Bungkas News

Hasil Pencarian untuk: "Pendidikan"

Ditemukan 20 berita.

Utama

Rakerwil HIMMAH Sumut Ditutup, Lahirkan 4 Program Strategis Termasuk Digitalisasi KTA Berbasis Bank Sumut

Simalungun, Bungkasnews.com — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Sumatera Utara (HIMMAH Sumut) yang mengusung tema "Aktualisasi Gerakan Intelektual Menuju #Sinergi Sumut Madani" resmi ditutup pada Minggu, 27 September 2026 di Mess Pora-Pora Pemprovsu, Parapat, Kabupaten Simalungun. Agenda strategis keorganisasian yang berlangsung selama tiga hari (25–27 September 2026) tersebut sukses merumuskan dan mengesahkan berbagai langkah terobosan untuk perbaikan tata kelola serta kaderisasi organisasi.Dalam pidato penutupannya, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) HIMMAH Sumut, Imransyah Pasai, menegaskan bahwa PW HIMMAH Sumut memberikan komitmen dan dukungan penuh terhadap perbaikan struktur keinstrukturan serta standardisasi kaderisasi nasional. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pimpinan Pusat HIMMAH telah membentuk Badan Instruktur Nasional di bawah kepemimpinan Sekretaris Jenderal PP HIMMAH, Sukri Soleh Sitorus."Perbaikan keinstrukturan dan pembenahan kaderisasi adalah harga mati. Melalui penguatan fungsi instruktur, kita ingin memastikan seluruh proses pencetakan kader HIMMAH di Sumatera Utara berjalan terukur, memiliki kualitas yang baku, kuat secara ideologis, serta memiliki legalitas hukum dan organisasi yang tidak terbantahkan," tegas Imransyah Pasai.Guna mengakselerasi langkah tersebut, dalam Rakerwil ini juga resmi ditunjuk Banu Wira Baskara sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Koordinator Badan Instruktur Nasional Wilayah Sumatera Utara. Penunjukan ini ditujukan sebagai bentuk percepatan dalam rangka penataan dan penguatan sistem keinstrukturan di Sumatera Utara.Sebagai penjelmaan dari komitmen konsolidasi tersebut, Rakerwil HIMMAH Sumut berhasil menyepakati empat program unggulan strategis yang menjadi pijakan gerak organisasi ke depan:Biro Instruktur Wilayah: Berfungsi sebagai badan semi-otonom di bawah Bidang Pendidikan, Kaderisasi, dan Keanggotaan yang memegang otoritas pedagogis. Biro ini menjadi satu-satunya pemegang wewenang memimpin sidang yudisium kelulusan, memandu baiat, serta mengukuhkan kader pada jenjang Latihan Kader Dasar (LKD), Latihan Kader Menengah (LKM), dan Latihan Kader Lanjut (LKA).KTA Digital & Smart Card Terintegrasi Bank Sumut (Platform SIM-HIMMAH Sumut): Penguatan sistem pendataan keanggotaan terpadu yang terintegrasi langsung dengan jaringan perbankan Bank Sumut. Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara PW HIMMAH Sumut dan Bank Sumut di sela-sela Rakerwil. KTA berteknologi smart card dan QR-Code ini berfungsi sebagai kartu identitas legal, verifikasi Nomor Induk Registrasi Kader (NIRK), kartu akses forum resmi, serta sarana transaksi perbankan.Keadministrasian dan Standardisasi Sertifikat Berbarcode: Pembakuan tata naskah persuratan dan pengarsipan digital di bawah pengawasan Sekretariat Wilayah. Setiap sertifikat kelulusan jenjang LKD, LKM, dan LKA kini wajib melampirkan QR-Code Certificate Validator serta ditandatangani oleh Ketua PC, Koordinator Instruktur, dan disahkan oleh Ketua PW HIMMAH Sumut guna menjamin keaslian dokumen.Pengembangan Amal Usaha dan Kemandirian Ekonomi: Pembentukan pusat inkubasi bisnis mandiri sebagai wadah pembentukan dana abadi kas organisasi. Program ini mencakup HIMMAH Store & Merchandise Hub, Klinik Usaha & Legalitas UMKM Kader (fasilitas NIB dan sertifikasi halal gratis), serta penyediaan modal bergulir syariah hasil kerja sama dengan BAZNAS Provinsi Sumatera Utara.Penutupan Rakerwil dilakukan secara resmi oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) HIMMAH, Abdul Razak Nasution. Dalam arahannya, Abdul Razak mengapresiasi tinggi jajaran PW HIMMAH Sumut yang dinilainya sukses menjadi pelopor dalam modernisasi organisasi, digitalisasi kaderisasi, dan penguatan kemandirian ekonomi di tingkat wilayah."Kami mengapresiasi langkah progresif PW HIMMAH Sumut. Terobosan ini diharapkan tidak berhenti di atas kertas, tetapi segera diimplementasikan secara berjenjang hingga ke tingkat pimpinan cabang dan komisariat demi melahirkan kader Al Washliyah yang berdaya saing tinggi, mandiri, dan berkarakter," pungkas Abdul Razak.

28 Sep 2026
Utama

Workshop Character Building HIMMAH Kab.Tangerang Diikuti 130 Peserta, Jadi Ruang Kenali Diri dan Perkenalkan HIMMAH kepada Generasi Muda

Tangerang, Bungkasnews.com — Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PC HIMMAH) Kabupaten Tangerang sukses menyelenggarakan Workshop Character Building dengan tema “WHO AM I? Kenali Dirimu, Temukan Potensimu, Tentukan Arahmu”, Minggu (27/9/2026).Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Istighna, Islamic Village, Kabupaten Tangerang, tersebut diikuti sekitar 130 peserta yang berasal dari unsur mahasiswa dan pelajar tingkat SLTA. Kegiatan turut dihadiri oleh Dewan Penasehat PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Muhammad Nizam Harahap dan Ahmad Taufik Lubis, serta jajaran pengurus PC HIMMAH Kabupaten Tangerang.Workshop menghadirkan Muhammad Khairil sebagai pembicara. Kegiatan dikemas sebagai ruang pembelajaran dan refleksi bagi peserta untuk lebih mengenal karakter diri, menggali potensi, membangun kepercayaan diri, serta menentukan arah pengembangan diri.Perkenalkan HIMMAH kepada Mahasiswa, Pelajar, dan MasyarakatSelain menjadi kegiatan pengembangan karakter, workshop ini juga menjadi bagian dari upaya PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperkenalkan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) secara lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di wilayah Tangerang.Melalui kegiatan tersebut, HIMMAH berupaya membangun kedekatan dengan generasi muda sekaligus memperkenalkan organisasi sebagai ruang untuk pengembangan diri, kepemimpinan, intelektualitas, serta pengabdian kepada masyarakat.Kehadiran sekitar 130 peserta dari unsur mahasiswa dan pelajar SLTA menjadi momentum bagi PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperluas silaturahmi dan membangun jejaring dengan generasi muda.Ketua PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Mhd. Nehru Lubis, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas keberadaan dan kontribusi HIMMAH di tengah masyarakat Tangerang.“Kegiatan ini menjadi momentum bagi kami untuk memperkenalkan HIMMAH lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di Tangerang. Kami ingin HIMMAH tidak hanya dikenal sebagai organisasi mahasiswa, tetapi juga hadir sebagai ruang untuk belajar, berkembang, membangun kepemimpinan, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Nehru.Ia juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan dampak bagi para peserta.“Kami ingin peserta tidak hanya bertanya tentang apa yang ingin mereka capai, tetapi juga memahami siapa diri mereka, apa potensi yang mereka miliki, dan ke mana arah yang ingin mereka tuju. Karena mengenal diri adalah bagian penting dalam membangun karakter dan menentukan masa depan,” tambahnya.Sementara itu, Ketua Panitia, Rizky Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan dirancang secara interaktif agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses diskusi dan refleksi.“Kami ingin workshop ini menjadi ruang bagi peserta untuk berhenti sejenak, melihat kembali dirinya, mengenali kekuatan dan kekurangannya, kemudian menyusun langkah untuk berkembang. Antusiasme sekitar 130 peserta menjadi energi positif bagi kami sebagai panitia,” ungkap Rizky.Apresiasi untuk Sponsor, Mitra, dan Pihak PendukungPC HIMMAH Kabupaten Tangerang turut menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, mitra, serta pihak pendukung yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Workshop Character Building ini, di antaranya:Hj. Nurmiyah LubisHj. Hidayah Sya'banahH. Islam Akbar Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Ibu Ida Wardani Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Smile Lovers BreadKetua PW HIMMAH BantenDukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dan pelajar SLTA dalam ruang pembelajaran dan pengembangan karakter.“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor dan pihak yang telah memberikan dukungan. Dukungan ini bukan hanya membantu terselenggaranya kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan memiliki arah,” ujar Nehru.Rizky Hidayat juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membersamai kegiatan tersebut.“Kami sangat mengapresiasi seluruh sponsor dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut dalam kegiatan-kegiatan positif berikutnya,” tutur Rizky.Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama. PC HIMMAH Kabupaten Tangerang berharap workshop tersebut dapat menjadi pintu awal bagi peserta untuk mengenal lebih dekat HIMMAH, menemukan potensi diri, membangun karakter, serta terdorong untuk mengambil peran positif di lingkungan pendidikan, organisasi, dan masyarakat.Melalui kegiatan ini, PC HIMMAH Kabupaten Tangerang juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang pembinaan dan kolaborasi bagi mahasiswa, pelajar, serta masyarakat di wilayah Tangerang.

28 Sep 2026
Terkini

Lamhot Sinaga: Untirta Punya Peran Strategis Menyiapkan SDM Unggul dari Banten untuk Indonesia

Jakarta, Bungkasnews.com — Ketua Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta) yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyampaikan ucapan selamat atas peringatan Dies Natalis ke-45 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).Lamhot berharap momentum 45 tahun perjalanan Untirta tidak hanya menjadi perayaan atas capaian yang telah diraih, tetapi juga menjadi titik tolak untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat, pembangunan Banten, dan kemajuan Indonesia."Selamat Dies Natalis ke-45 untuk Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh civitas akademika Untirta yang selama ini telah menjaga dan mengembangkan tradisi akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi," kata Lamhot dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).Menurut Lamhot, usia 45 tahun merupakan perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa Untirta telah menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan tinggi di Banten.Karena itu, ia berharap Untirta tidak berhenti pada pencapaian institusional, tetapi terus memperluas kontribusinya sehingga keberadaan kampus benar-benar dirasakan oleh masyarakat."Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi ruang untuk menghasilkan lulusan. Kampus harus menjadi pusat pengetahuan, pusat inovasi, sekaligus mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan," ujar Lamhot.Ia mengatakan, posisi Untirta menjadi semakin penting karena Banten merupakan salah satu provinsi dengan dinamika ekonomi yang sangat besar. Perkembangan industri, perdagangan, jasa, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga transformasi digital membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus kemampuan beradaptasi.Dalam konteks tersebut, menurut Lamhot, Untirta memiliki peluang besar untuk menjadi garda terdepan pendidikan tinggi di Banten yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional."Untirta harus menjadi salah satu lokomotif utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di Banten. Kampus ini harus mampu membaca perubahan zaman dan menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap masuk dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.Lamhot menilai hubungan antara pendidikan tinggi dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Kualitas pendidikan akan menentukan kualitas tenaga kerja, sementara kualitas tenaga kerja akan memengaruhi produktivitas dan daya saing ekonomi suatu daerah.Karena itu, ia berharap pengembangan Untirta ke depan semakin diarahkan pada penguatan riset, inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan kolaborasi dengan dunia industri."Kalau kita ingin ekonomi tumbuh secara berkelanjutan, maka fondasinya adalah manusia. Kita membutuhkan manusia yang terdidik, memiliki keterampilan, mampu berinovasi, dan mempunyai keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru," ujar Lamhot.Ia juga mendorong agar hasil penelitian dan inovasi yang lahir dari lingkungan Untirta tidak berhenti di ruang-ruang akademik. Pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi, kata dia, perlu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat digunakan masyarakat dan dunia usaha.Menurut Lamhot, kampus memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan industri."Riset harus memiliki kebermanfaatan. Inovasi harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Dan pendidikan harus memiliki keterhubungan dengan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat," katanya.Dalam pandangannya, tantangan perguruan tinggi ke depan juga semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan artifisial, otomasi, ekonomi digital, perubahan struktur industri, serta kebutuhan terhadap pekerjaan berbasis pengetahuan akan mengubah peta kompetensi tenaga kerja.Karena itu, Untirta perlu terus memperkuat ekosistem pembelajaran yang adaptif agar mahasiswa memiliki kemampuan akademik sekaligus keterampilan yang relevan dengan perubahan dunia kerja."Mahasiswa Untirta harus dipersiapkan bukan hanya untuk menghadapi dunia hari ini, tetapi juga dunia sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, teknologi, kewirausahaan, dan karakter harus berjalan bersama," ujar Lamhot.Lamhot juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara Untirta dan para alumninya. Menurut dia, alumni merupakan bagian dari ekosistem perguruan tinggi yang dapat memberikan kontribusi melalui pengalaman profesional, jejaring, mentoring, kerja sama, maupun dukungan terhadap pengembangan kampus.Sebagai Ketua IKA Untirta, Lamhot mengatakan bahwa organisasi alumni memiliki tanggung jawab untuk ikut memperkuat hubungan antara kampus dan dunia profesional."IKA Untirta harus menjadi jembatan yang mempertemukan potensi kampus dengan pengalaman para alumni. Kita ingin alumni tidak hanya datang ketika ada acara seremonial, tetapi juga hadir dalam pengembangan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, jejaring industri, dan pengabdian kepada masyarakat," katanya.Ia berharap sinergi antara civitas akademika, alumni, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat semakin diperkuat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar perguruan tinggi tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan pembangunan.Lamhot mengatakan, pembangunan pendidikan pada akhirnya bukan hanya mengenai pembangunan gedung, peningkatan jumlah mahasiswa, atau bertambahnya program studi. Lebih dari itu, pembangunan pendidikan harus tercermin dari kemampuan sebuah perguruan tinggi menghasilkan manusia dan pengetahuan yang memberikan dampak nyata."Ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya seberapa besar institusinya berkembang, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap masyarakat dan bangsa," ujar dia.Dalam konteks Banten, Lamhot berharap Untirta dapat menjadi pusat pengembangan gagasan dan inovasi yang mampu memperkuat daya saing daerah. Kampus diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap berbagai sektor strategis, mulai dari industri, ekonomi kreatif,UMKM, teknologi, lingkungan, hingga pengembangan masyarakat.Ia juga berharap lulusan Untirta dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi baru di Banten dan berdampak secara nasional. Tidak seluruh lulusan harus berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga didorong menjadi pencipta lapangan kerja melalui kewirausahaan dan inovasi."Kalau setiap tahun lahir generasi muda yang memiliki kemampuan menciptakan usaha, mengembangkan teknologi, dan membangun inovasi, maka kampus secara tidak langsung ikut menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi baru," kata Lamhot.Menurut dia, kontribusi tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak bagi Banten. Perguruan tinggi daerah yang mampu menghasilkan SDM berkualitas akan ikut memperkuat struktur sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.Lamhot berharap perjalanan 45 tahun Untirta menjadi fondasi untuk memasuki fase baru yang lebih kuat. Ia mendorong seluruh civitas akademika menjaga budaya akademik sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan."Selamat ulang tahun ke-45 untuk Untirta. Semoga semakin maju, semakin kuat, semakin terbuka terhadap inovasi, dan semakin besar kontribusinya bagi Banten dan Indonesia," ujar Lamhot.Ia menambahkan, IKA Untirta akan terus mendukung kemajuan almamater melalui berbagai bentuk kolaborasi yang memungkinkan. Menurut dia, kemajuan Untirta merupakan kepentingan bersama seluruh keluarga besar alumni."Sebagai alumni, tentu kami ingin melihat Untirta tumbuh menjadi perguruan tinggi yang semakin diperhitungkan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kemajuan itu memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat," kata Lamhot.Lamhot yang dikenal sebagai mantan aktivist kampus dan kepemudaan di level nasional ini pun mengajak seluruh civitas akademika Untirta menjadikan Dies Natalis ke-45 sebagai momentum untuk memperkuat optimisme dan semangat pengabdian."Empat puluh lima tahun adalah perjalanan yang panjang, tetapi masa depan masih jauh lebih panjang. Mari kita jadikan momentum ini untuk membangun Untirta yang semakin unggul, inovatif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan bangsa," ujar dia.

26 Sep 2026
Mahasiswa

Memperkuat Jiwa Kepemimpinan dan Nilai Gontor, Prodi HI UNIDA Gontor Gelar International Relations Leadership Course

Unida Gontor, Bungkasnews.com - Fakultas Humaniora melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HMP HI) Universitas Darussalam Gontor sukses menyelenggarakan kegiatan International Relations Leadership Course. Acara yang berlangsung pada Kamis malam, 17/9/2026, berlokasi di Hall Sirah Nabawiyah, Kampus Siman UNIDA Gontor.Mengusung tema “Building Visionary Leaders: Strengthening Leadership, Organizational Governance and Gontorian Values for Future International Relations Leaders”, agenda ini diwajibkan bagi seluruh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Semester 2 hingga Semester 8. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Kifah Gibraltar Bey Fananie, B.A., M.K.P.Dalam pemaparannya, Kifah Gibraltar Bey Fananie menekankan pentingnya bagi calon sarjana Hubungan Internasional untuk tidak hanya menguasai teori politik dan hubungan luar negeri secara akademis, tetapi juga memiliki ketahanan mental serta etika kepemimpinan yang matang.Beliau menggarisbawahi bahwa dinamika sosial dan politik, baik di tingkat nasional maupun internasional yang memerlukan kedewasaan sikap dan kematangan emosional.Dalam salah satu penyampaiannya, narasumber memberikan pesan mendalam terkait keterlibatan sosial dan politik:"Pada umumnya bersosialisasi dan pada khususnya berpolitik hanya di tenggorokan, jangan dimasukkan ke dalam hati."Pesan ini mengingatkan para mahasiswa agar mampu membedakan dinamika peran dalam berorganisasi atau berpolitik dengan hubungan personal, sehingga tidak mudah terbawa perasaan yang kontraproduktif.Lebih lanjut, pemateri mengajak para mahasiswa untuk memahami realitas dalam perjuangan berorganisasi dan kehidupan bermasyarakat. Menghadapi dinamika keputusan dan perubahan sikap orang lain memerlukan kedewasaan berpikir."Kita tidak pernah tahu alasan apa yang mereka pegang untuk kemudian beralih mengambil langkah-langkah tersebut. Karena di politik, bahkan di hidup kita ini, kita harus selalu menyiapkan dan menyisakan ruang untuk kecewa, tapi kita tidak boleh menyiapkan dan menyisakan ruang untuk menyerah," pungkas beliau di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.Poin inti yang turut menjadi sorotan utama dalam kuliah kepemimpinan ini adalah penanaman nilai ke-Gontor-an. Narasumber menegaskan prinsip dasar lembaga tempat para mahasiswa berteduh dan belajar."Berdiri dan untuk semua golongan itu adalah Gontor sebagai lembaga pendidikan, karena pendidikan harus berdiri di atas dan untuk semua golongan. Namun, bukan berarti sebagai alumni kita tidak aktif dan tidak boleh masuk di lini partai politik atau ormas tertentu. Bergeraklah sebagai alumni," terangnya.Prinsip ini menegaskan bahwa nilai netralitas dan inklusivitas institusi harus dijaga sebagai pondasi pendidikan, namun setelah menjadi alumni, para lulusan diharapkan dapat berperan aktif dan membawa warna positif di berbagai lini kemasyarakatan, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan.Melalui kegiatan ini, Fakultas Humaniora UNIDA Gontor berharap mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional dapat tumbuh menjadi pribadi yang berpandangan jauh ke depan (visioner), tangguh dalam menghadapi dinamika organisasi, serta senantiasa memegang teguh identitas dan nilai-nilai Gontorian.Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata. Antusiasme peserta yang memenuhi Hall Sirah Nabawiyah mencerminkan semangat generasi muda UNIDA Gontor untuk terus belajar dan bersiap menjadi pemimpin di kancah nasional maupun internasional.

20 Sep 2026
Nasional

Prabowo Ingin Kuliah di PTN Gratis, Pemerintah Siapkan Kajian

Jakarta, Bungkasnews.com – Wacana pendidikan gratis kembali mencuat. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya agar biaya pendidikan di sekolah negeri hingga perguruan tinggi negeri (PTN) bisa digratiskan.Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan pemerintah akan menindaklanjuti arahan Presiden. Dilansir dari detikNews, Brian menyebut Presiden Prabowo sebelumnya juga telah meminta kementeriannya mengkaji kemungkinan menggratiskan biaya kuliah di PTN.“Kami tentu akan menindak lanjuti arahan Bapak Presiden. Sebetulnya, sejak beberapa waktu lalu Bapak Presiden juga sudah meminta kami untuk melakukan kajian terhadap kemungkinan menggratiskan biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri,” kata Brian kepada wartawan, Minggu (20/9/2026).Skema Pembiayaan Masih DikajiMenurut Brian, kajian yang dilakukan pemerintah salah satunya membahas opsi skema pembiayaan untuk pendidikan tinggi negeri.Setelah kajian selesai, hasilnya akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo. Selanjutnya, rencana tersebut akan dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait.“Setelah selesai (kajiannya), tentu kami akan laporkan kepada Bapak Presiden untuk dibahas secara menyeluruh bersama kementerian dan lembaga terkait lainnya,” ujar Brian.Artinya, wacana kuliah gratis di PTN saat ini masih berada dalam tahap kajian. Belum ada keterangan mengenai kapan kebijakan tersebut mulai diterapkan atau seperti apa skema pembiayaannya.Saat Ini Sudah Ada KIP Kuliah dan BeasiswaBrian juga menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memberikan dukungan biaya pendidikan bagi mahasiswa melalui sejumlah program.Salah satunya melalui KIP Kuliah dan berbagai program beasiswa, terutama untuk mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.Brian menyebut, pada 2025 sekitar 28,2 persen mahasiswa baru yang diterima di PTN memperoleh dukungan pembiayaan melalui berbagai skema tersebut.Menurutnya, dukungan tersebut memiliki semangat yang sama, yaitu memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.“Semangatnya sama: bagaimana kita semakin membuka akses pendidikan tinggi yang berkualitas bagi seluruh anak Indonesia,” tambah Brian.Prabowo Sebut Pendidikan Negeri Harus GratisSebelumnya, Prabowo menyampaikan rencana menggelar rapat terbatas atau ratas untuk membahas biaya pendidikan negeri.Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat (18/9/2026).Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyatakan bahwa pendidikan di sekolah negeri, mulai dari SD hingga universitas negeri, harus gratis.“Saya sangat setuju, saya akan segera mengadakan ratas atau pokoknya biaya pendidikan negeri harus gratis. Biaya pendidikan negeri SD, SMP, SMA, universitas negeri harus gratis,” ujar Prabowo.Prabowo juga menyinggung soal sumber anggaran untuk mewujudkan pendidikan gratis tersebut. Ia mengatakan dana hasil korupsi harus dikembalikan dan digunakan untuk kepentingan masyarakat.Untuk saat ini, pemerintah masih menyusun kajian mengenai kemungkinan dan skema pembiayaan pendidikan gratis di PTN. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut antara Presiden dengan kementerian dan lembaga terkait.

20 Sep 2026
Mahasiswa

Merajut Silaturahmi di Perantauan, Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal Sambut Mahasiswa Baru di Islamic Village Tangerang

Tangerang, Bungkasnews.com — Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IKAMA) menyambut kedatangan mahasiswa baru asal Mandailing Natal yang melanjutkan pendidikan di Tangerang. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 18/9/2026, pukul 20.00 WIB, bertempat di Lapangan IB Islamic Village, Tangerang.Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun rasa kekeluargaan di antara mahasiswa asal Mandailing Natal yang berada di tanah rantau.Sebanyak 11 mahasiswa baru asal Mandailing Natal turut hadir dalam kegiatan penyambutan tersebut. Mereka merupakan mahasiswa yang baru datang dari Mandailing Natal untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Tangerang.Kehadiran mahasiswa baru tersebut disambut oleh mahasiswa asal Mandailing Natal yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan akademik di Tangerang. Khususnya di Universitas Cendekia Abditama, Islamic Village, saat ini terdapat kurang lebih 150 mahasiswa asal Mandailing Natal yang sedang menempuh pendidikan.Kegiatan penyambutan tersebut tidak hanya menjadi ajang perkenalan, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagi pengalaman mengenai kehidupan perkuliahan, lingkungan kampus, hingga dinamika kehidupan mahasiswa di tanah rantau.Baca juga: Doli Kurnia: Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Palestina MerdekaKetua IKAMA, Abdul Rasyid Lubis, menyampaikan bahwa penyambutan mahasiswa baru merupakan bagian dari upaya membangun kekeluargaan dan solidaritas mahasiswa asal Mandailing Natal.“Kami ingin mahasiswa baru yang datang dari Mandailing Natal merasa diterima dan memiliki keluarga di tanah rantau. IKAMA hadir sebagai ruang untuk saling mengenal, saling mendukung, dan bersama-sama berkembang selama menjalani pendidikan di Tangerang,” ujar Abdul Rasyid Lubis.Menurutnya, keberadaan mahasiswa Mandailing Natal di Tangerang merupakan bagian dari potensi generasi muda yang perlu terus dibangun melalui pendidikan, organisasi, dan hubungan kekeluargaan.Ia berharap mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan serta aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.Sementara itu, Mantan Wakil Ketua Umum IKAMA (demisioner), Muhammad Nehru Lubis, yang akrab disapa Bung Lubis, turut memberikan pesan kepada mahasiswa baru agar menjadikan pengalaman merantau sebagai ruang untuk mengembangkan diri.Muhammad Nehru Lubis/ Demisioner wakil ketua umum IKAMA“Datang ke tanah rantau bukan hanya untuk mendapatkan gelar akademik, tetapi juga untuk membangun pengalaman, jaringan, dan karakter. Jadikan perantauan sebagai ruang belajar untuk tumbuh dan memberikan manfaat,” ujar Bung Lubis.Ia juga mengingatkan mahasiswa baru untuk tetap menjaga identitas dan nilai-nilai daerah selama berada di perantauan.“Kita boleh jauh dari kampung halaman, tetapi jangan sampai jauh dari nilai, budaya, dan semangat untuk membawa nama baik Mandailing Natal. Jadilah mahasiswa yang mampu berprestasi, berorganisasi, dan memberi kontribusi,” tambahnya.Baca juga: Tugas Kuliah Banyak, tetapi Apakah Kita Benar-Benar Belajar?Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk berkenalan dengan mahasiswa senior, bertukar pengalaman, serta membangun jaringan sesama mahasiswa asal Mandailing Natal.Dengan hadirnya mahasiswa baru tersebut, IKAMA berharap hubungan kekeluargaan antar-mahasiswa Mandailing Natal di Tangerang semakin kuat. Penyambutan ini juga diharapkan menjadi awal bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dan menjalani kehidupan akademik dengan penuh semangat di tanah rantau.Bagi IKAMA, perantauan bukan sekadar tempat untuk menempuh pendidikan, tetapi juga ruang untuk membangun persaudaraan, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan generasi muda Mandailing Natal agar mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan daerah asalnya.

19 Sep 2026
Opini

Tugas Kuliah Banyak, tetapi Apakah Kita Benar-Benar Belajar?

Oleh : RobiahPernahkah kita duduk di depan laptop pada malam hari, membuka satu per satu berkas tugas, lalu tiba-tiba bingung harus mulai dari mana? Satu tugas belum selesai, tugas lain sudah menunggu. Tenggat waktu datang hampir bersamaan. Waktu istirahat berkurang, waktu tidur dikorbankan, bahkan makan pun terkadang terlupakan. Pada akhirnya, yang ada di kepala bukan lagi, “Apa yang bisa saya pelajari dari tugas ini?”, melainkan, “Bagaimana caranya semua ini selesai sebelum tenggat waktu?”Begitulah rutinitas yang tidak asing bagi banyak mahasiswa, terutama ketika memasuki pertengahan semester. Makalah, presentasi, laporan mini riset, diskusi kelompok, hingga berbagai tugas lainnya hadir silih berganti. Masing-masing mungkin memiliki tujuan pembelajaran yang baik. Namun, ketika banyak tugas datang dalam waktu yang berdekatan, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk benar-benar menikmati proses belajar. Kesibukan akademik perlahan berubah menjadi perlombaan mengejar waktu.Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah banyaknya tugas selalu berarti banyaknya pembelajaran?Belajar seharusnya tidak berhenti pada menyelesaikan halaman, mengunggah berkas, atau mendapatkan tanda bahwa tugas telah dikumpulkan. Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, mencoba, melakukan kesalahan, kemudian menemukan pemahaman baru. Proses seperti itu membutuhkan waktu dan ruang untuk berpikir.Hal ini bukan sekadar perasaan yang dialami sebagian mahasiswa. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada 2023 menelaah 14 penelitian mengenai stres yang memengaruhi keberhasilan akademik mahasiswa pendidikan tinggi. Kajian tersebut menemukan bahwa stres mahasiswa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk faktor akademik, psikologis, perilaku, dan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman akademik mahasiswa tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kondisi stres yang mereka hadapi.Ketika beban akademik terasa terlalu padat, ruang tersebut dapat semakin sempit. Mahasiswa yang awalnya ingin membaca lebih banyak justru hanya membaca bagian yang dianggap penting untuk tugas. Yang seharusnya berdiskusi lebih dalam memilih mencari jawaban tercepat. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya mengerjakan tugas hingga larut malam bukan karena sedang tenggelam dalam keasyikan belajar, tetapi karena berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu.Dalam kondisi seperti itu, tujuan belajar bisa perlahan bergeser. Tugas yang semestinya menjadi sarana memahami materi berubah menjadi kewajiban yang harus dituntaskan. Bukan karena mahasiswa tidak ingin belajar, melainkan karena waktu, tenaga, dan perhatian harus dibagi kepada begitu banyak tuntutan dalam waktu yang bersamaan.Padahal, pendidikan tinggi bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang mampu diselesaikan. Ada hal yang jauh lebih penting: apa yang tersisa dalam diri mahasiswa setelah tugas itu selesai? Apakah pemahamannya bertambah? Apakah cara berpikirnya berkembang? Apakah ia menjadi lebih mampu menganalisis persoalan, menyampaikan gagasan, dan memecahkan masalah?Karena itu, tugas kuliah mungkin perlu dilihat bukan hanya dari jumlahnya, tetapi dari makna yang dibawanya. Tugas yang memberi kesempatan untuk mengamati persoalan nyata, berdiskusi, membuat proyek, melakukan penelitian sederhana, atau menemukan solusi dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi memahami mengapa tugas itu penting dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan di luar ruang kelas.Pada akhirnya, mahasiswa memang perlu belajar bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Namun, sistem pembelajaran juga perlu memberi ruang agar tanggung jawab tersebut tidak kehilangan makna. Sebab, mahasiswa bukan sekadar seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan semester. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas.Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya: setelah semua tugas ini selesai, apa yang benar-benar kita bawa pulang—tumpukan berkas yang telah dikumpulkan, atau pengetahuan yang benar-benar melekat dalam diri?

19 Sep 2026
Utama

Mahasiswa Aek Mata di Jakarta Apresiasi Komitmen Brimob Bangun Jembatan Utama penghubung desa

Jakarta, Bungkasnews.com – Komitmen Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda Sumatera Utara untuk membangun jembatan utama Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, mendapat apresiasi dari mahasiswa asal Aek Mata yang berada di Jakarta.Apresiasi tersebut disampaikan menyusul survei kedua yang dilakukan personel Batalyon C Pelopor Brimob Polda Sumut pada 15 September 2026 untuk melihat langsung kondisi jembatan serta kebutuhan di lapangan.Nehru Lubis, mahasiswa asal Desa Aek Mata di Jakarta, menilai survei kedua tersebut menunjukkan adanya keseriusan dan komitmen untuk menindaklanjuti kebutuhan masyarakat.“Kami sangat mengapresiasi Batalyon C Pelopor Brimob Polda Sumut yang kembali turun melakukan survei. Ini menunjukkan bahwa pembangunan jembatan utama Aek Mata mendapat perhatian serius dan kami berharap komitmen tersebut segera terealisasi,” ujar Nehru.Nehru Lubis juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Aek Mata, Andi Sahweri Lubis, yang dinilai terus memperjuangkan pembangunan dan kebutuhan infrastruktur desa.“Kami juga mengapresiasi Kepala Desa Aek Mata yang terus bekerja keras memperjuangkan pembangunan desa. Semoga sinergi dan perjuangan semua pihak ini dapat menghasilkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.Pembangunan jembatan utama tersebut diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat, mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, serta berbagai kegiatan sosial warga.Baca juga: Survei Kedua, Brimob Batalyon C Tegaskan Komitmen Bangun Jembatan Utama Aek MataSebelumnya, sejumlah titik jembatan di Desa Aek Mata membutuhkan perhatian. Salah satu titik telah mendapatkan penanganan melalui program Jembatan Merah Putih. Kini, pembangunan jembatan utama menjadi salah satu harapan masyarakat yang diharapkan segera terealisasi.Mahasiswa Aek Mata di Jakarta berharap komitmen pembangunan tersebut dapat berjalan lancar hingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan kemajuan Desa Aek Mata.

16 Sep 2026
Daerah

Survei Kedua, Brimob Batalyon C Tegaskan Komitmen Bangun Jembatan Utama Aek Mata

Mandailing Natal, Bungkasnews.com – Harapan masyarakat Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, untuk memiliki jembatan utama yang layak kembali mendapat angin segar. Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda Sumatera Utara menunjukkan komitmennya dengan kembali turun ke lapangan untuk melakukan survei kondisi jembatan.Peninjauan kali ini merupakan survei kedua yang dilakukan Batalyon C Pelopor Brimob Polda Sumut Selasa, 15 /9/2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut setelah sebelumnya dilakukan peninjauan terhadap kondisi jembatan yang selama ini menjadi akses penting bagi masyarakat.Dalam survei lanjutan tersebut, personel Brimob kembali melihat secara langsung kondisi fisik jembatan, sekaligus memastikan kebutuhan dan kondisi lapangan sebagai bagian dari persiapan pembangunan.Komitmen tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat Aek Mata. Pembangunan jembatan utama telah mendapat persetujuan dan insyaallah akan direalisasikan dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur masyarakat tidak berhenti pada tahap peninjauan, tetapi dilanjutkan dengan langkah konkret menuju pembangunan.Baca juga: Anggota DPR Skeptis Penerapan E-Voting Bisa Diterapkan di IndonesiaKepala Desa Aek Mata, Andi Sahweri, menyampaikan apresiasi atas keseriusan Batalyon C Pelopor Brimob Polda Sumut yang telah dua kali turun langsung melihat kondisi jembatan.Menurutnya, survei kedua tersebut semakin memperkuat harapan masyarakat bahwa pembangunan jembatan utama desa benar-benar akan ditindaklanjuti.“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan mengapresiasi perhatian dari Batalyon C Brimob. Ini bukan hanya sekadar survei, tetapi sudah ada komitmen dan persetujuan untuk pembangunan. Insyaallah dalam waktu dekat akan direalisasikan,” ujarnya.Jembatan utama tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Aek Mata karena menjadi salah satu akses yang digunakan warga dalam menjalankan berbagai aktivitas, termasuk mobilitas, pendidikan, maupun kegiatan ekonomi.Sebelumnya, sejumlah titik jembatan di Desa Aek Mata juga membutuhkan perhatian. Salah satu titik telah mendapat penanganan melalui program Jembatan Merah Putih. Kini, pembangunan jembatan utama menjadi harapan berikutnya bagi masyarakat.Dengan survei yang telah dilakukan untuk kedua kalinya dan adanya persetujuan pembangunan, masyarakat berharap komitmen Batalyon C Pelopor Brimob Polda Sumut tersebut segera terwujud di lapangan.Bagi warga Aek Mata, jembatan ini bukan sekadar bangunan penghubung, melainkan akses penting yang menghubungkan aktivitas dan kehidupan masyarakat. Karena itu, rencana pembangunan tersebut disambut sebagai sebuah harapan baru bagi kemajuan desa.

16 Sep 2026
Mahasiswa

Mahasiswa PPL/PLP FTIK UCA di SMA Islamic Centre Jalani Monev

Tangerang, Bungkasnews.com — Pelaksanaan Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Lapangan Profesi (PLP) mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Cendekia Abditama (FTIK UCA) di SMA Islamic Center Kota Tangerang telah memasuki hampir dua bulan. Untuk mengetahui perkembangan program tersebut, pihak program studi melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pada Selasa, 15 September 2026.Kegiatan Monev tersebut dilaksanakan oleh Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Dr. Maemunah, M.A.Pd., bersama Kaprodi Manajemen Pendidikan Agama Islam (MPI), Dadang Wahyudin, M.Pd. Keduanya hadir secara langsung untuk berdiskusi dengan mahasiswa peserta PPL dan PLP di ruang meeting SMA Islamic Center Kota Tangerang.Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.50 WIB dan berlangsung kurang lebih selama setengah hingga satu jam. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan perkembangan selama menjalankan program PPL dan PLP yang telah berlangsung hampir dua bulan.Monev dilakukan untuk mengetahui sejauh mana progres pelaksanaan kegiatan PPL dan PLP, termasuk proses adaptasi mahasiswa di lingkungan sekolah, hubungan dengan guru pamong, serta komunikasi dan koordinasi dengan dosen pembimbing lapangan (DPL).Salah satu hal yang menjadi pembahasan dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana mahasiswa membangun hubungan dan komunikasi dengan guru pamong selama menjalankan tugas di sekolah. Mahasiswa juga menyampaikan pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengikuti kegiatan pembelajaran, serta menjalankan berbagai tanggung jawab yang diberikan selama program berlangsung.Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan perhatian terkait komunikasi dengan DPL, yang dalam pelaksanaan PPL dan PLP ini dibimbing oleh Dr. Deden Saeful Ridhwan MZ., M.A.Melalui kegiatan Monev, pihak program studi dapat memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan PPL dan PLP secara langsung dari mahasiswa di lokasi praktik. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi dan komunikasi untuk mengetahui berbagai perkembangan maupun kendala yang dihadapi mahasiswa selama menjalankan program.Bagi mahasiswa, Monev menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dijalani selama hampir dua bulan. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan agar pelaksanaan PPL dan PLP dapat berjalan lebih baik hingga program selesai.Dengan adanya monitoring dan evaluasi secara langsung, pelaksanaan PPL dan PLP mahasiswa di SMA Islamic Center Kota Tangerang diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kegiatan akademik, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai calon tenaga pendidik dan profesional di bidang pendidikan.

15 Sep 2026
Utama

BLUVOCATION CREATIVE FEST THE THIRD: Mengusung Tema "Beyond The Stars" , SMK Budi Luhur Siap Kembali Pamerkan Karya Pelajar di Layar Bioskop XXI

Tangerang, 15 September 2026 – Sebagai wujud komitmen dalam mencetak lulusan yang kompeten dan kreatif, SMK Budi Luhur dengan bangga mengumumkan puncak perhelatan Projek Kreatif Kewirausahaan (PKK) melalui acara BLUVOCATION CREATIVE FEST THE THIRD 2026. Acara puncak ini akan ditandai dengan pemutaran karya (screening) dan penganugerahan (awarding) yang diselenggarakan secara eksklusif di bioskop XXI Bintaro Xchange Mall 2.Tahun ini, festival mengusung tema "Beyond The Stars" yang mencerminkan semangat untuk menggapai impian setinggi bintang. Tema ini menjadi simbol keberanian agar setiap peserta percaya pada potensi diri, terus berkembang, dan berani meraih masa depan tanpa batas.BLUVOCATION CREATIVE FEST hadir sebagai platform ekosistem kolaboratif yang mempertemukan pelajar, dunia industri, komunitas kreatif, perguruan tinggi, dan media. Sebelum mencapai acara puncaknya, festival ini telah menggelar serangkaian kegiatan edukatif dan kompetitif, yang meliputi:Roadshow & Registration: Sosialisasi dan promosi ke berbagai sekolah untuk membangun antusiasme publik. Creative Competition: Berbagai lomba kreatif untuk pelajar tingkat SMP, SMA/SMK Sederajat, hingga masyarakat umum.Industry Seminar: Mengadakan seminar inspiratif bersama praktisi industri dengan topik kesehatan, kreatif, dan kebersihan pada bulan Oktober hingga November. Guna mewadahi ragam minat dan bakat generasi muda, BLUVOCATION CREATIVE FEST THE THIRD menghadirkan enam cabang kompetisi bergengsi, yaitu:Short Movie yang mengangkat tema "A Step Closer".Short Animation yang membawa tema "The Unseen Within".Fotografi dengan fokus Human Interest bertema "Faces of Humanity".Fashion Show with Story Telling yang mewajibkan penggunaan barang-barang daur ulang.Desain Karakter (OC) bertema "Beyond Imagination".Dance dengan pilihan tema "Power Of Dream" atau "Future And Technology".Kesuksesan dan skala acara yang kian membesar ini tidak lepas dari dukungan penuh pihak sekolah, khususnya Joko Waluyo, S.Si, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK Budi Luhur. Kegiatan ini juga diawasi langsung oleh tim penanggung jawab yang terdiri dari Agus Fazriansyah, S.I.Kom, Cika Mutiara Rahmakinanti, S.I.Kom., dan Teuku RizkyAdipratama, S.T, M.Kom.Baca juga: Anggota DPR Skeptis Penerapan E-Voting Bisa Diterapkan di IndonesiaSelaku Ketua Penyelenggara BLUVOCATION CREATIVE FEST THE THIRD, Salma Aalya Vanisa memimpin kepanitiaan tahun ini bersama jajaran siswa lainnya untuk memastikan acara berjalan lancar. Melalui visi acara ini, panitia berharap festival ini lebih dari sekadar kompetisi,melainkan perayaan kreativitas yang mampu menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri kreatif. Acara ini dirancang untuk memperluas kesempatan siswa dalam membangun portofolio, menjalin jejaring profesional, dan menginspirasi masyarakat luas.

15 Sep 2026
Opini

Mahasiswa Zaman Sekarang Kok Pada Bisu Pas Diskusi? Katanya Sih Harus Radikal

Gue mau cerita satu fenomena yang menurut gue absurd tapi nyata banget: kelas Zoom, dosen udah capek-capek buka sesi diskusi, terus... hening. Krik. Kamera mati satu-satu kayak lomba siapa cepat logout duluan. Kolom chat sepi kayak nggak ada penghuninya. Ini kejadian pas gue ikut kelas Filsafat Ilmu bareng dosen, dan gue yakin banget ini bukan cuma di kelas gue doang hampir semua kelas online kayak gini nasibnya.Nah yang bikin gue mikir, ini bukan karena mahasiswa nggak punya isi kepala. Nggak mungkin lah, masa iya satu angkatan otaknya kosong semua. Yang ada tuh, di kepala mereka rame banget, cuma nggak berani ngeluarin. Takut salah. Takut dikira sok tau. Takut jadi bahan bercandaan di grup WA kelas abis Zoom kelar. Padahal justru pertanyaan yang keliatannya "receh" itu yang biasanya bikin diskusi jadi hidup.Ada satu quote dosen gue yang nempel banget, sampe kepikiran mulu:"Mahasiswa itu harus berpikir Radikal dan Universal" Baca juga : Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menteri KeuanganNah kata "radikal" ini korban framing paling parah. Denger kata radikal, orang Indonesia refleksnya langsung mikir bom bunuh diri atau demo rusuh. Padahal aslinya, radikal itu dari bahasa Latin radix, yang artinya akar. Jadi berpikir radikal itu ya mikir sampe ke akar-akarnya masalah, bukan cuma modal nyinyir di permukaan terus merasa udah paling kritis se-Indonesia Raya.Nah ini nih titik lemah kita bersama, wahai mahasiswa. Cara mikir kita masih level "starter pack". Ketemu masalah dikit, udah puas cuma liat gejalanya doang, males banget gali ke bawah kenapa masalah ini muncul, siapa yang paling kena getahnya, sampe ke akar rumputnya kayak apa. Padahal justru itu inti belajar filsafat ilmu: biar otak nggak gampang gumoh cuma dikasih jawaban template.Tapi dosen gue nggak stop di situ doang, kalau cuma nyuruh radikal doang mah kesannya kita disuruh jadi provokator kelas. Beliau nambahin, "Kita sebagai mahasiswa PAI tidak boleh meninggalkan Al-Qur'an dan Hadis." Nah baru pas, ini. Buat gue, dua kalimat ini bukan saling tabrakan, malah saling gandengan tangan. Berpikir radikal dan universal bukan berarti kita jadi mahasiswa yang sok bebas nilai, ngerasa paling open-minded sejagat kampus terus lupa pegangan. Sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), ya emang kita kudu kritis, tapi kritisnya tetap balik ke Al-Qur'an dan Hadis, bukan jadi kritis yang malah nyasar ke mana-mana. Radikal versi ini bukan nyabut akar keimanan, tapi justru mendalami akar itu pake nalar yang lebih matang.Balik lagi ke soal takut ngomong tadi. Menurut gue, penyakit diem di kelas ini nggak bakal sembuh cuma modal dibahas sekali terus dilupain begitu Zoom di-end. Ini kudu jadi latihan rutin: berani nanya walau ada kemungkinan salah, berani gali masalah sampe akarnya walau bikin capek mikir, dan tetep inget buat balik ngerujuk ke Al-Qur'an dan Hadis biar nggak kebablasan.Baca juga : Kapal Virgo Kecelakaan, Basarnas Cari 130 OrangKalau mahasiswa PAI terus-terusan males mikir dalem dan minder buat angkat suara, ya jangan protes kalau ujung-ujungnya kita cuma jadi generasi hafal dalil doang tanpa paham konteksnya, atau sebaliknya, jago debat tapi ilmu agamanya cetek. Filsafat ilmu tuh, kalau bener-bener diresapin, sebenernya lagi ngajarin kita cara berani mikir radikal tanpa kehilangan pegangan.Jadi lain kali dosen buka sesi tanya jawab dan ada yang ganjel di kepala lo, mendingan langsung angkat tangan atau nyalain mic aja. Nggak usah takut keliatan bego. Justru dari momen "malu-maluin" itu, proses berpikir radikal dan universal beneran mulai kebentuk.Penulis: Ubay Barokah Mrp. Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), menulis berdasarkan hasil pembelajaran mata kuliah Filsafat Ilmu bersama Dr. Latifatul Khasanah, MA, MHSE.

14 Sep 2026
Utama

BBM Terbatas, Sekolah di Makassar Beralih Daring 12–19 September

Makassar, Bungkasnews.com – Pemerintah Kota Makassar mengambil langkah sementara di tengah kondisi keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada mobilitas masyarakat.Mulai 12 hingga 19 September 2026, pembelajaran bagi PAUD/TK, SD, dan SMP se-Kota Makassar untuk sementara dilakukan dari rumah secara daring atau online.Kebijakan tersebut disampaikan Pemerintah Kota Makassar melalui kanal resminya. Dilansir dari unggahan resmi Pemkot Makassar, sekolah tetap berjalan seperti biasa, tetapi kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah menggunakan sistem daring.Pembelajaran Tetap Berjalan dari RumahMeski siswa tidak datang ke sekolah, proses pembelajaran tetap dilaksanakan. Guru dan tenaga kependidikan tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan menyesuaikan sistem pembelajaran jarak jauh.Pemkot Makassar menyebut kebijakan ini merupakan langkah sementara untuk merespons kondisi keterbatasan BBM yang berdampak terhadap mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua atau wali murid.Dengan sistem daring, aktivitas pendidikan diharapkan tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa dan tenaga pendidik melakukan perjalanan menuju sekolah setiap hari.Kebijakan Akan DievaluasiPemkot Makassar juga menegaskan bahwa kebijakan sekolah daring ini tidak bersifat permanen. Pelaksanaannya akan terus dievaluasi dengan melihat perkembangan kondisi BBM dan situasi di Kota Makassar.Artinya, jika kondisi sudah memungkinkan dan situasi kembali mendukung pembelajaran tatap muka, pemerintah dapat melakukan penyesuaian terhadap kebijakan tersebut.“Sekolah tetap jalan, belajar dari rumah sementara,” menjadi pesan utama dari kebijakan tersebut.Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi terbaru melalui kanal resmi Pemkot Makassar dan Dinas Pendidikan Kota Makassar.Bagi orang tua dan wali murid, perubahan pola belajar ini tentu membutuhkan penyesuaian. Karena itu, komunikasi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua menjadi penting agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan baik selama masa sekolah daring.Kebijakan sekolah daring di Makassar dijadwalkan berlangsung selama satu pekan, yakni 12–19 September 2026, sambil menunggu perkembangan kondisi di lapangan.Sumber: Unggahan resmi Pemerintah Kota Makassar (@pemkot.makassar), 11 September 2026.

12 Sep 2026
Opini

Kehidupan di Balik Scroll yang Tak Berujung

Oleh: RobiahPernahkah kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu pesan, tetapi satu jam kemudian masih berada di depan layar?Awalnya hanya ingin melihat satu video. Kemudian muncul video berikutnya. Kita gulir lagi. Ada berita yang sedang viral, kita baca. Ada unggahan teman, kita lihat. Ada tren baru, kita ikuti. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu saja.Lucunya, setelah berjam-jam berada di depan layar, terkadang kita justru tidak ingat apa saja yang telah kita lihat.Inilah salah satu wajah kehidupan digital hari ini. Kita hidup di tengah informasi yang tidak pernah berhenti datang, tetapi semakin sulit menemukan waktu untuk benar-benar berpikir.Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan JedaIndonesia saat ini berada dalam kehidupan digital yang sangat aktif. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara dengan 62,9 persen populasi. DataReportal mengingatkan bahwa angka identitas pengguna tersebut tidak selalu berarti jumlah individu yang berbeda.Angka tersebut menunjukkan betapa besar ruang digital dalam kehidupan masyarakat.Namun, banyaknya pengguna tidak otomatis berarti meningkatnya kualitas cara kita mengonsumsi informasi.Kita bisa mengetahui berita terbaru hanya dalam hitungan detik. Kita bisa mengetahui kehidupan orang lain tanpa pernah bertemu dengannya. Kita bahkan bisa mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.Tetapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar memahami semuanya?Atau jangan-jangan kita hanya berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya tanpa pernah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk mencerna?Scroll, Scroll, dan Scroll LagiAda sesuatu yang menarik dari kebiasaan menggulir layar.Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti.Satu video selesai, ada video lain. Satu berita selesai dibaca, muncul berita berikutnya. Satu komentar dibalas, muncul notifikasi baru.Semua dirancang agar perhatian kita terus berada di sana.Akibatnya, diam beberapa menit tanpa membuka ponsel terkadang terasa seperti kehilangan sesuatu.Padahal, mungkin yang sebenarnya kita kehilangan adalah waktu untuk diri sendiri.Kita kehilangan waktu membaca buku. Kehilangan kesempatan berbicara dengan orang di sekitar. Kehilangan waktu untuk merenung. Bahkan kehilangan kesempatan untuk benar-benar menyadari apa yang sedang kita rasakan.Yang lebih berbahaya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang serba singkat.Kita ingin semuanya cepat: berita yang singkat, video yang pendek, penjelasan yang langsung pada kesimpulan.Sementara itu, banyak persoalan dalam kehidupan justru membutuhkan kesabaran untuk dipahami.Mahasiswa dan Godaan Menjadi “Tahu Segalanya”Bagi mahasiswa, persoalan ini menjadi semakin menarik.Kita berada di lingkungan yang seharusnya mendorong seseorang untuk berpikir kritis. Tugas kuliah meminta kita membaca. Diskusi meminta kita berargumentasi. Pendidikan seharusnya membuat kita berani mempertanyakan sesuatu.Namun, di luar ruang kelas, kita berada dalam dunia yang bergerak sangat cepat.Kita bisa membaca potongan informasi di media sosial kemudian merasa sudah memahami sebuah persoalan. Padahal, mungkin kita hanya melihat satu sisi.Sebuah berita viral belum tentu memberikan gambaran lengkap. Sebuah video berdurasi satu menit belum tentu mampu menjelaskan persoalan yang terjadi bertahun-tahun. Begitu pula komentar seseorang tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena mendapatkan ribuan tanda suka.Di sinilah mahasiswa perlu berhati-hati.Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat berkomentar, tetapi lambat memahami.Menjadi mahasiswa bukan sekadar memiliki akses terhadap banyak informasi. Mahasiswa juga dituntut mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi pemahaman.Ketika Algoritma Lebih Mengenal Kita daripada Diri SendiriPernah merasa media sosial seolah-olah tahu apa yang kita sukai?Kita baru beberapa kali melihat konten tentang suatu topik, tiba-tiba konten serupa muncul berulang kali.Kita menyukai jenis video tertentu, lalu platform terus menyajikannya.Hal tersebut memang membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa menyenangkan. Tetapi tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam ruang yang hanya memperlihatkan apa yang kita sukai.Kita semakin sering bertemu dengan pendapat yang sama dan semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.Padahal, berpikir kritis tidak tumbuh dari kenyamanan.Kita membutuhkan perbedaan untuk menguji keyakinan. Kita membutuhkan pertanyaan untuk mengetahui apakah pendapat kita memiliki dasar. Kita membutuhkan diskusi untuk memahami bahwa satu persoalan bisa dilihat dari banyak sisi.Karena itu, sesekali membaca sesuatu yang berbeda dari pandangan kita bukanlah ancaman.Justru mungkin dari sanalah kita belajar menjadi lebih dewasa dalam berpikir.Berhenti Sejenak Bukan Berarti KetinggalanMungkin kita takut berhenti karena merasa akan tertinggal.Takut tidak tahu tren terbaru. Takut tidak mengetahui berita yang sedang ramai. Takut tidak mengikuti percakapan teman.Padahal, tidak semua hal harus kita ketahui.Tidak semua tren harus kita ikuti.Tidak semua perdebatan harus kita masuki.Ada kalanya kita perlu mengatakan kepada diri sendiri: cukup untuk hari ini.Letakkan ponsel. Baca sesuatu yang lebih panjang. Berbicara dengan orang lain. Menulis apa yang ada di kepala. Atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.Mungkin awalnya terasa membosankan.Namun, justru dalam kesunyian itulah pikiran memiliki kesempatan untuk bekerja.Kita Harus Menggunakan Teknologi, Bukan Digunakan OlehnyaMedia sosial bukan musuh.Teknologi juga bukan sesuatu yang harus kita jauhi.Keduanya telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan memberikan begitu banyak manfaat. Persoalannya adalah bagaimana kita menempatkan teknologi dalam kehidupan.Jangan sampai ponsel yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi pengendali perhatian.Jangan sampai algoritma menentukan apa yang kita pikirkan.Jangan sampai jumlah likes menentukan apa yang kita anggap benar.Dan jangan sampai kebiasaan menggulir layar membuat kita lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak berada di dalam layar.Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan lebih banyak informasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk memilih informasi mana yang layak dipercaya, mana yang perlu dipertanyakan, dan mana yang sebaiknya dilewatkan.Sebab, menjadi orang yang berpengetahuan bukan berarti mengetahui segala sesuatu. Menjadi berpengetahuan berarti tahu apa yang perlu diketahui dan mampu memahami apa yang telah kita ketahui.Jadi, sebelum jari kembali menggulir layar tanpa henti, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:Setelah begitu banyak yang kita lihat hari ini, apa yang benar-benar kita pahami?Barangkali sudah waktunya kita berhenti sebentar.Bukan untuk meninggalkan dunia digital, tetapi untuk kembali menemukan diri sendiri di luar layar.

11 Sep 2026
Daerah

Tak Sabar Tunggu Pemkab, Warga Gotong -Royong Jalan Perbaiki Sendiri

Asahan, BungkasNews - Kondisi jalan kabupaten yang menghubungkan Dusun V dan Dusun VI, Desa Sei Paham, Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, kini menjadi sorotan setelah warga setempat memutuskan mengambil langkah mandiri untuk memperbaiki akses jalan yang rusak parah. Kerusakan jalan sepanjang sekitar 7 kilometer ini sudah menjadi keluhan warga bertahun - tahun namun hingga kini belum ada respons konkret dari pihak pemerintah terkait.Jalan tersebut merupakan akses utama dan satu-satunya jalur yang digunakan masyarakat Dusun V dan VI Desa Sei Paham untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk anak-anak sekolah yang harus melintasinya setiap pagi dan siang hari. Sayangnya, kondisi jalan yang belum diaspal atau dicor membuat akses ini sangat bergantung pada cuaca. Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi becek dan berlumpur, sehingga sulit dan bahkan tidak bisa dilalui, baik oleh kendaraan roda dua maupun pejalan kaki.Dampak paling terasa justru dialami oleh anak-anak sekolah. Mereka kerap kesulitan berangkat maupun pulang sekolah saat hujan turun, karena jalan yang licin dan berlumpur membahayakan keselamatan sekaligus membuat seragam dan perlengkapan sekolah mereka kotor. Kondisi inilah yang menjadi salah satu pendorong utama warga untuk segera bertindak, agar anak-anak dapat menempuh perjalanan ke sekolah dengan lebih nyaman dan aman, tanpa harus bergulat dengan lumpur setiap kali hujan mengguyur.Karena tak kunjung ada tindak lanjut dari pemerintah, warga akhirnya berinisiatif melakukan gotong royong dan patungan secara swadaya untuk memperbaiki jalan tersebut. Skema pengumpulan dana disepakati bersama, yakni setiap rumah tangga menyumbang Rp50.000 per minggu. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli bahan pengerasan jalan berupa "kondisel" atau cor beton cetak, dengan estimasi biaya sekitar Rp1,5 juta untuk setiap satu "motor kondisel" yang dipasang.Hasil kerja keras dan kekompakan warga mulai membuahkan hasil. Hingga saat ini, sudah sekitar 30 motor kondisel yang berhasil dipasang secara bertahap di ruas jalan yang paling parah kerusakannya. Meski progresnya cukup menggembirakan, warga menyadari bahwa upaya swadaya ini masih jauh dari cukup untuk menuntaskan perbaikan jalan sepanjang 7 kilometer secara keseluruhan. Dengan keterbatasan dana yang hanya mengandalkan iuran mingguan warga, proses perbaikan berjalan lambat dan membutuhkan waktu yang sangat panjang jika tidak ada bantuan tambahan dari pihak lain.Warga Dusun V dan VI Desa Sei Paham mendesak Pemerintah Kabupaten Asahan dapat segera turun tangan dan memberikan perhatian khusus terhadap kondisi jalan ini. Mengingat status jalan tersebut adalah jalan kabupaten yang notabene menjadi tanggung jawab Pemkab Asahan, warga merasa sudah sepatutnya ada perhatian dan realisasi perbaikan dari pihak berwenang, bukan hanya mengandalkan swadaya masyarakat yang serba terbatas.Selain faktor akses pendidikan bagi anak-anak sekolah, jalan ini juga menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas harian warga kedua dusun tersebut. Aktivitas seperti membawa hasil pertanian, berdagang, hingga aktivitas rutin lainnya turut terganggu setiap kali kondisi jalan memburuk akibat hujan.Melihat kondisi ini, sudah semestinya perbaikan jalan Dusun V dan VI Desa Sei Paham, Kecamatan Sei Kepayang ini menjadi prioritas dalam program infrastruktur Pemerintah Kabupaten Asahan. Warga mendesak pihak terkait dapat segera melakukan peninjauan lapangan serta merealisasikan perbaikan secara menyeluruh, agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada iuran mandiri demi memiliki akses jalan yang layak.

03 Sep 2026
Mahasiswa

Perjalanan MAPAN Batch II Berakhir, 20 Peserta Belajar Langsung Dinamika Politik di DPR RI

Jakarta — Perjalanan 20 peserta Magang Fraksi PAN DPR RI (MAPAN) Batch II resmi berakhir. Setelah kurang lebih tiga bulan menjalani proses pembelajaran, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman mengenai lingkungan kerja parlemen, tetapi juga berkesempatan melihat secara langsung bagaimana dinamika politik, kebijakan, komunikasi, dan kerja kelembagaan berlangsung di DPR RI.Penutupan MAPAN Batch II menjadi penanda berakhirnya masa magang sekaligus momentum untuk mengapresiasi proses yang telah dilalui para peserta. Selama program berlangsung, peserta ditempatkan pada berbagai Alat Kelengkapan Dewan (AKD) dan terlibat dalam beragam aktivitas sesuai bidang masing-masing. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami politik tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai proses yang nyata dan berlangsung di tengah masyarakat.Perwakilan peserta MAPAN Batch II, Kanaya Azkia, menyampaikan bahwa pengalaman magang bersama Fraksi PAN DPR RI menjadi langkah awal untuk memahami politik secara lebih konkret.“Dalam Program Magang bersama Fraksi PAN DPR RI menjadi langkah awal untuk tidak hanya memahami politik sebagai pengetahuan, tetapi pembelajaran yang langsung terjun,” ujar Kanaya.Menurutnya, pengalaman selama berada di lingkungan Fraksi PAN juga memperlihatkan bahwa kerja politik memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan masyarakat. Berbagai program dan aktivitas yang dilakukan memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat bagaimana gagasan dan kebijakan dapat berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.Kanaya juga menyoroti bahwa pembelajaran di Fraksi PAN tidak terbatas pada isu politik dalam pengertian sempit. Fraksi PAN turut bersentuhan dengan sejumlah isu strategis, seperti perubahan iklim, transisi energi, hingga ketahanan pangan.“Fraksi PAN juga menyentuh isu-isu strategis seperti perubahan iklim, transisi energi, dan juga ketahanan pangan,” tambahnya.Hal senada disampaikan Abdul Hakim Bafagih, Anggota Fraksi PAN DPR RI. Menurutnya, keberadaan peserta magang memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk melihat secara langsung proses politik yang selama ini mungkin hanya dipahami melalui ruang kelas dan pemberitaan.“Adik-adik melihat langsung bagaimana setiap keputusan-keputusan politik itu diambil,” ujarnya.Ia juga menyinggung pentingnya keterlibatan politik dalam berbagai kebijakan publik, termasuk dalam sektor pendidikan. Menurutnya, perjuangan terhadap alokasi anggaran pendidikan menjadi salah satu bagian yang turut diperhatikan oleh Fraksi PAN DPR RI.Bagi para peserta, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bahwa politik bukan sekadar perdebatan mengenai kekuasaan, tetapi juga berkaitan dengan proses memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kebijakan.Menariknya, pengalaman MAPAN Batch II juga melahirkan berbagai bentuk karya dan capaian personal peserta. Salah satunya adalah Roudhoh Hannaaris Sa'id, peserta MAPAN Batch II yang berhasil menuangkan pengalaman magangnya ke dalam sebuah buku berjudul Di Balik Gedung Senayan: Menyusuri Ruang-Ruang Kebijakan, Menemukan Makna Pengabdian.Buku tersebut ditulis sebagai catatan personal selama menjalani perjalanan magang di Fraksi PAN DPR RI. Alih-alih menjadi laporan formal mengenai program MAPAN, buku tersebut mencoba merekam pengalaman seorang mahasiswa ketika berpindah dari ruang kelas menuju ruang-ruang kebijakan.Melalui buku tersebut, pengalaman mengikuti rapat, mengenal lingkungan parlemen, berinteraksi dengan berbagai orang, memahami pekerjaan di lingkungan fraksi, hingga melihat dinamika Komisi I dituangkan sebagai sebuah perjalanan reflektif. Bagi Roudhoh, pengalaman berada di parlemen bukan hanya tentang mengetahui bagaimana lembaga bekerja, tetapi juga tentang memahami makna tanggung jawab, profesionalisme, kepemimpinan, dan pengabdian.Selain menjadi ruang belajar, penutupan MAPAN Batch II juga menjadi momentum pemberian apresiasi kepada peserta. Sejumlah peserta memperoleh penghargaan atas kontribusi dan keaktifannya selama mengikuti program. Roudhoh Hannaaris Sa'id, Elvyra Putriwati, dan Kanaya Azkia menjadi peserta yang mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik.Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas proses, kontribusi, dan semangat yang diberikan selama program berlangsung. Lebih dari sekadar kompetisi, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap peserta memiliki perjalanan dan kontribusi masing-masing selama berada di lingkungan Fraksi PAN DPR RI.Kurang lebih tiga bulan berada di lingkungan parlemen membuat para peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman profesional, tetapi juga perspektif baru mengenai politik dan kehidupan bernegara. Mereka datang sebagai mahasiswa dengan berbagai latar belakang keilmuan, kemudian berproses melalui pekerjaan, diskusi, rapat, audiensi, serta berbagai kegiatan yang mempertemukan mereka dengan praktik politik secara langsung.Bersama Abdul Hakim Bafagih dalam penutupan MAPAN Batch II.Penutupan MAPAN Batch II karena itu bukan sekadar akhir dari sebuah program magang. Ia menjadi titik perpindahan dari satu ruang belajar menuju ruang belajar berikutnya. Pengalaman yang diperoleh selama berada di parlemen diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk terus berkembang, berkarya, dan mengambil peran di tengah masyarakat.Pesan tersebut juga menjadi semangat yang disampaikan kepada seluruh peserta: “Magang di Fraksi PAN, selalu terdepan.”Dengan berakhirnya MAPAN Batch II, perjalanan para peserta memang meninggalkan gedung parlemen. Namun, pengalaman, relasi, pengetahuan, dan pelajaran yang diperoleh selama berada di dalamnya akan menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.MAPAN Batch II telah selesai sebagai sebuah program. Namun bagi 20 anak muda yang mengikutinya, proses belajar tentang politik, kebijakan, profesionalisme, dan pengabdian baru saja dimulai.Penulis: Roudhoh Hannaaris Sa’id/Peserta MAPAN Batch II

02 Sep 2026
Gaya Hidup

Ilmuwan Nepal menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit menyebar.

KATHMANDU, BungkasNews — Perjalanan Naveen Vaidya dari sebuah desa di Sindhuli, Nepal, hingga menjadi profesor di San Diego State University (SDSU), Amerika Serikat, menjadi kisah tentang ketekunan, pendidikan, dan kontribusi ilmiah dalam memahami bagaimana penyakit menyebar.Dilansir dari Onlinekhabar English, Naveen Vaidya merupakan ilmuwan yang menggunakan matematika untuk mempelajari dinamika penyakit. Melalui pemodelan matematika, ia meneliti berbagai penyakit dan virus, termasuk HIV, hepatitis, Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, serta lumpy skin disease.Perjalanan Vaidya menuju dunia penelitian internasional tidak dimulai dari laboratorium dengan fasilitas lengkap. Ia tumbuh di Jhangajholi, Ratmata, Sindhuli, dalam kondisi keluarga yang sederhana.Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, meninggal ketika Vaidya masih kecil. Setelah itu, ibunya menjadi tumpuan utama keluarga. Sang ibu bekerja di ladang dan melakukan berbagai pekerjaan untuk memastikan anak-anaknya tetap dapat memperoleh pendidikan.Sejak kecil, Vaidya dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia harus berjalan sekitar satu jam melalui kawasan berbukit untuk mencapai sekolah. Di rumah, ia belajar dengan penerangan lampu minyak tanah yang minim.Kesulitan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pendidikan justru menjadi jalan yang membawanya keluar dari keterbatasan.Dari Kathmandu Menuju Amerika SerikatSetelah menyelesaikan pendidikan dasar, Vaidya pindah ke Kathmandu untuk melanjutkan pendidikan. Ia belajar sambil bekerja paruh waktu.Ia menempuh pendidikan sains di Patan Multiple Campus, kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana di Tri-Chandra College dan meraih gelar magister matematika dari Amrit Science Campus.Vaidya juga sempat mengajar matematika di sekolah dan perguruan tinggi di Kathmandu. Namun, keinginannya untuk melakukan penelitian lebih jauh membuatnya mencari kesempatan di luar Nepal.Ia kemudian melanjutkan pendidikan di York University, Kanada. Di sana, Vaidya mempelajari matematika industri dan terapan sebelum melanjutkan pendidikan doktoral.Penelitian doktoralnya berfokus pada pemodelan matematika mengenai fusi membran antara virus influenza dan sel manusia. Penelitian tersebut kemudian membawanya meraih Susan Mann Dissertation Award dari York University.Setelah menyelesaikan doktoralnya, Vaidya melanjutkan penelitian di sejumlah lembaga di Amerika Serikat dan Kanada. Ia pernah melakukan penelitian pascadoktoral di Los Alamos National Laboratory dan kemudian bergabung dengan University of Missouri-Kansas City sebagai asisten profesor.Pada 2017, ia bergabung dengan San Diego State University dan hingga kini menjadi profesor di universitas tersebut. ))Matematika untuk Memahami PenyakitBerbeda dari dokter yang menangani pasien secara langsung, Naveen Vaidya menggunakan matematika untuk memahami bagaimana penyakit berkembang dan menyebar pada populasi maupun di dalam tubuh.Penelitiannya mencakup berbagai penyakit menular. Ia menggunakan model matematika untuk menganalisis dinamika penyakit dan menghasilkan informasi yang dapat membantu memahami strategi pengendalian penyakit.Penelitian Vaidya juga tidak terbatas pada penyakit yang terjadi di Amerika Utara. Ia menggunakan data dari Nepal untuk mengembangkan model terkait Covid-19, malaria, rabies, demam berdarah, dan lumpy skin disease.Menurut laporan Onlinekhabar English, kiprahnya dalam penelitian telah menghasilkan empat hibah dari National Science Foundation, dua hibah Simons Foundation, serta lebih dari 20 hibah penelitian internasional.Karyanya telah diterbitkan dalam lebih dari 61 jurnal internasional dan ia telah menyampaikan lebih dari 125 presentasi penelitian di berbagai negara, termasuk sebagai pembicara utama.Tetap Berkontribusi untuk NepalMeski membangun karier di Amerika Serikat, Vaidya tetap mempertahankan hubungan kuat dengan Nepal.Ia terlibat dalam upaya mempertemukan mahasiswa dan peneliti Nepal dengan jaringan ilmiah internasional. Salah satu kegiatannya adalah membantu membangun kerja sama penelitian antara institusi Nepal dan San Diego State University.Pada 2019, ia turut terlibat dalam CIMPA Summer School in Mathematical Biology di Nepal. Program tersebut menjadi salah satu wadah bagi peneliti dan mahasiswa untuk mempresentasikan penelitian serta membangun kerja sama dengan ilmuwan dari negara lain.Kerja sama tersebut kemudian membantu memperkuat hubungan antara Tribhuvan University dan San Diego State University.Sejumlah mahasiswa Nepal juga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral melalui jaringan kerja sama tersebut.Pada 2023, Vaidya bersama koleganya mendirikan Mathematical Biology Research Centre Nepal. Berbagai program internasional juga terus dilakukan untuk memperkuat komunitas penelitian matematika dan biologi di Nepal.Vaidya bahkan rutin mengadakan pertemuan daring dengan kelompok penelitinya di Nepal. Pertemuan yang berlangsung setiap pekan tersebut menjadi ruang untuk membahas penelitian, bertukar gagasan, dan merancang proyek ilmiah berikutnya.Perjalanan Naveen Vaidya menunjukkan bagaimana pendidikan dan penelitian dapat menjadi jembatan dari sebuah desa di Nepal menuju komunitas ilmiah internasional. Di tengah kariernya di Amerika Serikat, ia tetap berupaya membuka kesempatan bagi generasi peneliti berikutnya di Nepal.Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa penelitian matematika dapat memiliki peran penting dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mempelajari pola penyebaran penyakit dan merancang strategi pengendaliannya.Sumber: Onlinekhabar English

31 Aug 2026
Gaya Hidup

China Batasi AI Companion, Khawatir Relasi Tergantikan

BEIJING, BungkasNews — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai teman virtual semakin berkembang di China. Namun, pemerintah mulai memperketat penggunaan layanan AI companion di China karena khawatir interaksi emosional dengan chatbot dapat membuat pengguna semakin bergantung pada teknologi dan menjauh dari hubungan sosial di dunia nyata.Dilansir dari The Guardian, sejumlah pengguna di China telah membangun hubungan emosional yang kuat dengan karakter AI yang mereka ciptakan melalui aplikasi chatbot. Salah satunya adalah Zhao Wei, mahasiswa hukum berusia 19 tahun yang merasa sangat terpukul setelah fitur AI companion yang digunakannya dihentikan.Zhao mengaku terbiasa berbicara dengan AI setiap hari dan menceritakan berbagai persoalan pribadinya. Ia merasa lebih bebas berbicara kepada chatbot karena tidak khawatir akan dihakimi atau membebani teman-temannya. Namun, perkembangan hubungan emosional manusia dengan AI mulai menimbulkan perhatian pemerintah China. Aturan baru yang berlaku sejak 15 Juli 2026 melarang layanan AI companion untuk anak di bawah umur serta memberikan pembatasan terhadap layanan yang dirancang untuk membangun hubungan emosional berkelanjutan dengan pengguna. Pemerintah China menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan AI mendorong ketergantungan emosional dan kecanduan, termasuk layanan yang berpotensi menggantikan interaksi sosial manusia.AI dan Masalah KesepianFenomena AI companion di China muncul ketika negara tersebut juga menghadapi persoalan sosial dan demografis. Kesepian, perubahan pola hubungan sosial, rendahnya angka pernikahan, serta penurunan angka kelahiran menjadi tantangan yang semakin diperhatikan.Menurut laporan The Guardian, sekitar 20 persen rumah tangga di China saat ini terdiri dari orang yang tinggal sendiri. Angka tersebut diperkirakan dapat melampaui 30 persen pada 2030. Sebuah survei yang diterbitkan media pemerintah pada awal 2026 juga menemukan hampir separuh anak muda yang disurvei pernah menggunakan teman virtual ketika merasa kesepian. Kondisi tersebut membuat muncul pertanyaan apakah AI companion dapat menjadi alternatif yang terlalu nyaman bagi sebagian orang dibandingkan membangun hubungan dengan manusia.Nancy Dai, profesor madya di City University of Hong Kong, mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesepian. Menurutnya, di tengah menurunnya angka pernikahan dan kelahiran, ada kekhawatiran bahwa hubungan dengan AI yang relatif murah dan mudah diakses dapat membuat sebagian anak muda semakin tidak tertarik mencari pasangan, menikah, atau membangun keluarga. Meski demikian, belum ada bukti yang dapat memastikan bahwa penggunaan AI companion secara langsung menyebabkan seseorang tidak ingin menikah atau memiliki anak. Hubungan tersebut masih menjadi topik yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.AI Tetap Didorong di Sektor LainMenariknya, pembatasan terhadap AI companion tidak berarti China menghentikan pengembangan teknologi AI secara keseluruhan.Pemerintah China justru terus mendorong pemanfaatan AI di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan. Salah satu contohnya adalah penggunaan aplikasi kesehatan berbasis AI yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan avatar dokter untuk mendapatkan informasi kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya pendekatan yang berbeda terhadap AI. Teknologi tersebut tetap dianggap memiliki manfaat besar bagi masyarakat, tetapi penggunaannya dalam hubungan emosional mendapatkan perhatian khusus.Penelitian yang diterbitkan di Nature Human Behaviour pada Agustus 2026 juga menunjukkan bahwa hubungan dengan AI companion dapat memberikan manfaat emosional bagi sebagian pengguna, tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dapat berbeda tergantung pada pola penggunaan dan kondisi pengguna. Dengan demikian, perdebatan mengenai AI companion di China bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan hubungan sosial manusia. Pemerintah harus mencari keseimbangan antara mendorong inovasi AI dan memastikan teknologi tersebut tidak menciptakan ketergantungan yang merugikan pengguna.Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa AI dapat menjadi alat bantu maupun teman berbicara, tetapi hubungan sosial dengan manusia tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.Sumber: The Guardian

26 Aug 2026
Internasional

Harvard Jual Kursus US$699 dengan Dosen Berbasis AI

BOSTON, BungkasNews — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Harvard Business School (HBS) menjadi salah satu institusi yang bereksperimen dengan teknologi tersebut melalui program pembelajaran yang menghadirkan versi digital berbasis AI dari para pengajarnya.Dilansir dari TechStory, Harvard Business School menawarkan Program tersebut dibanderol US$699 atau sekitar Rp12,38 juta, dengan asumsi kurs Rp17.720 per dolar AS.. Program tersebut menggunakan avatar berbasis AI yang dibuat menyerupai sejumlah anggota fakultas Harvard untuk menyampaikan materi dan berinteraksi dengan peserta.Teknologi ini memungkinkan peserta mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari kursus daring konvensional. Alih-alih hanya menyaksikan rekaman video dosen, peserta dapat berinteraksi dengan representasi digital berbasis AI yang dirancang menyerupai pengajar manusia.Program tersebut ditujukan bagi para pengusaha maupun calon pendiri perusahaan yang ingin mengembangkan kemampuan dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Materi pembelajaran dirancang sebagai pengalaman pendidikan profesional, bukan sebagai program gelar akademik.Penggunaan avatar AI juga membuka peluang bagi institusi pendidikan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan yang dimiliki para pengajar. Seorang profesor memiliki keterbatasan waktu untuk mengajar dan memberikan pendampingan kepada setiap mahasiswa. Dengan bantuan AI, materi dan simulasi pembelajaran dapat tersedia lebih fleksibel bagi peserta dari berbagai lokasi dan zona waktu.Namun, kehadiran dosen berbasis AI juga memunculkan pertanyaan mengenai batas antara teknologi dan peran manusia dalam pendidikan. Apakah avatar AI mampu memberikan pengalaman belajar yang setara dengan berinteraksi langsung dengan seorang profesor?Eksperimen Harvard tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI di pendidikan mulai bergerak lebih jauh dari sekadar alat bantu penulisan, penelitian, atau tutor. AI mulai digunakan untuk menghadirkan pengalaman interaksi yang menyerupai proses belajar bersama seorang pengajar.Sejumlah sumber lain melaporkan bahwa teknologi avatar tersebut dikembangkan untuk memungkinkan peserta berlatih menghadapi situasi bisnis seperti presentasi kepada investor, percakapan penjualan, hingga simulasi rapat. Dengan demikian, teknologi tersebut lebih diarahkan sebagai alat simulasi dan pendamping pembelajaran daripada sekadar pengganti dosen manusia.Bagi dunia pendidikan, langkah Harvard menjadi gambaran mengenai kemungkinan munculnya model pembelajaran baru. Di masa depan, mahasiswa mungkin tidak hanya belajar dari profesor secara langsung, tetapi juga menggunakan versi AI yang membantu memperluas akses terhadap keahlian, pengalaman, dan materi yang dikembangkan oleh para akademisi.Meski menawarkan efisiensi dan fleksibilitas, kualitas interaksi, akurasi jawaban, etika penggunaan identitas dosen, serta nilai yang diperoleh peserta tetap menjadi faktor penting dalam menilai apakah teknologi semacam ini benar-benar mampu meningkatkan kualitas pendidikan.

23 Aug 2026
Nasional

Seleksi PPIH Kesehatan Haji 2027 Resmi Dibuka

JAKARTA, BungkasNews — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi membuka seleksi PPIH Kesehatan Haji 2027 untuk penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Pendaftaran mulai dibuka pada 20 Agustus 2026 dan calon peserta masih memiliki kesempatan mengunggah dokumen hingga 26 Agustus 2026.Dilansir dari situs resmi Kementerian Haji dan Umrah, seleksi tersebut mencakup Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kesehatan Kloter serta PPIH Kesehatan Arab Saudi dan tenaga kesehatan bandara.Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Puji Raharjo, mengatakan proses seleksi dilakukan untuk mendapatkan petugas kesehatan yang profesional, berintegritas, kompeten, serta memiliki komitmen kuat dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji.Menurut Kemenhaj, petugas kesehatan nantinya dituntut tidak hanya memiliki kompetensi profesi, tetapi juga kesiapan fisik dan mental untuk bekerja dalam situasi pelayanan yang dinamis. Kemampuan menangani kondisi kegawatdaruratan serta melaksanakan tugas administratif juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan jemaah.Formasi PPIH Kesehatan Haji 2027Dalam seleksi PPIH Kesehatan Haji 2027, formasi untuk petugas kesehatan kloter terdiri atas dokter atau dokter spesialis dan perawat.Sementara itu, formasi PPIH Kesehatan Arab Saudi dan tenaga kesehatan bandara mencakup sejumlah bidang, antara lain dokter, dokter spesialis, perawat, apoteker atau tenaga vokasi farmasi, elektromedis, tenaga laboratorium medis, tenaga rehabilitasi medik, radiografer, tenaga sanitasi lingkungan, perekam medis dan informasi kesehatan, serta tenaga pencegahan dan pengendalian infeksi.Untuk dokter, perawat, serta apoteker atau tenaga vokasi farmasi, terdapat persyaratan dokumen profesi berupa Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan. Dokter dan perawat juga diwajibkan memiliki sertifikat kegawatdaruratan yang masih berlaku.Syarat Umum dan Batas UsiaSecara umum, calon petugas harus sehat secara jasmani dan rohani, memiliki integritas serta rekam jejak yang baik, mampu mengoperasikan komputer maupun perangkat berbasis Android atau iOS, dan diutamakan memiliki kemampuan komunikasi dalam bahasa Arab dan/atau bahasa Inggris.Untuk tenaga kesehatan kloter, usia yang dipersyaratkan adalah minimal 25 tahun dan maksimal 57 tahun. Sementara tenaga kesehatan yang bertugas di sektor dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia memiliki batas usia 27 hingga 55 tahun. Calon peserta juga harus memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun sesuai bidang atau peminatan tugas.Jadwal Seleksi PPIH Kesehatan Haji 2027Kemenhaj menetapkan beberapa tahapan dalam proses seleksi. Pendaftaran dimulai pada 20 Agustus 2026, sedangkan batas akhir unggah dokumen adalah 26 Agustus 2026.Peserta yang lolos verifikasi administrasi selanjutnya akan mengikuti Computer Assisted Test (CAT) pada 31 Agustus 2026. Tahapan berikutnya berupa Medical Check Up (MCU) pada 3–8 September 2026. Peserta yang dinyatakan berhak mengikuti pendidikan dan pelatihan akan diumumkan pada 15 September 2026.Kemenhaj juga menegaskan bahwa seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya dan bebas gratifikasi. Peserta diminta melakukan pendaftaran secara mandiri serta memastikan seluruh dokumen yang disampaikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.Bagi tenaga kesehatan yang memenuhi persyaratan dan berminat menjadi bagian dari pelayanan jemaah haji Indonesia, kesempatan PPIH Kesehatan Haji 2027 ini perlu dimanfaatkan dengan mempersiapkan dokumen dan mengikuti setiap tahapan sesuai jadwal.Sumber: Kementerian Haji dan Umrah RIInformasi resmi: "Kementerian Haji dan Umrah RI" (https://reference-url-citation.invalid/8)

23 Aug 2026