Oleh : Robiah
Pernahkah kita duduk di depan laptop pada malam hari, membuka satu per satu berkas tugas, lalu tiba-tiba bingung harus mulai dari mana? Satu tugas belum selesai, tugas lain sudah menunggu. Tenggat waktu datang hampir bersamaan. Waktu istirahat berkurang, waktu tidur dikorbankan, bahkan makan pun terkadang terlupakan. Pada akhirnya, yang ada di kepala bukan lagi, “Apa yang bisa saya pelajari dari tugas ini?”, melainkan, “Bagaimana caranya semua ini selesai sebelum tenggat waktu?”
Begitulah rutinitas yang tidak asing bagi banyak mahasiswa, terutama ketika memasuki pertengahan semester. Makalah, presentasi, laporan mini riset, diskusi kelompok, hingga berbagai tugas lainnya hadir silih berganti. Masing-masing mungkin memiliki tujuan pembelajaran yang baik. Namun, ketika banyak tugas datang dalam waktu yang berdekatan, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk benar-benar menikmati proses belajar. Kesibukan akademik perlahan berubah menjadi perlombaan mengejar waktu.
Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah banyaknya tugas selalu berarti banyaknya pembelajaran?
Belajar seharusnya tidak berhenti pada menyelesaikan halaman, mengunggah berkas, atau mendapatkan tanda bahwa tugas telah dikumpulkan. Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, mencoba, melakukan kesalahan, kemudian menemukan pemahaman baru. Proses seperti itu membutuhkan waktu dan ruang untuk berpikir.
Hal ini bukan sekadar perasaan yang dialami sebagian mahasiswa. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada 2023 menelaah 14 penelitian mengenai stres yang memengaruhi keberhasilan akademik mahasiswa pendidikan tinggi. Kajian tersebut menemukan bahwa stres mahasiswa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk faktor akademik, psikologis, perilaku, dan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman akademik mahasiswa tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kondisi stres yang mereka hadapi.
Ketika beban akademik terasa terlalu padat, ruang tersebut dapat semakin sempit. Mahasiswa yang awalnya ingin membaca lebih banyak justru hanya membaca bagian yang dianggap penting untuk tugas. Yang seharusnya berdiskusi lebih dalam memilih mencari jawaban tercepat. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya mengerjakan tugas hingga larut malam bukan karena sedang tenggelam dalam keasyikan belajar, tetapi karena berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Dalam kondisi seperti itu, tujuan belajar bisa perlahan bergeser. Tugas yang semestinya menjadi sarana memahami materi berubah menjadi kewajiban yang harus dituntaskan. Bukan karena mahasiswa tidak ingin belajar, melainkan karena waktu, tenaga, dan perhatian harus dibagi kepada begitu banyak tuntutan dalam waktu yang bersamaan.
Padahal, pendidikan tinggi bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang mampu diselesaikan. Ada hal yang jauh lebih penting: apa yang tersisa dalam diri mahasiswa setelah tugas itu selesai? Apakah pemahamannya bertambah? Apakah cara berpikirnya berkembang? Apakah ia menjadi lebih mampu menganalisis persoalan, menyampaikan gagasan, dan memecahkan masalah?
Karena itu, tugas kuliah mungkin perlu dilihat bukan hanya dari jumlahnya, tetapi dari makna yang dibawanya. Tugas yang memberi kesempatan untuk mengamati persoalan nyata, berdiskusi, membuat proyek, melakukan penelitian sederhana, atau menemukan solusi dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi memahami mengapa tugas itu penting dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan di luar ruang kelas.
Pada akhirnya, mahasiswa memang perlu belajar bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Namun, sistem pembelajaran juga perlu memberi ruang agar tanggung jawab tersebut tidak kehilangan makna. Sebab, mahasiswa bukan sekadar seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan semester. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya: setelah semua tugas ini selesai, apa yang benar-benar kita bawa pulang—tumpukan berkas yang telah dikumpulkan, atau pengetahuan yang benar-benar melekat dalam diri?