza menyebut biaya pemakaman saat ini berkisar 700 hingga 1.000 shekel, atau sekitar Rp3,7 juta hingga Rp5,3 juta dengan nilai tukar yang digunakan dalam laporan tersebut.Sebagai solusi sementara, material bangunan yang tersisa dari gedung-gedung yang hancur, lumpur, hingga lembaran logam digunakan sebagai penanda makam.Pemakaman Khan Younis Kini Menampung Ribuan MakamGambaran kepadatan juga terlihat di Pemakaman Khan Younis. Tafesh Abu Hatab, seorang penggali makam yang telah bekerja selama lebih dari 19 tahun, mengatakan kondisi perang menjadi masa paling berat sepanjang kariernya.Pemakaman tersebut sebelumnya memiliki sekitar 60 makam pada awal perang. Kini jumlahnya mencapai sekitar 6.000 makam.Pada periode tertentu, Abu Hatab bahkan harus menyiapkan sekitar 35 makam dalam sehari.Pemerintah setempat kini mencari lokasi baru untuk pemakaman. Pemindahan jenazah dari tempat pemakaman sementara juga harus dikoordinasikan dengan Kementerian Wakaf, pemerintah daerah, serta lembaga terkait.Krisis tersebut menunjukkan bahwa dampak perang di Gaza tidak hanya menyangkut mereka yang masih hidup dan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menyentuh persoalan paling mendasar dalam penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal.

23 Aug 2026