Bungkas News
Puisi

Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju-Nya

Oleh: yazid 19 Sep 2026, 11:32 WIB
Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju-Nya
Senja sore (Foto: Dok. Istimewa)

Biarlah riuh dunia menjadi latar yang samar,

Aku hanya ingin membiarkan renjana mengalir perlahan.

Membaca aksara alam yang damai dan menikmati sepotong kebahagiaan sederhana yang disuguhkan semesta.

Dan lentera bahagia itu ??

Keindahanmu laksana insan yang tak henti menabur harsa pada semesta, demikian pula pada hredaya ini.

 Sekelumit rasa ini adalah bagian dari kisah yang sedang kurangkai dengan sebuah judul "Senyap Bersama Senja" (coming soon in Wattpad)

 Begitulah kalimat yang dirangkai oleh seseorang dikala jatuh cinta. Dibalik untaian kata-kata tersebut tersimpan sebuah rasa yang tak mampu diungkapkan, kekaguman yang tumbuh secara perlahan membuat hal sederhana yang tak disengaja cukup memberikan arti kebahagiaan.

Kodratnya manusia memang diciptakan tuhan berpasangan-pasangan bukan sekedar untuk memiliki melainkan untuk saling menyayangi, melengkapi, dan menuntun dalam kebaikan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Q.S Ar-Rum ayat 21 )

Dari perasaan ini lahirlah sebuah renungan. Apakah selama ini kita memaknai cinta hanya sekedar keinginan untuk memiliki, atau sudah memikirkan bagaimana cinta itu dapat menjadi jalan menuju kebaikan ?

Bagiku, cinta yang sesungguhnya bukan tentang seberapa riuh ia diungkapkan, melainkan cinta yang membawa hati menuju ketenangan dan ketentraman jiwa melalui kesadaran akan tanggung jawabnya, hingga mampu menuntun diri menuju kebaikan. Bukan semata-mata tentang seberapa besar perasaan menggebu-gebu yang hadir, hingga perasaan itu menguasai akal dan mengabaikan tanggung jawab bahkan melanggar batasan agama. Maka disitulah tujuan cinta perlu ditanyakan kembali. Bak api menyala. Semakin berkobar, akan semakin mudah pula api melahap apa yang ada dihadapanya. Begitu juga perasaan yang tidak dikendalikan bisa saja membawa dirinya menuju kebinasaan, Naudzubillahimindzalik. Maka bagiku makna cinta bukan siapa yang paling lama menetap melainkan pada bagaimana ia mampu menjaga dan mengarahkan perasaan nya menuju kebaikan tanpa mengabaikan batasan agama.

Sebagai landasan pemahaman bahwa bagaimana cinta seharusnya menuntun dalam kebaikan, tercermin dalam hubungan seorang hamba kepada tuhanya. Ada cinta yang tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Ia hadir mencari ridha-nya ditengah sunyinya malam, menenangkan hati melalui lantunan firman nya, menahan nafsu untuk mempertahankan ketakwaan-nya. Dan perjalanan ini membawaku pada kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib bersama Fatimah Az-zahra. Cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan dari dua hati yang tak banyak bicara tentang rasa/pengungkapan, tetapi seolah sama-sama mengetahui kemana bahtera cinta seharusnya berlabuh. Sebab barangkali cinta yang paling indah bukanlah tentang banyak nya kata romantis yang diucapkan tetapi tentang bagaimana dua insan yang saling menjaga sebelum dan setelah takdir menyatukannya dalam ikatan janji suci.

Mungkin, tidak ada yang benar-benar mengetahui perjalanan sebuah rasa akan bermuara. Namun, bukankah setiap hati menyimpan harapan tentang cinta yang tidak hanya indah saat bersama tetapi juga sempurna bernilai dihadapan tuhan ?

Dan jika suatu hari cinta benar-benar berhasil mengetuk pintu takdir nya, semoga yang datang bukan sekedar berhasil memiliki hatinya, tetapi juga sebuah alasan untuk semakin dekat kepada sang pemilik hati.

Keabadian surgawi

Penulis: Silfi Aulia Sari