Oleh: Robiah
Pernahkah kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu pesan, tetapi satu jam kemudian masih berada di depan layar?
Awalnya hanya ingin melihat satu video. Kemudian muncul video berikutnya. Kita gulir lagi. Ada berita yang sedang viral, kita baca. Ada unggahan teman, kita lihat. Ada tren baru, kita ikuti. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu saja.
Lucunya, setelah berjam-jam berada di depan layar, terkadang kita justru tidak ingat apa saja yang telah kita lihat.
Inilah salah satu wajah kehidupan digital hari ini. Kita hidup di tengah informasi yang tidak pernah berhenti datang, tetapi semakin sulit menemukan waktu untuk benar-benar berpikir.
Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan Jeda
Indonesia saat ini berada dalam kehidupan digital yang sangat aktif. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara dengan 62,9 persen populasi. DataReportal mengingatkan bahwa angka identitas pengguna tersebut tidak selalu berarti jumlah individu yang berbeda.
Angka tersebut menunjukkan betapa besar ruang digital dalam kehidupan masyarakat.
Namun, banyaknya pengguna tidak otomatis berarti meningkatnya kualitas cara kita mengonsumsi informasi.
Kita bisa mengetahui berita terbaru hanya dalam hitungan detik. Kita bisa mengetahui kehidupan orang lain tanpa pernah bertemu dengannya. Kita bahkan bisa mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Tetapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar memahami semuanya?
Atau jangan-jangan kita hanya berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya tanpa pernah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk mencerna?
Scroll, Scroll, dan Scroll Lagi
Ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan menggulir layar.
Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti.
Satu video selesai, ada video lain. Satu berita selesai dibaca, muncul berita berikutnya. Satu komentar dibalas, muncul notifikasi baru.
Semua dirancang agar perhatian kita terus berada di sana.
Akibatnya, diam beberapa menit tanpa membuka ponsel terkadang terasa seperti kehilangan sesuatu.
Padahal, mungkin yang sebenarnya kita kehilangan adalah waktu untuk diri sendiri.
Kita kehilangan waktu membaca buku. Kehilangan kesempatan berbicara dengan orang di sekitar. Kehilangan waktu untuk merenung. Bahkan kehilangan kesempatan untuk benar-benar menyadari apa yang sedang kita rasakan.
Yang lebih berbahaya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang serba singkat.
Kita ingin semuanya cepat: berita yang singkat, video yang pendek, penjelasan yang langsung pada kesimpulan.
Sementara itu, banyak persoalan dalam kehidupan justru membutuhkan kesabaran untuk dipahami.
Mahasiswa dan Godaan Menjadi “Tahu Segalanya”
Bagi mahasiswa, persoalan ini menjadi semakin menarik.
Kita berada di lingkungan yang seharusnya mendorong seseorang untuk berpikir kritis. Tugas kuliah meminta kita membaca. Diskusi meminta kita berargumentasi. Pendidikan seharusnya membuat kita berani mempertanyakan sesuatu.
Namun, di luar ruang kelas, kita berada dalam dunia yang bergerak sangat cepat.
Kita bisa membaca potongan informasi di media sosial kemudian merasa sudah memahami sebuah persoalan. Padahal, mungkin kita hanya melihat satu sisi.
Sebuah berita viral belum tentu memberikan gambaran lengkap. Sebuah video berdurasi satu menit belum tentu mampu menjelaskan persoalan yang terjadi bertahun-tahun. Begitu pula komentar seseorang tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena mendapatkan ribuan tanda suka.
Di sinilah mahasiswa perlu berhati-hati.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat berkomentar, tetapi lambat memahami.
Menjadi mahasiswa bukan sekadar memiliki akses terhadap banyak informasi. Mahasiswa juga dituntut mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi pemahaman.
Ketika Algoritma Lebih Mengenal Kita daripada Diri Sendiri
Pernah merasa media sosial seolah-olah tahu apa yang kita sukai?
Kita baru beberapa kali melihat konten tentang suatu topik, tiba-tiba konten serupa muncul berulang kali.
Kita menyukai jenis video tertentu, lalu platform terus menyajikannya.
Hal tersebut memang membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa menyenangkan. Tetapi tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam ruang yang hanya memperlihatkan apa yang kita sukai.
Kita semakin sering bertemu dengan pendapat yang sama dan semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.
Padahal, berpikir kritis tidak tumbuh dari kenyamanan.
Kita membutuhkan perbedaan untuk menguji keyakinan. Kita membutuhkan pertanyaan untuk mengetahui apakah pendapat kita memiliki dasar. Kita membutuhkan diskusi untuk memahami bahwa satu persoalan bisa dilihat dari banyak sisi.
Karena itu, sesekali membaca sesuatu yang berbeda dari pandangan kita bukanlah ancaman.
Justru mungkin dari sanalah kita belajar menjadi lebih dewasa dalam berpikir.
Berhenti Sejenak Bukan Berarti Ketinggalan
Mungkin kita takut berhenti karena merasa akan tertinggal.
Takut tidak tahu tren terbaru. Takut tidak mengetahui berita yang sedang ramai. Takut tidak mengikuti percakapan teman.
Padahal, tidak semua hal harus kita ketahui.
Tidak semua tren harus kita ikuti.
Tidak semua perdebatan harus kita masuki.
Ada kalanya kita perlu mengatakan kepada diri sendiri: cukup untuk hari ini.
Letakkan ponsel. Baca sesuatu yang lebih panjang. Berbicara dengan orang lain. Menulis apa yang ada di kepala. Atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.
Mungkin awalnya terasa membosankan.
Namun, justru dalam kesunyian itulah pikiran memiliki kesempatan untuk bekerja.
Kita Harus Menggunakan Teknologi, Bukan Digunakan Olehnya
Media sosial bukan musuh.
Teknologi juga bukan sesuatu yang harus kita jauhi.
Keduanya telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan memberikan begitu banyak manfaat. Persoalannya adalah bagaimana kita menempatkan teknologi dalam kehidupan.
Jangan sampai ponsel yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi pengendali perhatian.
Jangan sampai algoritma menentukan apa yang kita pikirkan.
Jangan sampai jumlah likes menentukan apa yang kita anggap benar.
Dan jangan sampai kebiasaan menggulir layar membuat kita lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak berada di dalam layar.
Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan lebih banyak informasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk memilih informasi mana yang layak dipercaya, mana yang perlu dipertanyakan, dan mana yang sebaiknya dilewatkan.
Sebab, menjadi orang yang berpengetahuan bukan berarti mengetahui segala sesuatu. Menjadi berpengetahuan berarti tahu apa yang perlu diketahui dan mampu memahami apa yang telah kita ketahui.
Jadi, sebelum jari kembali menggulir layar tanpa henti, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:
Setelah begitu banyak yang kita lihat hari ini, apa yang benar-benar kita pahami?
Barangkali sudah waktunya kita berhenti sebentar.
Bukan untuk meninggalkan dunia digital, tetapi untuk kembali menemukan diri sendiri di luar layar.