Asia Tenggara Diselimuti Asap, Malaysia Peringkat 1
BungkasNews – Kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara memburuk akibat asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan gambut. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada wilayah Indonesia, tetapi juga Malaysia, Singapura hingga Filipina.Berdasarkan laporan IQAir, pada 1 September 2026, kualitas udara buruk terpantau di sejumlah wilayah, meliputi Sarawak bagian barat, sebagian besar wilayah barat Semenanjung Malaysia, wilayah tengah Filipina, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta beberapa wilayah Sumatra.Kondisi tersebut sebagian besar dikaitkan dengan asap dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut yang kemudian terbawa angin melintasi batas negara.Kuching Jadi Kota Besar Paling TercemarSituasi paling mencolok terjadi di Kuching, Malaysia. Pada pukul 23.00 waktu setempat, 1 September 2026, Kuching tercatat sebagai kota besar paling tercemar di dunia dengan Air Quality Index (AQI) mencapai 399.Angka tersebut masuk kategori “berbahaya”, sehingga kondisi udara dinilai dapat memberikan dampak terhadap masyarakat secara luas.IQAir mencatat, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan maupun kardiovaskular.Tidak hanya Kuching, sejumlah kota Asia Tenggara juga masuk dalam daftar kota besar dengan tingkat polusi tinggi.Pada 1 September, daftar tersebut mencatat:Kuching, Malaysia: peringkat 1Kuala Lumpur, Malaysia: peringkat 4Medan, Indonesia: peringkat 10Singapura: peringkat 17Jakarta, Indonesia: peringkat 20Manila, Filipina: peringkat 29Dengan demikian, beberapa kota di kawasan Asia Tenggara masuk dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk yang dipantau IQAir pada periode tersebut.Peringatan Kabut Asap ASEAN Naik ke Level 3Ancaman kabut asap juga mendapat perhatian dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC).Pada 26 Agustus 2026, ASMC menaikkan peringatan kabut asap untuk wilayah selatan ASEAN ke Level 3. Peringatan tersebut dikeluarkan setelah terpantau kabut asap sedang hingga pekat yang meluas dan berasal dari kelompok titik panas di Kalimantan.Kondisi tersebut berpotensi memburuk apabila periode kering terus berlangsung.IQAir juga memperkirakan curah hujan di kawasan selatan Asia Tenggara berada di bawah kondisi normal hingga Oktober 2026.Situasi ini membuat kebakaran dan kabut asap berpotensi bertahan dalam beberapa pekan ke depan.Asap Berpotensi Menyeberang ke Malaysia, Singapura dan FilipinaPergerakan angin menjadi salah satu faktor penting dalam penyebaran kabut asap.Angin dari arah tenggara dan selatan diperkirakan membawa asap dari Kalimantan Barat menuju Sarawak bagian barat dan Filipina bagian tengah.Sementara itu, aliran angin barat daya berpotensi membawa asap dari Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura.Kondisi tersebut menjadikan kabut asap sebagai persoalan lintas batas. Asap yang berasal dari titik kebakaran di satu wilayah dapat memengaruhi kualitas udara negara lain ketika terbawa pola angin.Indonesia Kerahkan Pesawat dan Sekitar 1.000 PersonelUntuk menghadapi kebakaran yang meluas, otoritas Indonesia memperluas operasi pemadaman dengan mengerahkan pesawat dan sekitar 1.000 personel di wilayah Kalimantan dan Sumatra.Malaysia juga telah memperoleh izin melakukan penyemaian awan di sepanjang wilayah perbatasan bersama sebagai salah satu upaya membantu mengurangi kondisi kabut asap.Namun, upaya penyemaian awan menghadapi kendala karena ketersediaan awan hujan yang terbatas. IQAir menyebut kabut asap masih berpotensi muncul kembali sampai hujan yang berkelanjutan terjadi.Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Jadi Penyebab UtamaIQAir menyebut kualitas udara buruk di Asia Tenggara terutama disebabkan oleh asap lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia.Asap dengan tingkat sedang hingga pekat di Kalimantan Barat dan Sumatra bagian selatan kemudian terbawa angin menuju Malaysia, Singapura dan Filipina.Musim kemarau berkepanjangan yang diperparah oleh fase El Nino yang kuat membuat vegetasi dan lahan gambut menjadi semakin kering. Kondisi tersebut membuat lahan lebih mudah terbakar dan api lebih sulit dikendalikan.IQAir mencatat sekitar 70 persen hotspot di Kalimantan berada di dalam konsesi industri. Laporan tersebut juga menyebut sebagian besar kebakaran berkaitan dengan kelalaian maupun pembukaan lahan yang disengaja.Dalam penanganannya, otoritas telah menangkap 72 tersangka pelaku pembakaran, melakukan penyelidikan terhadap empat perusahaan, serta menjatuhkan sanksi administratif kepada 14 perusahaan lainnya.PM2.5 Menjadi Ancaman SeriusPersoalan lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya konsentrasi PM2.5 akibat terbatasnya curah hujan.Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Kebakaran lahan gambut juga memiliki karakteristik khusus karena api dapat terus membara di bawah permukaan tanah dalam waktu lama.Akibatnya, asap dapat bertahan dan menghasilkan polusi yang terus-menerus. IQAir memperingatkan bahwa asap dari kebakaran gambut dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah.Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar RuanganMenghadapi kondisi tersebut, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan.IQAir merekomendasikan masyarakat untuk:Membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan.Menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara memburuk.Mengatur sistem pendingin ruangan pada mode resirkulasi.Tetap berada di dalam ruangan ketika kualitas udara berada pada tingkat buruk.Jika harus keluar, menggunakan masker KN95 atau FFP2 yang terpasang dengan baik.Menggunakan pembersih udara berperforma tinggi di dalam ruangan.Memantau perkembangan kualitas udara secara real-time melalui aplikasi atau layanan pemantauan kualitas udara.Kondisi Diperkirakan Berangsur MembaikMeski situasi saat ini mengkhawatirkan, IQAir memperkirakan kualitas udara di Kuching akan membaik secara bertahap dalam beberapa hari berikutnya.Sementara itu, kualitas udara di Kuala Lumpur diprakirakan mencapai kategori sedang pada hari berikutnya.Namun, kondisi tersebut tetap sangat bergantung pada perkembangan kebakaran, arah angin serta datangnya hujan. Selama musim kering masih berlangsung, potensi munculnya kembali kabut asap tetap terbuka.Sumber: IQAir