Bungkas News
Opini

30 September: Ketika Sejarah Menjadi Cermin Bangsa

Oleh: rizky 30 Sep 2026, 20:58 WIB
30 September: Ketika Sejarah Menjadi Cermin Bangsa
Muhammad Nehru Lubis (Foto: Dok.Istimewa)

Sejarah tidak hanya berbicara tentang tanggal, nama, dan peristiwa. Sejarah adalah cermin yang mengajak kita melihat kembali perjalanan bangsa, termasuk luka dan konflik yang pernah terjadi di dalamnya.

Malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 menjadi salah satu episode penting dan tragis dalam sejarah Indonesia. Sejumlah perwira TNI menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan. Salah satunya adalah Jenderal Abdul Haris Nasution. Ia berhasil menyelamatkan diri dari upaya penangkapan di kediamannya. Namun, peristiwa tersebut menewaskan putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, serta ajudannya, Pierre Andreas Tendean.

Enam dekade telah berlalu. Generasi terus berganti, tetapi sejarah tetap menyimpan pertanyaan yang penting untuk direnungkan: apa yang dapat kita pelajari dari sebuah bangsa yang pernah mengalami konflik politik begitu tajam?

Perbedaan pandangan, ideologi, dan kepentingan merupakan bagian dari kehidupan berbangsa. Namun, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan nilai kemanusiaan. Ketika konflik tidak lagi diselesaikan melalui dialog dan cara-cara yang damai, dampaknya dapat melampaui kepentingan politik dan meninggalkan luka bagi banyak orang.

Karena itu, memperingati 30 September bukan sekadar mengingat kembali siapa yang menjadi korban atau bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Lebih dari itu, momentum ini dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya persatuan, menghargai perbedaan, menjaga kemanusiaan, serta menyelesaikan persoalan melalui jalan yang damai dan konstitusional.

Kita tidak dapat mengubah sejarah yang telah berlalu. Namun, kita dapat menentukan bagaimana sejarah itu membentuk cara kita memandang masa depan.

Sejarah adalah cermin. Jangan hanya melihat masa lalu di dalamnya, tetapi lihat pula siapa diri kita hari ini dan bangsa seperti apa yang ingin kita bangun esok hari.

Jangan biarkan sejarah hanya menjadi hafalan. Jadikan ia kesadaran.

Penulis: Mhd. Nehru Lubis