Bungkas News

Hasil Pencarian untuk: "Bertanya"

Ditemukan 4 berita.

Utama

Workshop Character Building HIMMAH Kab.Tangerang Diikuti 130 Peserta, Jadi Ruang Kenali Diri dan Perkenalkan HIMMAH kepada Generasi Muda

Tangerang, Bungkasnews.com — Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PC HIMMAH) Kabupaten Tangerang sukses menyelenggarakan Workshop Character Building dengan tema “WHO AM I? Kenali Dirimu, Temukan Potensimu, Tentukan Arahmu”, Minggu (27/9/2026).Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Istighna, Islamic Village, Kabupaten Tangerang, tersebut diikuti sekitar 130 peserta yang berasal dari unsur mahasiswa dan pelajar tingkat SLTA. Kegiatan turut dihadiri oleh Dewan Penasehat PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Muhammad Nizam Harahap dan Ahmad Taufik Lubis, serta jajaran pengurus PC HIMMAH Kabupaten Tangerang.Workshop menghadirkan Muhammad Khairil sebagai pembicara. Kegiatan dikemas sebagai ruang pembelajaran dan refleksi bagi peserta untuk lebih mengenal karakter diri, menggali potensi, membangun kepercayaan diri, serta menentukan arah pengembangan diri.Perkenalkan HIMMAH kepada Mahasiswa, Pelajar, dan MasyarakatSelain menjadi kegiatan pengembangan karakter, workshop ini juga menjadi bagian dari upaya PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperkenalkan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) secara lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di wilayah Tangerang.Melalui kegiatan tersebut, HIMMAH berupaya membangun kedekatan dengan generasi muda sekaligus memperkenalkan organisasi sebagai ruang untuk pengembangan diri, kepemimpinan, intelektualitas, serta pengabdian kepada masyarakat.Kehadiran sekitar 130 peserta dari unsur mahasiswa dan pelajar SLTA menjadi momentum bagi PC HIMMAH Kabupaten Tangerang untuk memperluas silaturahmi dan membangun jejaring dengan generasi muda.Ketua PC HIMMAH Kabupaten Tangerang, Mhd. Nehru Lubis, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas keberadaan dan kontribusi HIMMAH di tengah masyarakat Tangerang.“Kegiatan ini menjadi momentum bagi kami untuk memperkenalkan HIMMAH lebih luas kepada mahasiswa, pelajar, dan masyarakat di Tangerang. Kami ingin HIMMAH tidak hanya dikenal sebagai organisasi mahasiswa, tetapi juga hadir sebagai ruang untuk belajar, berkembang, membangun kepemimpinan, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Nehru.Ia juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan dampak bagi para peserta.“Kami ingin peserta tidak hanya bertanya tentang apa yang ingin mereka capai, tetapi juga memahami siapa diri mereka, apa potensi yang mereka miliki, dan ke mana arah yang ingin mereka tuju. Karena mengenal diri adalah bagian penting dalam membangun karakter dan menentukan masa depan,” tambahnya.Sementara itu, Ketua Panitia, Rizky Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan dirancang secara interaktif agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses diskusi dan refleksi.“Kami ingin workshop ini menjadi ruang bagi peserta untuk berhenti sejenak, melihat kembali dirinya, mengenali kekuatan dan kekurangannya, kemudian menyusun langkah untuk berkembang. Antusiasme sekitar 130 peserta menjadi energi positif bagi kami sebagai panitia,” ungkap Rizky.Apresiasi untuk Sponsor, Mitra, dan Pihak PendukungPC HIMMAH Kabupaten Tangerang turut menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, mitra, serta pihak pendukung yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Workshop Character Building ini, di antaranya:Hj. Nurmiyah LubisHj. Hidayah Sya'banahH. Islam Akbar Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Ibu Ida Wardani Nasution (Pimpinan Yayasan Islamic Village)Smile Lovers BreadKetua PW HIMMAH BantenDukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dan pelajar SLTA dalam ruang pembelajaran dan pengembangan karakter.“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor dan pihak yang telah memberikan dukungan. Dukungan ini bukan hanya membantu terselenggaranya kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan memiliki arah,” ujar Nehru.Rizky Hidayat juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membersamai kegiatan tersebut.“Kami sangat mengapresiasi seluruh sponsor dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut dalam kegiatan-kegiatan positif berikutnya,” tutur Rizky.Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama. PC HIMMAH Kabupaten Tangerang berharap workshop tersebut dapat menjadi pintu awal bagi peserta untuk mengenal lebih dekat HIMMAH, menemukan potensi diri, membangun karakter, serta terdorong untuk mengambil peran positif di lingkungan pendidikan, organisasi, dan masyarakat.Melalui kegiatan ini, PC HIMMAH Kabupaten Tangerang juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang pembinaan dan kolaborasi bagi mahasiswa, pelajar, serta masyarakat di wilayah Tangerang.

28 Sep 2026
Opini

Tugas Kuliah Banyak, tetapi Apakah Kita Benar-Benar Belajar?

Oleh : RobiahPernahkah kita duduk di depan laptop pada malam hari, membuka satu per satu berkas tugas, lalu tiba-tiba bingung harus mulai dari mana? Satu tugas belum selesai, tugas lain sudah menunggu. Tenggat waktu datang hampir bersamaan. Waktu istirahat berkurang, waktu tidur dikorbankan, bahkan makan pun terkadang terlupakan. Pada akhirnya, yang ada di kepala bukan lagi, “Apa yang bisa saya pelajari dari tugas ini?”, melainkan, “Bagaimana caranya semua ini selesai sebelum tenggat waktu?”Begitulah rutinitas yang tidak asing bagi banyak mahasiswa, terutama ketika memasuki pertengahan semester. Makalah, presentasi, laporan mini riset, diskusi kelompok, hingga berbagai tugas lainnya hadir silih berganti. Masing-masing mungkin memiliki tujuan pembelajaran yang baik. Namun, ketika banyak tugas datang dalam waktu yang berdekatan, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk benar-benar menikmati proses belajar. Kesibukan akademik perlahan berubah menjadi perlombaan mengejar waktu.Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah banyaknya tugas selalu berarti banyaknya pembelajaran?Belajar seharusnya tidak berhenti pada menyelesaikan halaman, mengunggah berkas, atau mendapatkan tanda bahwa tugas telah dikumpulkan. Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, mencoba, melakukan kesalahan, kemudian menemukan pemahaman baru. Proses seperti itu membutuhkan waktu dan ruang untuk berpikir.Hal ini bukan sekadar perasaan yang dialami sebagian mahasiswa. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada 2023 menelaah 14 penelitian mengenai stres yang memengaruhi keberhasilan akademik mahasiswa pendidikan tinggi. Kajian tersebut menemukan bahwa stres mahasiswa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk faktor akademik, psikologis, perilaku, dan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman akademik mahasiswa tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kondisi stres yang mereka hadapi.Ketika beban akademik terasa terlalu padat, ruang tersebut dapat semakin sempit. Mahasiswa yang awalnya ingin membaca lebih banyak justru hanya membaca bagian yang dianggap penting untuk tugas. Yang seharusnya berdiskusi lebih dalam memilih mencari jawaban tercepat. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya mengerjakan tugas hingga larut malam bukan karena sedang tenggelam dalam keasyikan belajar, tetapi karena berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu.Dalam kondisi seperti itu, tujuan belajar bisa perlahan bergeser. Tugas yang semestinya menjadi sarana memahami materi berubah menjadi kewajiban yang harus dituntaskan. Bukan karena mahasiswa tidak ingin belajar, melainkan karena waktu, tenaga, dan perhatian harus dibagi kepada begitu banyak tuntutan dalam waktu yang bersamaan.Padahal, pendidikan tinggi bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang mampu diselesaikan. Ada hal yang jauh lebih penting: apa yang tersisa dalam diri mahasiswa setelah tugas itu selesai? Apakah pemahamannya bertambah? Apakah cara berpikirnya berkembang? Apakah ia menjadi lebih mampu menganalisis persoalan, menyampaikan gagasan, dan memecahkan masalah?Karena itu, tugas kuliah mungkin perlu dilihat bukan hanya dari jumlahnya, tetapi dari makna yang dibawanya. Tugas yang memberi kesempatan untuk mengamati persoalan nyata, berdiskusi, membuat proyek, melakukan penelitian sederhana, atau menemukan solusi dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi memahami mengapa tugas itu penting dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan di luar ruang kelas.Pada akhirnya, mahasiswa memang perlu belajar bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Namun, sistem pembelajaran juga perlu memberi ruang agar tanggung jawab tersebut tidak kehilangan makna. Sebab, mahasiswa bukan sekadar seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan semester. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas.Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya: setelah semua tugas ini selesai, apa yang benar-benar kita bawa pulang—tumpukan berkas yang telah dikumpulkan, atau pengetahuan yang benar-benar melekat dalam diri?

19 Sep 2026
Opini

Hidup Bukan Sekadar Menerima, Tapi Berani Bertanya

Bertanya Menghasilkan Inovasi, Kreativitas, dan Menciptakan SesuatuUBAY BAROKAH MRP | MahasiswaPernahkah kita bertanya, “Mengapa harus seperti ini?”, “Apakah ada cara yang lebih baik?”, atau bahkan “Bagaimana jika kita mencoba sesuatu yang berbeda?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sering kali menjadi awal dari sebuah perubahan besar.Bertanya bukan sekadar mencari jawaban. Bertanya adalah cara manusia membuka ruang berpikir. Ketika seseorang berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, ia sedang membuka kemungkinan untuk menemukan cara baru, gagasan baru, bahkan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada.Banyak inovasi lahir bukan karena seseorang sudah mengetahui semua jawabannya, tetapi karena ia berani mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum diketahui. Dari rasa ingin tahu itulah kreativitas tumbuh.Misalnya, ketika seseorang bertanya, “Mengapa pekerjaan ini harus dilakukan secara manual?”, pertanyaan tersebut dapat mendorong lahirnya teknologi yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Ketika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar masalah ini bisa diselesaikan?”, dari sana bisa muncul sebuah ide, produk, metode, atau gerakan sosial.Artinya, pertanyaan memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu yang awalnya dianggap biasa menjadi sesuatu yang lebih baik.Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, bertanya terkadang justru dianggap sebagai tanda tidak tahu atau kurang memahami. Padahal, tidak semua orang yang banyak bertanya adalah orang yang tidak tahu. Justru orang yang terus bertanya sering kali sedang berusaha memahami sesuatu secara lebih mendalam.Kita perlu membangun budaya yang tidak takut pada pertanyaan. Di ruang kelas, organisasi, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat, pertanyaan seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, pertanyaan harus menjadi pintu masuk bagi diskusi, evaluasi, inovasi, dan perubahan.Sebab, jika kita hanya menerima apa yang sudah ada tanpa pernah bertanya, kita mungkin hanya akan menjadi pengikut keadaan. Tetapi ketika kita berani bertanya, kita mulai memiliki kesempatan untuk menjadi pencipta perubahan.Pertanyaan adalah awal dari kreativitas. Kreativitas melahirkan gagasan. Gagasan melahirkan inovasi. Dan inovasi dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.Karena itu, jangan takut bertanya. Bisa jadi, pertanyaan sederhana yang hari ini muncul di dalam pikiran kita justru menjadi awal dari sesuatu yang besar di masa depan.

04 Sep 2026
Utama

Ahmad Doli Kurnia Tantang Mahasiswa UIN Jakarta: Jangan Sekadar Cari Jawaban, Berani Pertanyakan Masa Depan

Jakarta - Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengajak mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk tidak sekadar mengikuti arus dalam menentukan masa depan. Ia mendorong generasi muda berani mempertanyakan kembali siapa dirinya, apa yang ingin dicapai, dan kontribusi apa yang hendak diberikan kepada bangsa..Pesan tersebut disampaikan Ahmad Doli saat menghadiri kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (28/8/2026).Di hadapan para mahasiswa baru, Ahmad Doli mengajak mereka melakukan refleksi sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi. Menurutnya, masa depan tidak semestinya hanya dipandang sebagai pertanyaan tentang profesi atau pekerjaan yang ingin dijalani.“Saya ingin mengajak adik-adik semua berpikir ulang, menanyakan pada diri sendiri, adik-adik di masa depan mau jadi apa,” kata Ahmad Doli.Ia mengatakan, pertanyaan mengenai masa depan selama ini sering berhenti pada satu hal sederhana: ingin menjadi apa ketika dewasa. Padahal, menurut dia, perkembangan zaman membuat cara generasi muda memandang masa depan harus ikut berubah.Ahmad Doli mencontohkan perubahan cara pandang di negara-negara maju yang mulai menggeser pertanyaan kepada anak-anak sekolah. Bukan lagi semata-mata tentang profesi yang ingin mereka sandang, tetapi mengenai bagaimana mereka melihat masa depan dan menentukan peran dalam kehidupan.Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak menjadikan bangku kuliah sekadar tempat mengejar gelar. Perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membentuk cara berpikir, keberanian menyampaikan gagasan, sekaligus mempertajam kepekaan terhadap persoalan masyarakat.Bagi Ahmad Doli, idealisme dan daya kritis menjadi dua hal yang tidak boleh hilang dari diri mahasiswa.“Saya berpesan kepada adik-adik, tetap jaga idealismenya dan jaga daya kritisnya,” tegasnya.Pesan itu menjadi penting di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Mahasiswa, kata dia, harus mampu menjadi generasi yang tidak mudah menerima segala sesuatu begitu saja, tetapi berani bertanya, menguji informasi, dan mencari kebenaran dengan cara berpikir yang matang.Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga anak muda yang memiliki keberanian untuk berpikir dan menentukan sikap.Dari ruang PBAK, Ahmad Doli seolah ingin menitipkan satu pesan sederhana kepada mahasiswa baru: jangan buru-buru mencari jawaban tentang akan menjadi siapa. Mulailah dengan berani bertanya kepada diri sendiri, untuk apa ilmu yang sedang ditempuh dan untuk siapa masa depan itu akan diperjuangkan.

30 Aug 2026