Bungkas News

Hasil Pencarian untuk: "Diskusi"

Ditemukan 13 berita.

Utama

Workshop Character Building HIMMAH Kab.Tangerang Diikuti 130 Peserta, Jadi Ruang Kenali Diri dan Perkenalkan HIMMAH kepada Generasi Muda

Tangerang, Bungkasnews.com — Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PC HIMMAH) Kabupaten Tangerang sukses menyelenggarakan Workshop Character Building dengan tema “WHO AM I? Kenali Dirimu, Temukan Potensimu, Tentukan Arahmu”, Minggu (27/9/2026).Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Istighna, Islamic Village, Kabupaten Tangerang, tersebut diikuti sekitar 130 peserta yang berasal dari unsur mahasiswa dan pelajar tingkat SLTA. Kegiatan turut dihadiri oleh Dewan Penasehat PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Muhammad Nizam Harahap dan Ahmad Taufik Lubis, serta jajaran pengurus PC HIMMAH Kabupaten Tangerang.Workshop menghadirkan Muhammad Khairil sebagai pembicara. Kegiatan dikemas sebagai ruang pembelajaran dan refleksi bagi peserta untuk lebih mengenal karakter diri, menggali potensi, membangun kepercayaan diri, serta menentukan arah pengembangan diri.Perkenalkan HIMMAH kepada Mahasiswa, Pelajar, dan MasyarakatSelain menjadi kegiatan pengembangan karakter, workshop ini juga menjadi bagian dari upaya PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperkenalkan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) secara lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di wilayah Tangerang.Melalui kegiatan tersebut, HIMMAH berupaya membangun kedekatan dengan generasi muda sekaligus memperkenalkan organisasi sebagai ruang untuk pengembangan diri, kepemimpinan, intelektualitas, serta pengabdian kepada masyarakat.Kehadiran sekitar 130 peserta dari unsur mahasiswa dan pelajar SLTA menjadi momentum bagi PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperluas silaturahmi dan membangun jejaring dengan generasi muda.Ketua PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Mhd. Nehru Lubis, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas keberadaan dan kontribusi HIMMAH di tengah masyarakat Tangerang.“Kegiatan ini menjadi momentum bagi kami untuk memperkenalkan HIMMAH lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di Tangerang. Kami ingin HIMMAH tidak hanya dikenal sebagai organisasi mahasiswa, tetapi juga hadir sebagai ruang untuk belajar, berkembang, membangun kepemimpinan, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Nehru.Ia juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan dampak bagi para peserta.“Kami ingin peserta tidak hanya bertanya tentang apa yang ingin mereka capai, tetapi juga memahami siapa diri mereka, apa potensi yang mereka miliki, dan ke mana arah yang ingin mereka tuju. Karena mengenal diri adalah bagian penting dalam membangun karakter dan menentukan masa depan,” tambahnya.Sementara itu, Ketua Panitia, Rizky Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan dirancang secara interaktif agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses diskusi dan refleksi.“Kami ingin workshop ini menjadi ruang bagi peserta untuk berhenti sejenak, melihat kembali dirinya, mengenali kekuatan dan kekurangannya, kemudian menyusun langkah untuk berkembang. Antusiasme sekitar 130 peserta menjadi energi positif bagi kami sebagai panitia,” ungkap Rizky.Apresiasi untuk Sponsor, Mitra, dan Pihak PendukungPC HIMMAH Kabupaten Tangerang turut menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, mitra, serta pihak pendukung yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Workshop Character Building ini, di antaranya:Hj. Nurmiyah LubisHj. Hidayah Sya'banahH. Islam Akbar Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Ibu Ida Wardani Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Smile Lovers BreadKetua PW HIMMAH BantenDukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dan pelajar SLTA dalam ruang pembelajaran dan pengembangan karakter.“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor dan pihak yang telah memberikan dukungan. Dukungan ini bukan hanya membantu terselenggaranya kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan memiliki arah,” ujar Nehru.Rizky Hidayat juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membersamai kegiatan tersebut.“Kami sangat mengapresiasi seluruh sponsor dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut dalam kegiatan-kegiatan positif berikutnya,” tutur Rizky.Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama. PC HIMMAH Kabupaten Tangerang berharap workshop tersebut dapat menjadi pintu awal bagi peserta untuk mengenal lebih dekat HIMMAH, menemukan potensi diri, membangun karakter, serta terdorong untuk mengambil peran positif di lingkungan pendidikan, organisasi, dan masyarakat.Melalui kegiatan ini, PC HIMMAH Kabupaten Tangerang juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang pembinaan dan kolaborasi bagi mahasiswa, pelajar, serta masyarakat di wilayah Tangerang.

28 Sep 2026
Utama

Ketua PW HIMMAH Sumut Jalin MoU Bersama Bank Sumut Wujudkan Integrasi KTA Digital di Rakerwil Prapat

Simalungun, Bungkasnews.com — Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PW HIMMAH) Sumatera Utara menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Mess Pora-Pora Pemprovsu, Prapat, Kabupaten Simalungun, 25–27 September 2026 dengan mengusung tema “Aktualisasi Gerakan Intelektual Menuju #Sinergi Sumut Madani”, sebagai momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan program kerja PW HIMMAH Sumut untuk periode mendatang.Dalam kesempatan tersebut, PW HIMMAH Sumut juga secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama PT Bank Sumut dalam rangka penerbitan KTA (Kartu Tanda Anggota) yang ter-integrasi dengan rekening Bank Sumut dalam mendukung BUMD khususnya pembangunan berkelanjutan di Sumatera Utara.Selain itu, pembuatan KTA berbasis rekening Bank Sumut ini merupakan wujud nyata dari keseriusan Imransyah Pasai selaku Ketua PW HIMMAH Sumut dalam rangka moderenisasi organisasi mahasiswa di era perkembangan kemajuan teknologi yang sangat pesat."HIMMAH Sumut telah membuka ruang bagi PC HIMMAH se-Sumut agar membangun jalinan kerjasama dengan KCP Bank Sumut di daerahnya masing-masing dalam percepatan pelaksanaan pembuatan KTA," ujar Imransyah Pasai, Ketua PW HIMMAH Sumut.Imransyah Pasai, Ketua PW HIMMAH SUMUTDalam sambutannya, Imransyah Pasai menegaskan bahwa pelaksanaan Rakerwil merupakan forum strategis untuk menyatukan langkah seluruh jajaran dan kader. “Rakerwil ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah, menyusun program kerja, dan memperkuat konsolidasi seluruh kader,” ucapnya.Ia berharap seluruh peserta dapat berpartisipasi aktif dalam setiap pembahasan dengan mengedepankan musyawarah dan semangat kebersamaan serta menekankan pentingnya menjadikan HIMMAH sebagai organisasi mahasiswa yang tetap memiliki tradisi intelektual, semangat kaderisasi, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.Menyambung hal tersebut, Ketua PW Al Washliyah Sumut Dedi Iskandar Batubara, yang hadir memberikan sambutan turut memberikan apresiasi tinggi atas langkah progresif yang diambil oleh PW HIMMAH Sumut. Ia menilai terobosan digitalisasi melalui integrasi KTA dengan perbankan daerah merupakan bukti nyata adaptasi organisasi terhadap kemajuan zaman."Gerakan intelektual mahasiswa hari ini tidak boleh hanya berhenti pada tataran retorika di ruang-ruang diskusi, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi kerja-kerja kolaboratif yang dirasakan langsung oleh umat dan masyarakat," ujar Dedi Iskandar Batubara di hadapan para kader.Ia juga berpesan agar seluruh kader HIMMAH senantiasa mempertahankan identitas intelektual, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mengawal pembangunan Sumut Madani yang adil, terbuka, dan bermoral.Selanjutnya, Ketua Umum PP HIMMAH RI Abdul Razak Nasution dalam sambutannya sekaligus secara resmi membuka kegiatan menyampaikan bahwa Rakerwil bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang penting untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, serta menyusun langkah strategis organisasi.Ia mendorong seluruh kader HIMMAH Sumatera Utara untuk terus menjaga tradisi intelektual dan memperkuat kaderisasi.“HIMMAH harus terus menjaga tradisi intelektual, memperkuat kaderisasi, serta membangun sinergi dengan berbagai elemen masyarakat. Kader harus mampu hadir sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat,” ujar Abdul Razak.Menurutnya, forum Rakerwil harus mampu melahirkan gagasan konstruktif dan program kerja yang memberikan manfaat bagi organisasi, umat, bangsa, dan daerah. Forum ini diharapkan menghasilkan program kerja dan rekomendasi organisasi yang dapat memperkuat konsolidasi serta kontribusi HIMMAH Sumatera Utara di tengah masyarakat.

26 Sep 2026
Nasional

Prabowo Bahas Karhutla Bareng Pakar: Saya Paling Hormat

Jakarta, Bungkasnews.com – Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah pakar dan akademisi untuk membahas persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya yang terjadi di kawasan gambut.Diskusi tersebut digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Dalam pertemuan itu, Prabowo meminta masukan dari para ahli mengenai cara mencegah kebakaran sekaligus mengelola lahan gambut secara lebih baik.Dilansir dari detikNews, Prabowo menyampaikan tiga hal utama yang ingin dibahas bersama para pakar.Pertama, soal regulasi yang dinilai masih memiliki celah. Prabowo menyinggung adanya delapan peraturan daerah di tingkat kabupaten yang memungkinkan pembakaran lahan hingga dua hektare.“Yang pertama, kita harus koreksi regulasi. Itu nanti kita harus tegas. Masih ada delapan perda di kabupaten. Bayangkan, yang mau pakai loophole bahwa boleh bakar 2 hektar. Which is menurut saya complete nonsense. Bahwa satu orang boleh bakar 2 hektar,” kata Prabowo.Perusahaan Juga Jadi PerhatianPrabowo juga menyinggung kewajiban perusahaan dalam mencegah kebakaran. Menurutnya, perusahaan memiliki sejumlah kewajiban, seperti menyediakan menara pemantau, embung, hingga tim pemadam kebakaran.Namun, ia menyebut tingkat kepatuhan perusahaan masih berbeda-beda.“Ada perusahaan yang patuh, ada perusahaan yang tidak. Ini harus kita tertibkan,” ujar Prabowo.Karena itu, Prabowo meminta para pakar memberikan masukan mengenai langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mencegah karhutla di kawasan hutan.Tiga Pertanyaan untuk Para PakarSelain soal regulasi dan kewajiban perusahaan, Prabowo juga ingin mendapat pandangan mengenai pemanfaatan lahan gambut.Ia menanyakan apakah kawasan gambut dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa meningkatkan risiko kebakaran.“Apakah gambut ini bisa kita manfaatkan ke arah produktif? Apakah kita bisa tanam tanaman di atas gambut?” kata Prabowo.Prabowo menyebut tiga hal tersebut menjadi pertanyaan utama yang ingin mendapatkan masukan dari para pakar, yaitu pencegahan kebakaran di kawasan hutan, pengelolaan kawasan hutan yang memiliki gambut, serta kemungkinan pemanfaatan gambut secara produktif.Prabowo: Saya Paling Hormat Sama PakarDalam diskusi tersebut, Prabowo juga menegaskan bahwa dirinya menghormati para pakar. Pernyataan itu disampaikan setelah ia menyinggung adanya kemungkinan pernyataannya dipelintir sehingga seolah-olah tidak menghargai pandangan akademisi.“Jadi Saudara-saudara, jangan salah ya menerima, kadang-kadang saya kalau bicara di audience, suka dipelintir ya, dibilang seolah saya nggak hormati pakar. Saya paling hormat sama pakar.”Prabowo kemudian meminta para pakar memberikan masukan mengenai langkah yang bisa dilakukan pemerintah dalam menangani persoalan karhutla dan pengelolaan lahan gambut.Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari masukan berbasis keahlian dalam menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan, sekaligus melihat kemungkinan pemanfaatan kawasan gambut secara produktif.

25 Sep 2026
Opini

Tugas Kuliah Banyak, tetapi Apakah Kita Benar-Benar Belajar?

Oleh : RobiahPernahkah kita duduk di depan laptop pada malam hari, membuka satu per satu berkas tugas, lalu tiba-tiba bingung harus mulai dari mana? Satu tugas belum selesai, tugas lain sudah menunggu. Tenggat waktu datang hampir bersamaan. Waktu istirahat berkurang, waktu tidur dikorbankan, bahkan makan pun terkadang terlupakan. Pada akhirnya, yang ada di kepala bukan lagi, “Apa yang bisa saya pelajari dari tugas ini?”, melainkan, “Bagaimana caranya semua ini selesai sebelum tenggat waktu?”Begitulah rutinitas yang tidak asing bagi banyak mahasiswa, terutama ketika memasuki pertengahan semester. Makalah, presentasi, laporan mini riset, diskusi kelompok, hingga berbagai tugas lainnya hadir silih berganti. Masing-masing mungkin memiliki tujuan pembelajaran yang baik. Namun, ketika banyak tugas datang dalam waktu yang berdekatan, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk benar-benar menikmati proses belajar. Kesibukan akademik perlahan berubah menjadi perlombaan mengejar waktu.Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah banyaknya tugas selalu berarti banyaknya pembelajaran?Belajar seharusnya tidak berhenti pada menyelesaikan halaman, mengunggah berkas, atau mendapatkan tanda bahwa tugas telah dikumpulkan. Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, mencoba, melakukan kesalahan, kemudian menemukan pemahaman baru. Proses seperti itu membutuhkan waktu dan ruang untuk berpikir.Hal ini bukan sekadar perasaan yang dialami sebagian mahasiswa. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada 2023 menelaah 14 penelitian mengenai stres yang memengaruhi keberhasilan akademik mahasiswa pendidikan tinggi. Kajian tersebut menemukan bahwa stres mahasiswa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk faktor akademik, psikologis, perilaku, dan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman akademik mahasiswa tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kondisi stres yang mereka hadapi.Ketika beban akademik terasa terlalu padat, ruang tersebut dapat semakin sempit. Mahasiswa yang awalnya ingin membaca lebih banyak justru hanya membaca bagian yang dianggap penting untuk tugas. Yang seharusnya berdiskusi lebih dalam memilih mencari jawaban tercepat. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya mengerjakan tugas hingga larut malam bukan karena sedang tenggelam dalam keasyikan belajar, tetapi karena berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu.Dalam kondisi seperti itu, tujuan belajar bisa perlahan bergeser. Tugas yang semestinya menjadi sarana memahami materi berubah menjadi kewajiban yang harus dituntaskan. Bukan karena mahasiswa tidak ingin belajar, melainkan karena waktu, tenaga, dan perhatian harus dibagi kepada begitu banyak tuntutan dalam waktu yang bersamaan.Padahal, pendidikan tinggi bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang mampu diselesaikan. Ada hal yang jauh lebih penting: apa yang tersisa dalam diri mahasiswa setelah tugas itu selesai? Apakah pemahamannya bertambah? Apakah cara berpikirnya berkembang? Apakah ia menjadi lebih mampu menganalisis persoalan, menyampaikan gagasan, dan memecahkan masalah?Karena itu, tugas kuliah mungkin perlu dilihat bukan hanya dari jumlahnya, tetapi dari makna yang dibawanya. Tugas yang memberi kesempatan untuk mengamati persoalan nyata, berdiskusi, membuat proyek, melakukan penelitian sederhana, atau menemukan solusi dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi memahami mengapa tugas itu penting dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan di luar ruang kelas.Pada akhirnya, mahasiswa memang perlu belajar bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Namun, sistem pembelajaran juga perlu memberi ruang agar tanggung jawab tersebut tidak kehilangan makna. Sebab, mahasiswa bukan sekadar seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan semester. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas.Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya: setelah semua tugas ini selesai, apa yang benar-benar kita bawa pulang—tumpukan berkas yang telah dikumpulkan, atau pengetahuan yang benar-benar melekat dalam diri?

19 Sep 2026
Nasional

Doli Kurnia: Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Palestina Merdeka

Jakarta, Bungkasnews.com - Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia (World Peace Parliamentary Caucus/WPPC) DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung menegaskan komitmen DPR RI untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi parlemen.Penegasan tersebut disampaikan Doli seusai menerima audiensi dan melakukan diskusi strategis bersama perwakilan Global Coalition for Quds and Palestine (GCQP) di Ruang Diplomasi Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (16/9/2026).Doli mengatakan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kerja sama yang telah beberapa kali dilakukan DPR RI bersama organisasi internasional yang memiliki perhatian terhadap persoalan Palestina.Ia menyebut, Indonesia sebelumnya juga telah dipercaya menjadi tuan rumah sekaligus lokasi kantor pusat (headquarter) Asia Pacific Coalition for Al-Quds and Palestine (APCQP).“Alhamdulillah, sekaligus saya berterima kasih kepada bapak-bapak di Majelis Ulama Indonesia. Begitu MUI mengetahui bahwa DPR sekarang bersama teman-teman membentuk Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia, mereka sangat aktif menyambungkan komunikasi dan silaturahmi kita dengan masyarakat maupun pimpinan-pimpinan di Palestina. Ini sudah yang kelima kali kita melakukan kegiatan bersama di DPR,” ujar Doli.Baca juga: Israel dan Maroko Sepakat Buka Kedutaan, Tingkatkan Hubungan DiplomatikDalam audiensi tersebut, delegasi GCQP yang berasal dari Palestina menyampaikan perkembangan situasi terkini di Gaza. Mereka menggambarkan kondisi kemanusiaan yang masih memprihatinkan akibat konflik yang berkepanjangan.“Hari ini kita menerima kunjungan anggota Global Coalition for Quds and Palestine. Ada dua orang perwakilan yang datang dari Palestina. Mereka menyampaikan situasi di Palestina, khususnya di Gaza, yang sampai sekarang masih belum kondusif. Masih terus terjadi genosida, pembunuhan anak kecil, perempuan, dan seterusnya,” ungkap politikus Fraksi Partai Golkar tersebut.Selain menyampaikan kondisi di lapangan, delegasi GCQP mengusulkan agar Indonesia memiliki komite khusus di parlemen yang menangani isu Palestina. Usulan tersebut, menurut mereka, dapat merujuk pada praktik di sejumlah negara, salah satunya Turki.Menanggapi usulan itu, Doli menjelaskan bahwa meskipun DPR RI belum memiliki komisi khusus yang menangani Palestina, komitmen terhadap isu tersebut telah diwujudkan melalui keberadaan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia yang bekerja sama dengan BKSAP.“Walaupun secara formal di DPR tidak ada komisi yang mengurusi soal itu, tetapi kehadiran Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia merupakan bagian dari komitmen DPR bersama BKSAP terhadap isu-isu Palestina. Ini menegaskan sekali lagi bahwa Indonesia, baik pemerintah maupun DPR, selalu berkomitmen untuk terus bersama-sama memperjuangkan Palestina menjadi negara yang berdaulat dan merdeka,” tegasnya.Baca juga: Survei Kedua, Brimob Batalyon C Tegaskan Komitmen Bangun Jembatan Utama Aek MataDorong Kajian Regulasi Boikot Produk Terkait IsraelDalam pertemuan tersebut, GCQP juga mengusulkan agar Indonesia memiliki regulasi mengenai penolakan atau boikot terhadap produk-produk yang berkaitan dengan Israel.Doli mengatakan, usulan tersebut dapat menjadi bahan kajian dengan mempelajari regulasi serupa yang telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Inggris dan Irlandia.“Saya minta nanti kalau sudah ada salinan undang-undang yang sekarang diberlakukan di Inggris dan Irlandia itu bisa kita pelajari, bisa kita sosialisasikan, dan kita minta tanggapan dari masyarakat Indonesia, termasuk nanti kalau memang memungkinkan dibahas lebih lanjut di tingkat pemerintah maupun DPR,” jelasnya.Meski demikian, Doli menekankan bahwa setiap pembentukan undang-undang harus mengikuti mekanisme konstitusional serta melalui proses penyerapan aspirasi masyarakat.“Undang-undang itu adalah kesepakatan antara pemerintah dan rakyat Indonesia. Tentu prosesnya membutuhkan waktu, membutuhkan kesepakatan semua pihak, baik pemerintah maupun DPR. DPR juga harus menyerap aspirasi masyarakat Indonesia terlebih dahulu,” katanya.Palestina dan Amanat KonstitusiDoli menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina tidak semata-mata didasarkan pada hubungan historis antara kedua bangsa, tetapi juga merupakan bagian dari amanat konstitusi dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.“Kita harus dukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Pertama, karena Palestina adalah salah satu negara yang sejak awal memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Kedua, ini adalah perjuangan kemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan di belahan dunia mana pun ada masyarakat yang terus-menerus menderita akibat penjajahan, apalagi genosida,” tuturnya.Menurut Doli, cita-cita mewujudkan perdamaian dunia belum dapat dikatakan tercapai selama Palestina belum memperoleh kemerdekaan sebagai negara yang berdaulat.“Saya sering mengatakan, kita boleh melihat perang berhenti di belahan dunia mana pun, tetapi selama Palestina belum menjadi negara yang berdaulat, saya kira kita tidak bisa menyimpulkan bahwa perdamaian dunia telah terwujud. Karena itu, perjuangan kemerdekaan Palestina tidak boleh berhenti,” pungkasnya.

17 Sep 2026
Mahasiswa

Mahasiswa PPL/PLP FTIK UCA di SMA Islamic Centre Jalani Monev

Tangerang, Bungkasnews.com — Pelaksanaan Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Lapangan Profesi (PLP) mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Cendekia Abditama (FTIK UCA) di SMA Islamic Center Kota Tangerang telah memasuki hampir dua bulan. Untuk mengetahui perkembangan program tersebut, pihak program studi melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pada Selasa, 15 September 2026.Kegiatan Monev tersebut dilaksanakan oleh Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Dr. Maemunah, M.A.Pd., bersama Kaprodi Manajemen Pendidikan Agama Islam (MPI), Dadang Wahyudin, M.Pd. Keduanya hadir secara langsung untuk berdiskusi dengan mahasiswa peserta PPL dan PLP di ruang meeting SMA Islamic Center Kota Tangerang.Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.50 WIB dan berlangsung kurang lebih selama setengah hingga satu jam. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan perkembangan selama menjalankan program PPL dan PLP yang telah berlangsung hampir dua bulan.Monev dilakukan untuk mengetahui sejauh mana progres pelaksanaan kegiatan PPL dan PLP, termasuk proses adaptasi mahasiswa di lingkungan sekolah, hubungan dengan guru pamong, serta komunikasi dan koordinasi dengan dosen pembimbing lapangan (DPL).Salah satu hal yang menjadi pembahasan dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana mahasiswa membangun hubungan dan komunikasi dengan guru pamong selama menjalankan tugas di sekolah. Mahasiswa juga menyampaikan pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengikuti kegiatan pembelajaran, serta menjalankan berbagai tanggung jawab yang diberikan selama program berlangsung.Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan perhatian terkait komunikasi dengan DPL, yang dalam pelaksanaan PPL dan PLP ini dibimbing oleh Dr. Deden Saeful Ridhwan MZ., M.A.Melalui kegiatan Monev, pihak program studi dapat memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan PPL dan PLP secara langsung dari mahasiswa di lokasi praktik. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi dan komunikasi untuk mengetahui berbagai perkembangan maupun kendala yang dihadapi mahasiswa selama menjalankan program.Bagi mahasiswa, Monev menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dijalani selama hampir dua bulan. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan agar pelaksanaan PPL dan PLP dapat berjalan lebih baik hingga program selesai.Dengan adanya monitoring dan evaluasi secara langsung, pelaksanaan PPL dan PLP mahasiswa di SMA Islamic Center Kota Tangerang diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kegiatan akademik, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai calon tenaga pendidik dan profesional di bidang pendidikan.

15 Sep 2026
Nasional

Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan

Jakarta, Bungkasnews.com – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru, Senin (14/9/2026).Pelantikan berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo. Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.Dilansir dari detikNews, pelantikan ditandai dengan pembacaan sumpah jabatan yang diikuti Suahasil. Dalam sumpahnya, ia berjanji setia kepada UUD 1945, menjalankan peraturan perundang-undangan, serta bekerja dengan penuh tanggung jawab dan menjunjung tinggi etika jabatan.Bukan Orang Baru di Kementerian KeuanganSuahasil bukan sosok baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebelum dipercaya menjadi Menkeu, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih dan dilantik pada 21 Oktober 2024.Baca juga: Mahasiswa Zaman Sekarang Kok Pada Bisu Pas Diskusi? Katanya Sih Harus RadikalKariernya di bidang kebijakan fiskal juga sudah cukup panjang. Suahasil pernah menjadi anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan bidang Desentralisasi Fiskal pada 2009–2011 dan Wakil Ketua Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah pada 2009–2015.Ia juga pernah menjadi Koordinator Pokja Kebijakan di Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan pada 2010–2015 serta anggota Dewan Komite Ekonomi Nasional pada 2013–2014.Karier Suahasil di Kemenkeu semakin menanjak ketika ia dipercaya menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal secara definitif pada 31 Oktober 2016.Tidak lama kemudian, pada 25 Oktober 2019, ia dipercaya menjadi Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Indonesia Maju. Saat itu, Suahasil turut mendampingi Menteri Keuangan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan fiskal nasional.Pergantian Menkeu untuk Kedua KalinyaPergantian Suahasil menjadi Menkeu menjadi perubahan kedua pada posisi bendahara negara sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden.Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025 untuk menggantikan Sri Mulyani. Kini, posisi tersebut kembali berganti dan dipercayakan kepada Suahasil.Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir dalam pelantikan tersebut. Di antaranya para menteri koordinator, Menteri Luar Negeri Sugiono, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Kepala BIN Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, hingga Wakapolri Komjen Dedy Prasetyo.Dengan pengalaman panjang di bidang kebijakan fiskal dan lingkungan Kementerian Keuangan, Suahasil kini mendapat tugas baru sebagai Menteri Keuangan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.Sumber: detikNews, 14 September 2026.

14 Sep 2026
Opini

Mahasiswa Zaman Sekarang Kok Pada Bisu Pas Diskusi? Katanya Sih Harus Radikal

Gue mau cerita satu fenomena yang menurut gue absurd tapi nyata banget: kelas Zoom, dosen udah capek-capek buka sesi diskusi, terus... hening. Krik. Kamera mati satu-satu kayak lomba siapa cepat logout duluan. Kolom chat sepi kayak nggak ada penghuninya. Ini kejadian pas gue ikut kelas Filsafat Ilmu bareng dosen, dan gue yakin banget ini bukan cuma di kelas gue doang hampir semua kelas online kayak gini nasibnya.Nah yang bikin gue mikir, ini bukan karena mahasiswa nggak punya isi kepala. Nggak mungkin lah, masa iya satu angkatan otaknya kosong semua. Yang ada tuh, di kepala mereka rame banget, cuma nggak berani ngeluarin. Takut salah. Takut dikira sok tau. Takut jadi bahan bercandaan di grup WA kelas abis Zoom kelar. Padahal justru pertanyaan yang keliatannya "receh" itu yang biasanya bikin diskusi jadi hidup.Ada satu quote dosen gue yang nempel banget, sampe kepikiran mulu:"Mahasiswa itu harus berpikir Radikal dan Universal" Baca juga : Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menteri KeuanganNah kata "radikal" ini korban framing paling parah. Denger kata radikal, orang Indonesia refleksnya langsung mikir bom bunuh diri atau demo rusuh. Padahal aslinya, radikal itu dari bahasa Latin radix, yang artinya akar. Jadi berpikir radikal itu ya mikir sampe ke akar-akarnya masalah, bukan cuma modal nyinyir di permukaan terus merasa udah paling kritis se-Indonesia Raya.Nah ini nih titik lemah kita bersama, wahai mahasiswa. Cara mikir kita masih level "starter pack". Ketemu masalah dikit, udah puas cuma liat gejalanya doang, males banget gali ke bawah kenapa masalah ini muncul, siapa yang paling kena getahnya, sampe ke akar rumputnya kayak apa. Padahal justru itu inti belajar filsafat ilmu: biar otak nggak gampang gumoh cuma dikasih jawaban template.Tapi dosen gue nggak stop di situ doang, kalau cuma nyuruh radikal doang mah kesannya kita disuruh jadi provokator kelas. Beliau nambahin, "Kita sebagai mahasiswa PAI tidak boleh meninggalkan Al-Qur'an dan Hadis." Nah baru pas, ini. Buat gue, dua kalimat ini bukan saling tabrakan, malah saling gandengan tangan. Berpikir radikal dan universal bukan berarti kita jadi mahasiswa yang sok bebas nilai, ngerasa paling open-minded sejagat kampus terus lupa pegangan. Sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), ya emang kita kudu kritis, tapi kritisnya tetap balik ke Al-Qur'an dan Hadis, bukan jadi kritis yang malah nyasar ke mana-mana. Radikal versi ini bukan nyabut akar keimanan, tapi justru mendalami akar itu pake nalar yang lebih matang.Balik lagi ke soal takut ngomong tadi. Menurut gue, penyakit diem di kelas ini nggak bakal sembuh cuma modal dibahas sekali terus dilupain begitu Zoom di-end. Ini kudu jadi latihan rutin: berani nanya walau ada kemungkinan salah, berani gali masalah sampe akarnya walau bikin capek mikir, dan tetep inget buat balik ngerujuk ke Al-Qur'an dan Hadis biar nggak kebablasan.Baca juga : Kapal Virgo Kecelakaan, Basarnas Cari 130 OrangKalau mahasiswa PAI terus-terusan males mikir dalem dan minder buat angkat suara, ya jangan protes kalau ujung-ujungnya kita cuma jadi generasi hafal dalil doang tanpa paham konteksnya, atau sebaliknya, jago debat tapi ilmu agamanya cetek. Filsafat ilmu tuh, kalau bener-bener diresapin, sebenernya lagi ngajarin kita cara berani mikir radikal tanpa kehilangan pegangan.Jadi lain kali dosen buka sesi tanya jawab dan ada yang ganjel di kepala lo, mendingan langsung angkat tangan atau nyalain mic aja. Nggak usah takut keliatan bego. Justru dari momen "malu-maluin" itu, proses berpikir radikal dan universal beneran mulai kebentuk.Penulis: Ubay Barokah Mrp. Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), menulis berdasarkan hasil pembelajaran mata kuliah Filsafat Ilmu bersama Dr. Latifatul Khasanah, MA, MHSE.

14 Sep 2026
Opini

Kehidupan di Balik Scroll yang Tak Berujung

Oleh: RobiahPernahkah kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu pesan, tetapi satu jam kemudian masih berada di depan layar?Awalnya hanya ingin melihat satu video. Kemudian muncul video berikutnya. Kita gulir lagi. Ada berita yang sedang viral, kita baca. Ada unggahan teman, kita lihat. Ada tren baru, kita ikuti. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu saja.Lucunya, setelah berjam-jam berada di depan layar, terkadang kita justru tidak ingat apa saja yang telah kita lihat.Inilah salah satu wajah kehidupan digital hari ini. Kita hidup di tengah informasi yang tidak pernah berhenti datang, tetapi semakin sulit menemukan waktu untuk benar-benar berpikir.Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan JedaIndonesia saat ini berada dalam kehidupan digital yang sangat aktif. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara dengan 62,9 persen populasi. DataReportal mengingatkan bahwa angka identitas pengguna tersebut tidak selalu berarti jumlah individu yang berbeda.Angka tersebut menunjukkan betapa besar ruang digital dalam kehidupan masyarakat.Namun, banyaknya pengguna tidak otomatis berarti meningkatnya kualitas cara kita mengonsumsi informasi.Kita bisa mengetahui berita terbaru hanya dalam hitungan detik. Kita bisa mengetahui kehidupan orang lain tanpa pernah bertemu dengannya. Kita bahkan bisa mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.Tetapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar memahami semuanya?Atau jangan-jangan kita hanya berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya tanpa pernah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk mencerna?Scroll, Scroll, dan Scroll LagiAda sesuatu yang menarik dari kebiasaan menggulir layar.Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti.Satu video selesai, ada video lain. Satu berita selesai dibaca, muncul berita berikutnya. Satu komentar dibalas, muncul notifikasi baru.Semua dirancang agar perhatian kita terus berada di sana.Akibatnya, diam beberapa menit tanpa membuka ponsel terkadang terasa seperti kehilangan sesuatu.Padahal, mungkin yang sebenarnya kita kehilangan adalah waktu untuk diri sendiri.Kita kehilangan waktu membaca buku. Kehilangan kesempatan berbicara dengan orang di sekitar. Kehilangan waktu untuk merenung. Bahkan kehilangan kesempatan untuk benar-benar menyadari apa yang sedang kita rasakan.Yang lebih berbahaya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang serba singkat.Kita ingin semuanya cepat: berita yang singkat, video yang pendek, penjelasan yang langsung pada kesimpulan.Sementara itu, banyak persoalan dalam kehidupan justru membutuhkan kesabaran untuk dipahami.Mahasiswa dan Godaan Menjadi “Tahu Segalanya”Bagi mahasiswa, persoalan ini menjadi semakin menarik.Kita berada di lingkungan yang seharusnya mendorong seseorang untuk berpikir kritis. Tugas kuliah meminta kita membaca. Diskusi meminta kita berargumentasi. Pendidikan seharusnya membuat kita berani mempertanyakan sesuatu.Namun, di luar ruang kelas, kita berada dalam dunia yang bergerak sangat cepat.Kita bisa membaca potongan informasi di media sosial kemudian merasa sudah memahami sebuah persoalan. Padahal, mungkin kita hanya melihat satu sisi.Sebuah berita viral belum tentu memberikan gambaran lengkap. Sebuah video berdurasi satu menit belum tentu mampu menjelaskan persoalan yang terjadi bertahun-tahun. Begitu pula komentar seseorang tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena mendapatkan ribuan tanda suka.Di sinilah mahasiswa perlu berhati-hati.Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat berkomentar, tetapi lambat memahami.Menjadi mahasiswa bukan sekadar memiliki akses terhadap banyak informasi. Mahasiswa juga dituntut mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi pemahaman.Ketika Algoritma Lebih Mengenal Kita daripada Diri SendiriPernah merasa media sosial seolah-olah tahu apa yang kita sukai?Kita baru beberapa kali melihat konten tentang suatu topik, tiba-tiba konten serupa muncul berulang kali.Kita menyukai jenis video tertentu, lalu platform terus menyajikannya.Hal tersebut memang membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa menyenangkan. Tetapi tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam ruang yang hanya memperlihatkan apa yang kita sukai.Kita semakin sering bertemu dengan pendapat yang sama dan semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.Padahal, berpikir kritis tidak tumbuh dari kenyamanan.Kita membutuhkan perbedaan untuk menguji keyakinan. Kita membutuhkan pertanyaan untuk mengetahui apakah pendapat kita memiliki dasar. Kita membutuhkan diskusi untuk memahami bahwa satu persoalan bisa dilihat dari banyak sisi.Karena itu, sesekali membaca sesuatu yang berbeda dari pandangan kita bukanlah ancaman.Justru mungkin dari sanalah kita belajar menjadi lebih dewasa dalam berpikir.Berhenti Sejenak Bukan Berarti KetinggalanMungkin kita takut berhenti karena merasa akan tertinggal.Takut tidak tahu tren terbaru. Takut tidak mengetahui berita yang sedang ramai. Takut tidak mengikuti percakapan teman.Padahal, tidak semua hal harus kita ketahui.Tidak semua tren harus kita ikuti.Tidak semua perdebatan harus kita masuki.Ada kalanya kita perlu mengatakan kepada diri sendiri: cukup untuk hari ini.Letakkan ponsel. Baca sesuatu yang lebih panjang. Berbicara dengan orang lain. Menulis apa yang ada di kepala. Atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.Mungkin awalnya terasa membosankan.Namun, justru dalam kesunyian itulah pikiran memiliki kesempatan untuk bekerja.Kita Harus Menggunakan Teknologi, Bukan Digunakan OlehnyaMedia sosial bukan musuh.Teknologi juga bukan sesuatu yang harus kita jauhi.Keduanya telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan memberikan begitu banyak manfaat. Persoalannya adalah bagaimana kita menempatkan teknologi dalam kehidupan.Jangan sampai ponsel yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi pengendali perhatian.Jangan sampai algoritma menentukan apa yang kita pikirkan.Jangan sampai jumlah likes menentukan apa yang kita anggap benar.Dan jangan sampai kebiasaan menggulir layar membuat kita lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak berada di dalam layar.Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan lebih banyak informasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk memilih informasi mana yang layak dipercaya, mana yang perlu dipertanyakan, dan mana yang sebaiknya dilewatkan.Sebab, menjadi orang yang berpengetahuan bukan berarti mengetahui segala sesuatu. Menjadi berpengetahuan berarti tahu apa yang perlu diketahui dan mampu memahami apa yang telah kita ketahui.Jadi, sebelum jari kembali menggulir layar tanpa henti, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:Setelah begitu banyak yang kita lihat hari ini, apa yang benar-benar kita pahami?Barangkali sudah waktunya kita berhenti sebentar.Bukan untuk meninggalkan dunia digital, tetapi untuk kembali menemukan diri sendiri di luar layar.

11 Sep 2026
Opini

Hidup Bukan Sekadar Menerima, Tapi Berani Bertanya

Bertanya Menghasilkan Inovasi, Kreativitas, dan Menciptakan SesuatuUBAY BAROKAH MRP | MahasiswaPernahkah kita bertanya, “Mengapa harus seperti ini?”, “Apakah ada cara yang lebih baik?”, atau bahkan “Bagaimana jika kita mencoba sesuatu yang berbeda?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sering kali menjadi awal dari sebuah perubahan besar.Bertanya bukan sekadar mencari jawaban. Bertanya adalah cara manusia membuka ruang berpikir. Ketika seseorang berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, ia sedang membuka kemungkinan untuk menemukan cara baru, gagasan baru, bahkan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada.Banyak inovasi lahir bukan karena seseorang sudah mengetahui semua jawabannya, tetapi karena ia berani mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum diketahui. Dari rasa ingin tahu itulah kreativitas tumbuh.Misalnya, ketika seseorang bertanya, “Mengapa pekerjaan ini harus dilakukan secara manual?”, pertanyaan tersebut dapat mendorong lahirnya teknologi yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Ketika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar masalah ini bisa diselesaikan?”, dari sana bisa muncul sebuah ide, produk, metode, atau gerakan sosial.Artinya, pertanyaan memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu yang awalnya dianggap biasa menjadi sesuatu yang lebih baik.Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, bertanya terkadang justru dianggap sebagai tanda tidak tahu atau kurang memahami. Padahal, tidak semua orang yang banyak bertanya adalah orang yang tidak tahu. Justru orang yang terus bertanya sering kali sedang berusaha memahami sesuatu secara lebih mendalam.Kita perlu membangun budaya yang tidak takut pada pertanyaan. Di ruang kelas, organisasi, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat, pertanyaan seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, pertanyaan harus menjadi pintu masuk bagi diskusi, evaluasi, inovasi, dan perubahan.Sebab, jika kita hanya menerima apa yang sudah ada tanpa pernah bertanya, kita mungkin hanya akan menjadi pengikut keadaan. Tetapi ketika kita berani bertanya, kita mulai memiliki kesempatan untuk menjadi pencipta perubahan.Pertanyaan adalah awal dari kreativitas. Kreativitas melahirkan gagasan. Gagasan melahirkan inovasi. Dan inovasi dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.Karena itu, jangan takut bertanya. Bisa jadi, pertanyaan sederhana yang hari ini muncul di dalam pikiran kita justru menjadi awal dari sesuatu yang besar di masa depan.

04 Sep 2026
Mahasiswa

Perjalanan MAPAN Batch II Berakhir, 20 Peserta Belajar Langsung Dinamika Politik di DPR RI

Jakarta — Perjalanan 20 peserta Magang Fraksi PAN DPR RI (MAPAN) Batch II resmi berakhir. Setelah kurang lebih tiga bulan menjalani proses pembelajaran, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman mengenai lingkungan kerja parlemen, tetapi juga berkesempatan melihat secara langsung bagaimana dinamika politik, kebijakan, komunikasi, dan kerja kelembagaan berlangsung di DPR RI.Penutupan MAPAN Batch II menjadi penanda berakhirnya masa magang sekaligus momentum untuk mengapresiasi proses yang telah dilalui para peserta. Selama program berlangsung, peserta ditempatkan pada berbagai Alat Kelengkapan Dewan (AKD) dan terlibat dalam beragam aktivitas sesuai bidang masing-masing. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami politik tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai proses yang nyata dan berlangsung di tengah masyarakat.Perwakilan peserta MAPAN Batch II, Kanaya Azkia, menyampaikan bahwa pengalaman magang bersama Fraksi PAN DPR RI menjadi langkah awal untuk memahami politik secara lebih konkret.“Dalam Program Magang bersama Fraksi PAN DPR RI menjadi langkah awal untuk tidak hanya memahami politik sebagai pengetahuan, tetapi pembelajaran yang langsung terjun,” ujar Kanaya.Menurutnya, pengalaman selama berada di lingkungan Fraksi PAN juga memperlihatkan bahwa kerja politik memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan masyarakat. Berbagai program dan aktivitas yang dilakukan memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat bagaimana gagasan dan kebijakan dapat berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.Kanaya juga menyoroti bahwa pembelajaran di Fraksi PAN tidak terbatas pada isu politik dalam pengertian sempit. Fraksi PAN turut bersentuhan dengan sejumlah isu strategis, seperti perubahan iklim, transisi energi, hingga ketahanan pangan.“Fraksi PAN juga menyentuh isu-isu strategis seperti perubahan iklim, transisi energi, dan juga ketahanan pangan,” tambahnya.Hal senada disampaikan Abdul Hakim Bafagih, Anggota Fraksi PAN DPR RI. Menurutnya, keberadaan peserta magang memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk melihat secara langsung proses politik yang selama ini mungkin hanya dipahami melalui ruang kelas dan pemberitaan.“Adik-adik melihat langsung bagaimana setiap keputusan-keputusan politik itu diambil,” ujarnya.Ia juga menyinggung pentingnya keterlibatan politik dalam berbagai kebijakan publik, termasuk dalam sektor pendidikan. Menurutnya, perjuangan terhadap alokasi anggaran pendidikan menjadi salah satu bagian yang turut diperhatikan oleh Fraksi PAN DPR RI.Bagi para peserta, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bahwa politik bukan sekadar perdebatan mengenai kekuasaan, tetapi juga berkaitan dengan proses memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kebijakan.Menariknya, pengalaman MAPAN Batch II juga melahirkan berbagai bentuk karya dan capaian personal peserta. Salah satunya adalah Roudhoh Hannaaris Sa'id, peserta MAPAN Batch II yang berhasil menuangkan pengalaman magangnya ke dalam sebuah buku berjudul Di Balik Gedung Senayan: Menyusuri Ruang-Ruang Kebijakan, Menemukan Makna Pengabdian.Buku tersebut ditulis sebagai catatan personal selama menjalani perjalanan magang di Fraksi PAN DPR RI. Alih-alih menjadi laporan formal mengenai program MAPAN, buku tersebut mencoba merekam pengalaman seorang mahasiswa ketika berpindah dari ruang kelas menuju ruang-ruang kebijakan.Melalui buku tersebut, pengalaman mengikuti rapat, mengenal lingkungan parlemen, berinteraksi dengan berbagai orang, memahami pekerjaan di lingkungan fraksi, hingga melihat dinamika Komisi I dituangkan sebagai sebuah perjalanan reflektif. Bagi Roudhoh, pengalaman berada di parlemen bukan hanya tentang mengetahui bagaimana lembaga bekerja, tetapi juga tentang memahami makna tanggung jawab, profesionalisme, kepemimpinan, dan pengabdian.Selain menjadi ruang belajar, penutupan MAPAN Batch II juga menjadi momentum pemberian apresiasi kepada peserta. Sejumlah peserta memperoleh penghargaan atas kontribusi dan keaktifannya selama mengikuti program. Roudhoh Hannaaris Sa'id, Elvyra Putriwati, dan Kanaya Azkia menjadi peserta yang mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik.Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas proses, kontribusi, dan semangat yang diberikan selama program berlangsung. Lebih dari sekadar kompetisi, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap peserta memiliki perjalanan dan kontribusi masing-masing selama berada di lingkungan Fraksi PAN DPR RI.Kurang lebih tiga bulan berada di lingkungan parlemen membuat para peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman profesional, tetapi juga perspektif baru mengenai politik dan kehidupan bernegara. Mereka datang sebagai mahasiswa dengan berbagai latar belakang keilmuan, kemudian berproses melalui pekerjaan, diskusi, rapat, audiensi, serta berbagai kegiatan yang mempertemukan mereka dengan praktik politik secara langsung.Bersama Abdul Hakim Bafagih dalam penutupan MAPAN Batch II.Penutupan MAPAN Batch II karena itu bukan sekadar akhir dari sebuah program magang. Ia menjadi titik perpindahan dari satu ruang belajar menuju ruang belajar berikutnya. Pengalaman yang diperoleh selama berada di parlemen diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk terus berkembang, berkarya, dan mengambil peran di tengah masyarakat.Pesan tersebut juga menjadi semangat yang disampaikan kepada seluruh peserta: “Magang di Fraksi PAN, selalu terdepan.”Dengan berakhirnya MAPAN Batch II, perjalanan para peserta memang meninggalkan gedung parlemen. Namun, pengalaman, relasi, pengetahuan, dan pelajaran yang diperoleh selama berada di dalamnya akan menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.MAPAN Batch II telah selesai sebagai sebuah program. Namun bagi 20 anak muda yang mengikutinya, proses belajar tentang politik, kebijakan, profesionalisme, dan pengabdian baru saja dimulai.Penulis: Roudhoh Hannaaris Sa’id/Peserta MAPAN Batch II

02 Sep 2026
Nasional

Dari Kompleks Parlemen, Ahmad Doli Tegaskan: Masjidil Aqsa dan Palestina Tak Boleh Hilang dari Perhatian Dunia

Jakarta, BungkasNews - Isu Palestina kembali menggema dari jantung parlemen Indonesia. Di tengah dinamika politik nasional, suara tentang Masjidil Aqsa dan perjuangan rakyat Palestina kembali ditegaskan sebagai persoalan kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan tenggelam oleh hiruk-pikuk kepentingan politik global.Hal itu disampaikan Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI sekaligus Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia, saat menghadiri Simposium Masjidil Aqsa dan Palestina (SIMATINA) 2026 di Kompleks Parlemen DPR RI, Senin (31/8/2026).Ahmad Doli mengapresiasi terselenggaranya SIMATINA 2026. Menurutnya, forum tersebut bukan sekadar ruang diskusi, melainkan momentum untuk kembali memperkuat perhatian dunia terhadap Masjidil Aqsa sekaligus perjuangan rakyat Palestina.“Kami sangat mengapresiasi terselenggaranya SIMATINA 2026. Ini tentunya menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap Masjidil Aqsa serta perjuangan rakyat Palestina,” ujar Ahmad Doli.Menurutnya, perhatian terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada pernyataan solidaritas. Dukungan harus terus dijaga melalui berbagai jalur, termasuk diplomasi parlemen.Sebagai Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia, Ahmad Doli menegaskan komitmen lembaganya untuk terus menyuarakan kemerdekaan Palestina.“Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia akan terus menyuarakan untuk kemerdekaan Palestina,” tegasnya.Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa parlemen tidak ingin isu Palestina sekadar menjadi agenda seremonial. Di tengah konflik dan ketidakpastian yang terus membayangi kawasan Timur Tengah, perjuangan rakyat Palestina dinilai tetap membutuhkan perhatian dan tekanan politik dari komunitas internasional.Dari Kompleks Parlemen DPR RI, pesan itu kembali dikirim: Palestina belum selesai, Masjidil Aqsa belum boleh dilupakan, dan perjuangan menuju kemerdekaan Palestina masih menjadi agenda yang harus terus diperjuangkan.

01 Sep 2026
Nasional

Ahmad Doli Tegaskan Komitmen WPPC Kawal Perjuangan Kemerdekaan Palestina

Jakarta - Dukungan Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina kembali ditegaskan di Kompleks Parlemen DPR RI. Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia atau World Peace Parliamentary Caucus (WPPC), Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menyatakan bahwa perjuangan membela hak rakyat Palestina akan terus menjadi bagian dari komitmen parlemen Indonesia.Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Doli saat menerima dan berdiskusi dengan Ketua Lajnah Al-Quds dan Palestina, Kesatuan Ulama Muslim Antarbangsa, bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Kompleks Parlemen DPR RI, Kamis (20/8/2026).Dalam pertemuan itu, Ahmad Doli menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi Lajnah Al-Quds dan Palestina serta MUI. Ia menilai dialog antara parlemen dan kalangan ulama penting untuk memperkuat konsistensi dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina sekaligus mendorong terciptanya perdamaian dunia.Ahmad Doli menegaskan, sikap Indonesia terhadap Palestina bukanlah sikap sesaat dan bukan pula agenda yang bergantung pada pergantian pemerintahan. Dukungan tersebut, kata dia, telah menjadi komitmen yang terus dipertahankan dari masa ke masa.“Dari pemerintah ke pemerintah, dari presiden ke presiden, Indonesia selalu berupaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” ujar Ahmad Doli.Menurutnya, konsistensi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Palestina memiliki tempat penting dalam sikap politik Indonesia. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina juga tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi telah menjadi bagian dari kepedulian masyarakat Indonesia.Karena itu, Ahmad Doli memastikan parlemen tidak akan berhenti menyuarakan dukungan tersebut. Melalui WPPC, parlemen berkomitmen memperkuat diplomasi parlemen, mendorong dialog, serta mengambil bagian dalam berbagai upaya membangun perdamaian dunia.“Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia atau World Peace Parliamentary Caucus (WPPC) akan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” tegasnya.Pernyataan tersebut menegaskan posisi WPPC bahwa perjuangan Palestina bukan semata persoalan politik luar negeri, tetapi juga bagian dari agenda perdamaian dan kemanusiaan yang perlu terus diperjuangkan melalui berbagai jalur diplomasi.Pertemuan antara WPPC, Lajnah Al-Quds dan Palestina, serta MUI tersebut sekaligus membuka ruang penguatan sinergi antara parlemen dan ulama dalam membangun dukungan internasional terhadap penyelesaian persoalan Palestina secara damai dan berkeadilan.Bagi Indonesia, pesan yang disampaikan Ahmad Doli menjadi penegasan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina akan terus diperjuangkan melalui jalur diplomasi dan parlemen, sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan hak rakyat Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.

26 Aug 2026