GAZA, BungkasNews — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza tidak hanya menyisakan persoalan tempat tinggal dan kebutuhan dasar. Keluarga yang kehilangan anggota keluarganya kini juga menghadapi persoalan lain: semakin terbatasnya lahan untuk memakamkan jenazah.
Dilansir dari Al Jazeera, sejumlah keluarga Palestina mulai memindahkan jenazah kerabat mereka dari lokasi pemakaman sementara ke kompleks pemakaman. Namun, keterbatasan lahan membuat proses tersebut semakin sulit.
Salah satu kisah datang dari Omar al-Sawhi, 20 tahun, yang berupaya memakamkan ayahnya, Mohammad, 40 tahun. Ketika mendatangi Pemakaman Zeitoun di Gaza City, Omar mendapati makam-makam telah sangat padat.
Kondisi pemakaman juga membuat sejumlah makam hanya ditandai dengan batu dan selembar kertas yang mencantumkan nama orang yang meninggal. Keterbatasan ruang dan material membuat makam tidak selalu dapat dibangun secara layak.
Karena tidak menemukan ruang untuk makam baru dan biaya pemakaman cukup berat bagi keluarganya, jenazah Mohammad akhirnya dimakamkan di makam kakeknya.
Ribuan Jenazah Dimakamkan di Lokasi Sementara
Selama perang berlangsung, terganggunya layanan publik dan bahaya serangan membuat banyak jenazah tidak dapat segera dimakamkan di pemakaman resmi. Sebagian jenazah dilaporkan dimakamkan di halaman rumah, tenda, area pengungsian, sekolah hingga rumah sakit.
Al Jazeera melaporkan bahwa setelah adanya penurunan relatif kekerasan menyusul gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober 2025, sejumlah keluarga mulai mencari dan memindahkan kembali jenazah anggota keluarga mereka yang sebelumnya dimakamkan sementara.
Otoritas Gaza menyebut sedikitnya 529 jenazah Palestina ditemukan dari tujuh kuburan massal di area rumah sakit. Laporan tersebut juga menyebut sedikitnya 1.200 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diumumkan.
Lebih dari 40 Pemakaman Rusak
Persoalan lahan pemakaman semakin berat karena sejumlah lokasi pemakaman mengalami kerusakan selama perang.
Menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza yang dikutip Al Jazeera, lebih dari 40 pemakaman telah hancur sejak perang dimulai.
Sementara itu, sejumlah kawasan yang sebelumnya diperuntukkan sebagai lokasi pemakaman kini digunakan sebagai tempat berlindung warga yang kehilangan tempat tinggal.
Keterbatasan material seperti batu nisan juga membuat biaya pemakaman meningkat. Otoritas Gaza menyebut biaya pemakaman saat ini berkisar 700 hingga 1.000 shekel, atau sekitar Rp3,7 juta hingga Rp5,3 juta dengan nilai tukar yang digunakan dalam laporan tersebut.
Sebagai solusi sementara, material bangunan yang tersisa dari gedung-gedung yang hancur, lumpur, hingga lembaran logam digunakan sebagai penanda makam.
Pemakaman Khan Younis Kini Menampung Ribuan Makam
Gambaran kepadatan juga terlihat di Pemakaman Khan Younis. Tafesh Abu Hatab, seorang penggali makam yang telah bekerja selama lebih dari 19 tahun, mengatakan kondisi perang menjadi masa paling berat sepanjang kariernya.
Pemakaman tersebut sebelumnya memiliki sekitar 60 makam pada awal perang. Kini jumlahnya mencapai sekitar 6.000 makam.
Pada periode tertentu, Abu Hatab bahkan harus menyiapkan sekitar 35 makam dalam sehari.
Pemerintah setempat kini mencari lokasi baru untuk pemakaman. Pemindahan jenazah dari tempat pemakaman sementara juga harus dikoordinasikan dengan Kementerian Wakaf, pemerintah daerah, serta lembaga terkait.
Krisis tersebut menunjukkan bahwa dampak perang di Gaza tidak hanya menyangkut mereka yang masih hidup dan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menyentuh persoalan paling mendasar dalam penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal.